Paket SOP Toko Retail Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Toko Retail Modern.

Key Performance Indicator (KPI)

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : Key Performance Indicator (KPI).

Konsultan SOP Perusahaan

Master SOP adalah Konsultan SOP dan Sistem Bisnis untuk bisnis yang Autopilot.

Paket SOP Garmen / Konveksi

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Garmen / Konveksi.

Paket SOP Resto Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Resto Modern.

Monday, 10 January 2011

Susunan Pengurus MUI Bali: 2010 – 2015

SUSUNAN PENGURUS MAJELIS ULAMA INDONESIA
PROVINSI BALI MASA KHIDMAT 2010 - 2015
SURAT KEPUTUSAN MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor: Kep-480/MUI/IX/2010
TANGGAL 11 SYAWAL 1431 H/20 SEPTEMBER 2010


DEWAN PENASIHAT:
Ketua:
H.A. Hasan Ali
Anggota:
H. Roichan Muchlis
H. Sunhaji Rofi’i
K.H. Nurhadi
Hj. Ari Murti
H. Rully Soripada
Drs. H. Achmad Sastra, M.Pd.
Hj. Entin Mulyono, MA.
H.M. Zainuddin, BA.
Drs. H. Abdul Wahab
H. HS. Soepriyanto
Ir. H. Maman Supratman
Zainal Arifin
H. Abdurrahman Alawi
H. Muslim, AR.

PENGURUS HARIAN:
Ketua Umum:
H.M. Taufik As’adi, S.Ag.
Ketua:
Drs. H. Mahrusun Hadiono, MA
Drs. Ketut Imaduddin Jamal, SH, MH.
Drs. H. Moh. Sholeh, M.PdI.
H. Sigit Sunaryanto, SE.
Drs. H. Wayan Syamsul Bahri, M.PdI.
Hj. Yunisia, SH., MH.

Sekretaris Umum:
Ir. Yusar Hilmi
Sekretaris:
Drs. H. Barhiman
Jamaluddin, S.Ag., MA.
Drs. Ariful Akmal, M.Hum.
Hj. Ary Bram
Bambang Santoso, S.Pd.

Bendahara Umum:
H. Ekky Cules, SE.
Bendahara:
Drs. H. Mahfudh, MA
Hj. Z. Nur Indahwati, SH.

KOMISI-KOMISI:

Komisi Ukhuwah dan Kerukunan
Koordinator:
H. Zainal Sania
Anggota:
H. Eddy Faizal, SH.
Hj. Dewi Sinaryati, SE.
Ir. Hj. Farida Hanum
H. Mastulin
Hamsun Imtihan, S.Hi.

KOMISI EKONOMI SYARI’AH DAN PENGEMBANGAN HARTA AGAMA
Koordinator :
H. Masrur Makmur

SUB KOMISI EKONOMI SYARI’AH
Koordinator:
Hari Sumarno, SE
Anggota:
M. Prasha Siswanto, SE., MM.
H. Ervian El-Jufri, SE.
Firman
Hasbi
Ir. H. Roni

SUB KOMISI PENGEMBANGAN HARTA AGAMA
Koordinator:
Akh. Alim Mahdi
Anggota:
H. Khoiruddin, S.Pd.I.
Maryati, SE.
Sugeng Tri Haryono
Teguh Ismanto Hadi, ST.
H. Pinto Wahyudi

KOMISI HUKUM, HAM, KETAHANAN KELUARGA DAN BINA REMAJA
Koordinator:
Bambang Triyanto, SH.

SUB KOMISI HUKUM DAN HAM
Koordinator:
H.A. Kadir Makaramah, SH, MH.
Anggota:
H. Zulfikar Ramly, SH., MH.
Agus Samijaya, SH., MH.
Muhammad Nuh, SH.
Santi Maria Ulfa, SH.

SUB KOMISI KETAHANAN KELUARGA DAN BINA REMAJA
Koordinator:
Dra. Lasilatul Arafah, M.H.
Anggota:
Soeyono, B.Sc.
Gunawan
Dra. Hj. Rahmani, MA.
Agus Salim

KOMISI FATWA DAN KADERISASI ULAMA
Koordinator:
Fauzi Basultana, Lc., M.Pd.I.
Anggota:
H. Hasan Basri, SE., MBA.
Drs. H. Ahmad Qosim, M.Pd.I.
Drs. H.M. Ishaq, MH.
Muhammad Anas
Akhyar
Saknan, Lc.

KOMISI PENGEMBANGAN MASYARAKAT BERBASIS MASJID
Koordinator:
Muhammad Ismail Lahji, Lc.
Anggota:
H. Isro’i, S.Ag., M.Pd.I
Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I
Drs. H. Mawardi, S.Pd.I
Amin Ja’far
H. Jayus, SE.

KOMISI DAKWAH, TARBIYAH DAN HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA
Koordinator:
H. Abdullah Ihsan
Anggota:
H. Husein Ismail
H. Anwar, Lc.
M. Khoirun, S.Sos.
Eko Sri Gunawan Sulyantoro, S.Ag, M.Si.
Drs. H. Sunarto, M.Pd.I

KOMISI PANGAN, KESEHATAN DAN PERENCANAAN KELUARGA
Koordinator:
Drs. H. Nurkhamid, MED.
Anggota:
Ir. H. Hendy Gundo Wibowo
Ir. Taqwalin
dr. Dian Made Dharmawan
dr. Sudarman

KOMISI MEDIA DAN TEKNOLOGI INFORMASI
Koordinator:
Drs. Wahid Yuniarto
Anggota:
Drs. H. Kusnadi Mustofa
Drs. Lahmuddin, M.Pd.I.
Hanafi, S.TP.
Syamsuddin Nur Kelilau
Aida Fitriana, S.Ag., M.Pd.

KOMISI PARIWISATA, LINGKUNGAN HIDUP DAN BUDAYA
Koordinator:
Ir. Suprio Guntoro

SUB KOMISI LINGKUNGAN HIDUP
Koordinator:
Ir. Suprio Guntoro
Anggota:
Ir. Shaleh Purwanto
Widodo, SS.
Lili Anita Baliani, SP. MM.

SUB KOMISI PARIWISATA DAN BUDAYA
Koordinator:
Drs. H. Ismoyo Sumarlan
Anggota:
Drs. Padani
H.M. Shaleh, BS.
Ir. Hj. Indah Juanita, MM.
Gunawan Indro Purnomo, ST.
Mahmudi

Susunan Pengurus MUI Provinsi Bali masa Khidmat 2010 – 2015 ini ditetapkan di Jakarta, tanggal 11 Syawal 1431 H/20 September 2010, Ditandatangani oleh Ketua Umum MUI, Dr. K.H. M.A. Sahal Mahfudh dan Sekretaris Jenderal MUI, Drs. H.M. Ichwam Sam.
.::.

Friday, 24 December 2010

Rahasia di Balik Obat Semprot Pada Pemain Bola

Para penggemar sepakbola tentu sering menyaksikan pemain yang cedera mendapat semprotan obat. Lalu, beberapa saat kemudian pemain itu sudah bisa berlari kembali mengejar bola. Sebenarnya sehebat apa sih obat spray itu?
Semprotan biasanya diberikan pada mata kaki, Achilles, tulang kering, lutut yang baru saja terkilir.
“Obat semprot itu merupakan chlor etil, bahan kimia yang pada saat bersentuhan dengan kulit menimbulkan reaksi dingin. Rasa dingin itu dipakai sebagai pereda sakit, namun sebenarnya juga berfungsi untuk menghentikan perdarahan,”

Kadang-kadang, obat semprot itu manjur seperti bayamnya Popeye, kadang-kadang hanya berfungi sebagai pengobatan sementara sebelum si pemain diangkut dengan stretcher, tetapi sejauh ini, obat semprot ini adalah andalan utama dalam pengobatan kilat di lapangan.

Jadi, apakah obat semprot chlor etil itu?

Well, seperti yang dijelaskan Slate’s piece on the matter pada tahun 2006, sebenarnya ada beberapa “obat semprot ajaib” yang digunakan, tergantung masalah dan situasinya.

Mereka boleh jadi menggunakan air dingin, misalnya, untuk mendinginkan seorang atlit yang overheated. Atau boleh jadi mereka menyemprotkan sebuah abrasi dengan sebuah larutan benzoin sehingga mereka bisa menempelkan perban pada kulit yang berkeringat. Kuat dugaan sebagian obat semprot kaleng itu mengandung “pendingin kulit,” zat kimia seperti ethyl chloride yang berfungsi mendinginkan dan meredam permukaan kulit ketika terjadi kontak.

Pendingin kulit mempunyai fungsi sebagai alat bius singkat yang bisa, secara sementara, meredam rasa sakit yang timbul akibat stud marks pada mata kaki, atau, paling tidak, membuat si pemain berpikir bahwa obat itu berguna. Dan, ketika obat itu tidak mampu untuk mengatasi cedera serius seperti, katakanlah, cedera ligamen pada lutut atau cedera akibat tembakan bola keras ke dada, kiranya pertolongan yang sementara itu cukup berguna untuk membawa sang pemain kembali ke lapangan.

Tentu saja, ketika terjadi cedera parah seperti itu, obat semprot tersebut tidak lagi tampak ajaib, melainkan hanya sekedar obat semprot biasa.

Menurut dr.Michael, penggunaan chlor etil merupakan bagian dari penanganan cedera yang disebut RICE (Rest, Ice, Compression dan Elevation). “Ice atau kompres dingin hanyalah salah satu faktor karena sifatnya urgent. Setelah pertandingan, tiga faktor lainnya dilakukan, yakni pemain harus beristirahat, bagian yang cedera dibebat dan menaikkan bagian tubuh yang cedera lebih tinggi untuk mengurangi nyeri dan bengkak,” katanya.

Pada atlet, penanganan cedera juga ditambah dengan obat-obatan, fisioterapi, serta sport teraphy untuk penguatan otot-otot dan peregangan agar ototnya kembali lentur.
(dari berbagai sumber)
.::.

Saturday, 18 December 2010

Apakah Masih Ada Manfaatnya?

“Seminar ini tidak mengubah apa-apa”, kata seorang wanita peserta Seminar Nasional yang digelar Lemhannas RI tadi pagi (09/12/2010). “Ada, walaupun sedikit”, jawab Kombes Pol Suko Raharjo yang menjadi mitra bicaranya.
Saya sering mendengar ungkapan seperti itu. Ungkapan keputusasaan, kegelisahan, kekecewaan, dan tiada harapan.

John Rambo pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada rombongan misionaris gereja di bawah pimpinan Michael Burnet dan Sarah Miller, yang akan berangkat ke Myanmar. “Kamu tidak akan mengubah apapun”, kata Rambo. Namun para misionaris tetap berkeyakinan ada yang bisa mereka perbuat di Myanmar. Tapi ini terjadi di film Rambo IV.

Dalam kehidupan keseharian di tanah air kita, terlalu banyak kekecewaan dan keputusasaan masyarakat menghadapi realitas yang sulit berubah. Sikap apatis muncul dari kondisi seperti ini, sehingga banyak corak praktis dan pragmatis yang mewarnai pola hidup masyarakat. Dalam Pemilihan Umum untuk Anggota Legislatif misalnya, banyak masyarakat memilih berdasarkan transaksi praktis, karena mereka sudah tidak percaya bahwa akan ada perubahan mendasar. Siapapun yang menjadi anggota legislatif, hasilnya sama saja. Itu cara berpikir mereka.

Demikian pula dalam Pemilu Kepala Daerah (Pemilukada) yang bersifat langsung, terjadi pula sifat transaksional yang pragmatis. Sebagian masyarakat percaya, siapapun yang terpilih, tidak akan membawa perubahan yang signifikan. Maka, cara memilih berdasarkan kepentingan pragmatis, siapa yang memberi kemanfaatan paling banyak dan paling dirasakan menjelang masuk bilik TPS, itulah calon yang akan dipilih.

Sesungguhnya semua orang percaya, kalau setiap warga negara Indonesia baik tua maupun muda, besar maupun kecil, membawa satu sendok madu untuk dikumpulkan di Gedung Olah Raga Senayan, maka akan terkumpul 237.556.363 sendok madu. Semua orang percaya, kalau setiap warga negara Indonesia menyerahkan uang Rp. 100 (seratus Rupiah) kepada Panitia Pembangunan Rumah Korban Merapi dan Mentawai, maka akan terkumpul Rp. 23.755.636.300 atau duapuluh tiga milyar tujuhratus limapuluh lima juta enamratus tigapuluh enam ribu tigaratus rupiah.

Banyak masyarakat kita tidak percaya kepada hal yang kecil dan sederhana. Mereka tidak percaya kalau uang seratus rupiah yang mereka sumbangkan bisa menghasilkan akumulasi hampir 24 milyar rupiah, yang apabila disumbangkan untuk membangun rumah layak huni bagi korban Merapi atau Mentawai, akan bisa membangun 1.000 rumah seharga Rp. 24.000.000 per rumahnya. Ini lebih layak dari rumah yang dibangun oleh Pemerintah untuk korban gempa Jogja tahun 2006 yang nilainya Rp. 15.000.000 per rumahnya. Bukankah di rumah kita uang seratus rupiah dianggap sebagai pecahan yang tak ada nilainya ?

Sebuah nilai bisa terdiri dari dirinya sendiri yang memang telah bernilai, atau terdiri dari kumpulan berbagai bagian yang kurang bernilai. Kalau dalam dunia hadits, kita mengenal istilah hadits sahih lidzatihi dan sahih lighairihi, atau hadits hasan lidzatihi dan hasan lighairihi. Sahih karena dirinya sendiri, atau sahih karena banyaknya hadits serupa yang nilainya hasan. Tumpukan pasir bahan bangunan yang menjulang menyerupai gunung adalah kumpulan dari butir-butir pasir yang sangat kecil. Sering kali kita baru menghargai pasir ketika sudah satu truk, atau ketika sudah tampak menggunung.

Saya teringat teman lama, Ahmad Ghanzali, semoga Allah merahmatimu dimanapun kini kau berada. Dia seorang aktivis Jamaah Tabligh, yang semenjak masa kuliah di UGM dulu, sekitar kurun waktu tahun 1987 – 1990 dia sangat aktif menjalankan aktivitas dakwah. Ada ungkapan penuh keyakinan yang sering dia ceritakan kepada saya, “Kalau orang kita ajak ke masjid belum mau, ajak lagi lain kali. Jika belum mau juga, ajak lagi lain kali. Jika belum mau juga, ajak lagi, dan seterusnya. Nanti lama-lama ia akan mau ke masjid”. Ia yakin, perubahan adalah buah dari konsistensi, buah dari kesungguhan, buah dari ketekunan, buah dari keterusmenerusan.

Saat saya mengajar di Pesantren Darush Shalihat Yogyakarta pekan kemarin, ibu Nyai Pesantren bertanya kepada saya, “Bagaimana cara menumbuhkan kepekaan sosial kepada santriwati ? Berbagai usaha sudah saya lakukan tetapi belum ada hasilnya”. Saya menjawab singkat, “Tidak ada yang sia-sia dari proses pembinaan yang kita lakukan. Semua pasti memiliki pengaruh, mungkin bukan sekarang, namun suatu saat nanti baru kelihatan hasilnya”.

Kita ingin melihat uang duapuluh empat milyar rupiah itu sekarang, karena kita sudah tidak bisa menghargai proses dan waktu lagi. Kita tidak percaya bahwa uang recehan seratus rupiah itu ada manfaatnya. Kita ingin melihat pasir itu menumpuk bak gunung, baru kita percaya bahwa memang ada manfaatnya untuk membangun rumah dan bangunan tinggi. Kita tidak percaya bahwa satu butir pasir ada manfaatnya. Kita selalu ingin melihat lautan lepas yang dipenuhi air laut, karena kita tidak lagi menghargai bahwa air laut itu kumpulan dari partikel-partikel H2O.

Kita ingin melihat Indonesia berubah sekarang, menjadi baik sekarang, bebas korupsi sekarang, menjadi negara kuat dan maju sekarang, mandiri sekarang. Ya, sekarang. Bukan besok, bukan lusa. Kita sulit menghargai proses, bahwa hal-hal yang besar bisa dimulai dari yang kecil. “Saya cuma menebang satu pohon”, kata seorang warga saat diingatkan banjir bandang itu datang karena gunung yang gundul lantaran penebangan liar. Dia merasa tidak bertanggung jawab atas banjir yang datang, karena “bagaimana mungkin menebang satu pohon bisa mendatangkan banjir?”

“Saya cuma membuang satu keranjang sampah setiap hari”, kata seorang ibu rumah tangga saat diingatkan agar tidak membuang sampah ke sungai, karena banjir itu muncul dari aliran sungai yang dipenuhi sampah. Ia tidak merasa bertanggung jawab atas munculnya banjir di wilayah kampungnya, karena “bagaimana mungkin satu keranjang sampah bisa menyumbat aliran sungai?”

“Apakah kalau saya baik, Indonesia akan baik ?” Pertanyaan ini kurang lebih sama nilainya dengan, “Apakah kalau saya rusak, Indonesia akan rusak?” Kita sering lupa, penduduk Indonesia itu terdiri dari 237.556.363 “saya”.

“Apakah kalau saya tertib dan sopan di jalan, kondisi lalu lintas akan aman?” Pertanyaan ini mirip dengan, “Apakah kalau saya ugal-ugalan di jalan, lalu lintas akan kacau?” Kita sering lupa, bahwa keramaian jalan raya itu adalah kumpulan dari banyak “saya”.

“Apakah kalau saya jujur dan bersih, korupsi bisa hilang dari Indonesia?” Pertanyaan ini kurang lebih juga sama jawabannya dengan, “Apakah kalau saya korup, Indonesia akan menjadi negara terkorup?” Kita sering lupa, bahwa birokrasi dan lembaga negara itu adalah kumpulan dari para “saya”.

Masyarakat kita telah digilas oleh budaya instan, semua pengin terjadi secara cepat tanpa proses. Teman ronda saya di kampung, Pak Narno, sering meledek orang yang tidak merokok. “Katanya kalau berhenti merokok, dalam waktu dua tahun akan bisa membeli sepeda motor. Buktinya, orang-orang kampung yang tidak merokok itu juga tidak punya sepeda motor”. Teman saya itu tidak percaya proses, dia hanya ingin melihat hasil tanpa proses.

Apakah pendidikan yang kita lakukan tidak ada manfaatnya ? Terlalu pesimistik dan vatalistik pertanyaan seperti itu. Kita ingin melihat anak didik yang baik sekarang, tanpa harus sekolah. Tanpa harus diingatkan, tanpa harus dinasehati, tanpa harus diluruskan. Atau, kita ingin setiap nasihat langsung diikuti, setiap ajakan kepada kebaikan langsung dilaksanakan, semua larangan langsung dihindari. Tanpa proses, tanpa jeda waktu, karena kita ingin melihat kebaikan itu sekarang. Sungguh, kita sudah sulit menghargai proses dan waktu.

Apakah nasihat tidak ada lagi manfaatnya ? Apakah seminar sudah tidak memberikan makna ? Apakah tulisan sudah tidak ada artinya ? Apakah penataran sudah tidak ada fungsinya ? Apakah khutbah sudah tidak ada gunanya ? Apakah kuliah sudah tidak ada pengaruhnya ? Apakah aturan dan undang-undang sudah tidak ada tempatnya ? Apakah semua usaha itu pasti sia-sia ?

Berkacalah kita kepada Nabi Mulia, Muhammad Saw. Saat beliau dimusuhi oleh masyarakat Thaif yang mengusir beliau, malaikat datang menawarkan sebuah alternatif untuk menghancurkan orang-orang Thaif yang durhaka. Namun dengan arif beliau menolak tawaran itu, “Bahkan saya berharap, dari Thaif ini kelak lahir generasi yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya”. Demikian yang dikutip oleh Munawar Khalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi.

Ajakan beliau kepada kebaikan ditolak mentah-mentah oleh penduduk Thaif. Apakah ajakan itu tidak ada gunanya ? Pasti berguna. Nyatanya telah muncul generasi yang beriman dari Thaif, buah dari usaha dan doa beliau. Kita ingat pula kisah Maryam yang lemah saat melahirkan.

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan” (Maryam : 23).

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu” (Maryam : 24).

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (Maryam : 25).

Dalam kondisi lemah karena melahirkan, adakah gunanya menggoyang pangkal pohon korma yang sangat kokoh itu ? Sepuluh orang lelaki perkasa akan kesulitan menggoyang pangkal pohon korma agar terjatuh buahnya, bagaimana dengan seorang perempuan yang tengah dalam kondisi lemah ? Apakah ada gunanya usaha itu ? Pasti ada. Dengan usaha itu, ada “alasan” bagi Allah untuk menolong Maryam.

Sangat banyak kegunaan dan kemanfaatan dari setiap bentuk usaha kita menuju kebaikan. Batu yang keras bisa terkikis oleh tetes air yang konsisten. Hati yang keras bisa dilembutkan oleh nasihat yang kontinyu. Pikiran yang kotor bisa bersih oleh penyadaran yang berkelanjutan. Jiwa yang lusuh kusut bisa bangkit oleh sentuhan yang mengena.

Saya selalu memiliki keyakinan, tidak ada usaha kebaikan kita yang sia-sia. Bahkan seandainya kita tidak melihat hasil usaha itu di dunia, Allah akan menghargai dengan sangat pantas semua usaha kita di hadapan-Nya. Teringat nasihat Tutor Pembimbing kepada rekan pendidikan di Lemhannas, mas Andi Zaenal Dulung, “Kalau nilai Taskap-mu ini jelek saat ujian, saya yakin nilai kamu di hadapan Allah sangat baik”. Taskap adalah Kertas Karya Perorangan, sebagai tugas akhir pendidikan sembilan setengah bulan di Lemhannas. Sang Tutor yakin, isi Taskap mas Andi mengajak kepada kebaikan, maka pasti Allah akan memberikan nilai yang baik.

Inilah keyakinan saya. Tak ada yang sia-sia, tak akan merugi, semua usaha kita melakukan perbaikan dan kebaikan, selalu ada manfaatnya. Selalu ada hasilnya, di masa sekarang, atau di masa yang akan datang. Di dunia, atau nanti di surga. Fahal jaza-ul ihsan illal ihsan…….

Maka, teruslah bekerja, teruslah berkarya, hingga akhir usia.

Pancoran Barat, 9 Desember 2010
.::.
Oleh : Cahyadi Takariawan

Thursday, 16 December 2010

Kecewa adalah Tanda Cinta

“Orang-orang partai politik itu mudah kecewa. Begitu keinginannya tidak terpenuhi, lalu keluar dari partainya dan membuat partai baru”, kata seorang teman kuliah di Lemhannas berapi-api. Aku hanya mengatakan, “Tergantung partainya, dan tergantung orangnya”. Dia terus saja mengomel tentang jeleknya orang-orang parpol, dan jawabanku pun tetap sama.

Ini soal perasaan kecewa. Sesungguhnyalah kecewa muncul karena adanya harapan yang tidak kesampaian. Ada harapan yang ditanam, dan ternyata tidak didapatkan dalam kenyataan. Inilah yang menyebabkan muncul kekecewaan. Jarak yang terbentang antara harapan dengan kenyataan itulah ukuran besarnya kekecewaan. Semakin lebar jarak yang terbentang, semakin besar pula kekecewaan. Oleh karena itu, kecewa itu ada di mana-mana, di lingkungan apa saja, di dunia mana saja, selalu ada kecewa.

Mari kita mulai dari yang paling kecil dan sederhana. Kadang kita kecewa dengan diri kita sendiri. “Mengapa saya tidak begini, mengapa saya tidak begitu”, adalah contoh kekecewaan yang kita alamatkan kepada keputusan kita sendiri yang telah terjadi. Kita menyesal di kemudian hari.

Dalam kehidupan rumah tangga yang isinya hanya dua orang saja, yaitu suami dan isteri, bisa muncul kekecewaan. Suami kecewa kepada isteri, dan isteri kecewa kepada suami. Hidup berdua saja bisa menimbulkan kecewa, apalagi kehidupan organisasi atau negara. Jika di dalam rumah tangga mulai ada anak-anak, kekecewaan bisa bertambah luas. Anak kecewa dengan sikap orang tuanya, dan orang tua kecewa dengan kelakuan anaknya. Satu anak dengan anak lainnya juga bisa saling kecewa mengecewakan.

Satu keluarga bisa kecewa atas perbuatan keluarga lainnya dalam sebuah lingkungan tempat tinggal. Satu desa bisa kecewa dengan desa lainnya dalam satu kecamatan. Indonesia sangat kecewa dengan sikap Amerika yang arogan, kecewa dengan sikap Israel yang merampas hak warga sipil Palestina secara semena-mena. Sebagaimana Amerika kecewa dengan Indonesia karena kurang akomodatif dengan kebijakan Amerika. Israel kecewa dengan Indonesia karena tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Jamaah sebuah masjid bisa kecewa dengan sikap imam masjid, sebagaimana imam masjid bisa kecewa dengan kondisi jamaah. Masyarakat gereja bisa kecewa terhadap pendeta sebagaimana pendeta bisa kecewa terhadap keadaan jemaatnya. Suporter sepak bola sering kecewa terhadap tim yang dibelanya, sebagaimana pemain sepak bola sering kecewa kepada sikap para suporter.

TNI bisa kecewa terhadap kebijakan dan sikap Polri sebagaimana Polri bisa kecewa terhadap TNI. Angkatan Darat bisa kecewa terhadap Angkatan Laut dan Udara, sebagaimana Angkatan Laut bisa kecewa terhadap Angkatan Darat dan Udara, atau Angkatan Udara kecewa terhadap Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Di Angkatan Darat, seorang komandan bisa kecewa terhadap anak buahnya, sebagaimana anak buah bisa kecewa kepada komandannya.

Dalam gerakan dakwah, seorang kader bisa kecewa kepada pemimpin, sebagaimana pemimpin bisa kecewa atas sikap para kader. Seorang kader PKS menyampaikan pesan lewat SMS kepada saya, yang isinya mengatakan sangat kecewa dengan PKS dan akan keluar serta bergabung dengan sebuah gerakan dakwah tertentu, sebut saja gerakan G. Saya menjawab dengan dua kali jawaban. Pertama, bahwa hak masuk dan keluar dari PKS adalah di tangan anda sendiri, tak ada yang boleh memaksa. Kedua, kalau anda keluar dari PKS karena kecewa dan akan bergabung dengan gerakan dakwah G, maka ketahuilah bahwa gerakan G itu juga pernah mengecewakan anggotanya. Ada banyak orang kecewa dari gerakan G dan berpindah ke gerakan yang lainnya. Di setiap gerakan dakwah, selalu ada orang yang kecewa dan meninggalkan gerakan dakwah itu. Selalu.

Sepanjang sejarah kemanusiaan paska masa kenabian, tidak ada satupun organisasi yang tidak pernah mengecewakan anggotanya. Semua organisasi, semua gerakan, semua harakah pernah mengecewakan anggotanya. Selalu ada anggota organisasi atau anggota gerakan yang kecewa dan terluka. Selalu.

Ini bukan soal benar atau salahnya kondisi tersebut. Ini hanya potret sesungguhnya, begitulah kenyataan yang ada. Cobalah sebut satu saja contoh organisasi, ormas, gerakan dakwah, instansi, atau apapun. Pasti ada riwayat pernah ada anggota atau pengurus yang kecewa. Kalau tidak ada yang pernah dikecewakan, berarti organisasi tersebut belum pernah beraktiviktas nyata.

Bahkan organisasi yang dibuat dari kumpulan orang kecewa, pasti pernah mengecewakan anggotanya pula. Misalnya sekelompok orang kecewa dengan kebijakan organisasi A, lalu mereka menyingkir dan berkumpul. Mereka bersepakat, “Kita berkumpul di sini karena dikecewakan para pemimpin kita. Sekarang kita himpun potensi kita, dan kita berjanji untuk tidak saling mengcewakan lagi. Jangan ada yang dikecewakan disini”. Tatkala mereka sudah eksis sebagai organisasi, maka pasti ada yang kecewa di antara mereka.

Mereka tidak tahu, bahwa kecewa itu tanda cinta. Kalau tidak cinta, tidak mungkin kecewa. Karena cinta, maka muncullah berbagai harapan kita. Setelah harapan tertanam, ternyata apa yang kita lihat dan kita alami tidak seperti yang diharapkan. Maka muncullah kecewa.

Mengapa beberapa orang parpol yang kecewa lalu membuat parpol baru lagi ? Karena boleh menurut Undang-undang. Coba kalau Undang-undang membolehkan membuat TNI baru, atau Polri baru, atau Mahkamah Agung baru, atau DPR baru, pasti sudah banyak orang membuat dari dulu. Banyak orang kecewa dengan TNI, banyak orang kecewa dengan Polri, banyak orang kecewa dengan Mahkamah Agung, banyak orang kecewa dengan DPR, banyak orang kecewa dengan Presiden dan Wakil Presiden, banyak orang kecewa dengan Menteri, banyak orang kecewa dengan Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, Ketua RW atau Ketua RT.

Jadi, kecewa itu ada dimana-mana, karena cinta ada dimana-mana, karena harapan ada dimana-mana. Namun muncul pertanyaan, pantaskah kita tidak berani memiliki harapan karena takut dikecewakan ? Jawabannya jelas, tidak pantas !

Karena harapan itulah yang membuat kita bersemangat, karena harapan itulah yang membuat kita bekerja, karena harapan itulah yang membuat kita selalu berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik, bahkan karena harapan itu pula yang membuat kita ada. Jangan takut memiliki harapan masuk surga. Jangan takut memiliki harapan Indonesia yang makmur dan sejahtera. Jangan takut memiliki harapan Indonesia menjadi negara paling adil dan paling maju di seluruh dunia.

So, teruslah memiliki dan memupuk harapan. Teruslah bekerja, teruslah berkarya, hingga akhir usia. Jangan takut kecewa.

Pancoran Barat 30 Nopember 2010 (Cahyadi-takariawan)
.::.

Wednesday, 15 December 2010

Berhenti Berarti Mati

Oleh: Ustadz Abdul Muiz
Anas bin Malik mengatakan tentang Abdullah bin Ummi Maktum yang secara kondisi fisik buta. Tapi pada perang Yarmuk, Abdullah bin Ummi Maktum hadir di tengah para mujahidin di medan perang, memakai baju besi, memegang bendera. Anas bin Malik bertanya, wahai Abdullah bin Ummi Maktum, bukankah Rasulullah saw telah memberi udzur kepadamu? Ia menjawab, “Ya betul, memang dalam Al Quran telah diberikan udzur kepada orang buta. Tetapi saya menginginkan dengan kehadiran saya di sini, di medan perang, paling tidak dapat menambah jumlah tentara Islam.”

Diceritakan lagi ketika tentara Holagu masuk ke kota Baghdad, terdapat seorang ulama yang juga buta. Dia menghadang tentara dengan mengayunkan pedang ke kanan dan ke kiri barangkali ada musuh yang kena. Secara logika, apa yang bisa dilakukan oleh orang yang dalam kondisi seperti itu? Barangkali kalau dia duduk di rumah dia tidak dosa dan tidak ada pertanggung jawabannya di sisi Allah. Tapi masalahnya, ia ingin berkontribusi, ingin aktif.

Kisah kisah semacam ini banyak dalam kisah tabiin. Yang kita inginkan dalam tarbiyah adalah para kader dakwah seperti itu. Meskipun sudah udzur tetap saja bersemangat berjuang, berjuang, berjuang. Kendala fisik, materi, kondisi ekonomi, minimnya sarana, dan kendala-kendala duniawi lain bukanlah halangan manakala iman sudah tertanam kuat di dada.

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hambal ditanya muridnya, “mataa yajidul abdu tha’marrahah?” "kapan seseorang bisa beristirahat?” Ia menjawab, “Indamaa yatha’u ihda qadamaihi fil jannah” (“Jika kita telah menginjakkan kaki di Surga, maka disanalah kita akan beristirahat”). Artinya sebelum mati, tidak ada waktu untuk senang senang istirahat. Laa rahata li du’at illa ba’dal mamaat (tidak ada kamus berleha-leha bagi para da'i kecuali setelah mati). Itu kata Syaikh Ahmad Rasyid. Jadi barangsiapa yang mau istirahat silahkan mati. Meskipun setelah itu juga belum tentu bisa istirahat karena tidak ada amal.**

.::.

Wednesday, 8 December 2010

Pemburu Akhirat

Oleh: Anis Matta
Penghujung malam. Sang khalifah, Ali Bin Abi Thalib, berdiri di tengah mihrabnya. Sendiri. Tangannya menengadah ke langit. Air matanya tumpah ruah. Lirih benar ketika do’anya memecah sunyi, “Tuhan, biarlah dunia ini hanya ada dalam genggaman tanganku. Jangan biarkan ia masuk ke dalam hatiku.”

la sadar ia berada di puncak. Tapi juga di ujung waktunya. la hanya ingin menutup kitab kehidupannya dengan kebaikannya. la tidak ingin tergelincir di ujung jalan. Tapi godaan kekuasaan memang terlalu dahsyat untuk diremehkan.

Melawan dalam sunyi itu susah. Terlalu susah. Membangun dalam hening itu berat. Terlalu berat. Tapi meremehkan kekuasaan yang ada dalam genggaman tanganmu, meninggalkannya dengan sadar dan enteng, mungkin jauh lebih susah. Jauh lebih berat. Inilah syahwatnya syahwat. Inilah kunci dunia yang memberimu segalanya: kebesaran, kemegahan, kemudahan, popularitas, uang, seks. Semuanya. Itulah yang kamu bangun dari perlawanan berdarah-darah. Kerja panjang dalam hening dan sepi.

Sekarang, ketika kamu sudah merebutnya, setelah semuanya ada dalam genggamanmu, kamu harus melepasnya, dengan sadar dan enteng, sambil tersenyum. Inilah sisi ketiga dari kepahlawanan seseorang yang diceritakan kekuasaan: kezuhudan. Kamu tidak melawan musuh disini. Kamu tidak bekerja keras disini. Kamu bahkan tidak berpikir disini. Kamu hanya melawan dirimu sendiri. Memikirkan nasibmu sendiri. Memilah keinginanmu sendiri: Apa yang kau cari sebenarnya? Inikah?

Kamu harus berhati-hati dengan penglihatanmu sendiri! Kamu mungkin salah lihat. Kamu mungkin tertipu. Kamu sedang berada di puncak. Tapi kamu juga sedang melangkah pada jengkal terakhir dari waktumu. Apa yang kamu lihat di sini bukanlah apa yang kamu cari. Ini hanya fatamorgana. Kamu harus melampauinya. Tujuanmu yang sebenarnya masih ada di ujung sana, di balik fatamorgana ini: akhirat.

Hanya ketika seorang pahlawan menetapkan misi hidupnya sebagai pemburu akhirat, ia akan sanggup melampaui dunia: meremehkan kekuasaannya, meninggalkannya dengan sadar dan enteng. Itu sebabnya mereka tidak menikmatinya. Kekuasaan berubah jadi beban yang menyesakkan dada. Bukan kehormatan yang membuatnya bangga.

“Aku ingin melepas jabatan ini. Aku sudah bosan dengan rakyatku. Mungkin juga mereka sudah bosan denganku,” kata Umar bin Khattab suatu saat di tengah masa khilafahnya.

Hanya ketika kamu menganggap kekuasaan sebagai beban kamu akan mencari celah untuk melepaskannya.

Hanya ketika beban pertanggungjawaban menyiksa batinmu, merebut privasimu, membuatmu takut setiap saat, kamu tidak akan pernah bisa menikmati kekuasaan. Kamu pasti lebih suka meninggalkannya. Hanya ketika itu kamu jadi pahlawan.
.::.

Friday, 26 November 2010

Luaskan Bentangan Cakrawala Kepahamanmu

Oleh: Cahyadi Takariawan
Sungguh sangat ingin aku sampaikan pesan penting ini pertama kali: luaskan bentangan cakrawala kepahamanmu. Bergerak dalam dinamika dakwah adalah pergerakan yang berlandaskan kepahaman, berlandaskan hujah, berlandaskan ilmu dan pengetahuan. Tak ada keberhasilan dakwah, jika tidak diawali ilmu dan kepahaman. Tidak akan ada keteguhan di jalan dakwah, jika tidak memiliki cakrawala pengetahuan yang memadai.

Coba aku ajak membuat perbandingan. Saat anak masih kecil, ia hanya bermain di dalam rumah saja. Ia akan bertanya tentang benda-benda yang ada di dalam rumahnya sendiri. Dengan mudah orang tua menjawab dan menjelaskan, karena itu benda-benda yang sangat umum dan dikenalnya dengan baik. Bertambah usia, si anak mulai bermain di halaman rumah. Ia bertanya tentang benda-benda yang ada di halaman rumah. Orang tua dengan mantap menjawab semua pertanyaan anak.

Bertambah lagi usianya, anak bermain di lingkungan tetangga. Ia membawa pertanyaan seputar lingkungan sekitar, dan ada beberapa pertanyaan yang mulai sulit dijawab orang tuanya. Semakin besar anak, pergaulannya semakin luas, permainannya semakin jauh, tidak hanya di lingkungan tempat tinggal. Ia mulai bepergian ke luar kota, ia mulai mengenal beraneka ragam jenis manusia. Pertanyaan yang dibawa pulang semakin banyak yang dirasakan sulit oleh orang tuanya. Apalagi saat dewasa anak mulai mengenal manca negara, ia mengunjungi berbagai negara. Pergaulannya tanpa batas geografis, betapa luas pengetahuannya dan akhirnya semakin banyak pertanyaan tidak terjawab oleh orang tuanya yang belum pernah bepergian ke luar negeri.

Apa yang terjadi? Ada senjang informasi, ada senjang tsaqafah, ada senjang wawasan, ada senjang cakrawala pemikiran,antara anak dengan orang tua. Kesenjangan ini menyebabkan dialog sering tidak menyambung, atau dialog menjadi tidak seimbang. Anak berbicara tentang teknologi tinggi, yang tidak terbayang oleh orang tuanya yang gagap teknologi. Anak bercerita tentang pesawat terbang, sementara orang tuanya belum pernah melihat bentuk pesawat kecuali melalui gambar. Merasakan naik pesawat, berbeda dengan orang yang hanya mengerti gambar pesawat.

Bagaimana jika gambaran anak di atas adalah realitas pergerakan dakwah, yang tumbuh dari kecil membesar, dari segmen yang sempit ke segmen yang tak terbatas, dari tertutup menuju keterbukaan ? Sementara orang tua tersebut adalah kader dakwah yang stagnan. Kesenjangan informasi ternyata membahayakan.

“Sedang apa kau di sini ?” tanya sang ayah.

“Aku sedang bersiap untuk terbang ke London”, jawab sang anak.

“London itu apa ?” tanya ayah.

“London itu nama sebuah tempat di Eropa”, jawab sang anak.

“Apa engkau bisa terbang ?” tanya ayah.

“Aku naik pesawat terbang”, jawab sang anak.

“Mengapa kamu pergi ke London ? Pergilah ke sawah saja tempat biasanya kamu bermain-main”, pinta sang ayah sembari keheranan.

“Biasanya anakku bermain di sawah, mengapa sekarang ia mau bermain ke London?” pikir sang ayah.

“Apakah anakku sudah menjadi kafir dan ikut-ikutan gaya hidup orang Barat ?” pikir ayah.

Tentu saja, pikiran itu berlebihan. Ayah “berhenti” informasinya hanya di sekitar rumah, paling jauh ke pasar kecamatan atau kabupaten. Sementara si anak terus berkembang, ia melanglang buana mengelilingi dunia. Wawasannya terus bertambah, sementara si ayah wawasannya sudah selesai dan titik. Agar seimbang, si ayah harus mulai dikenalkan naik pesawat terbang dan mengunjungi berbagai pulau dan negara.

Bahkan, untuk sekedar mengerti sebuah kelucuan pun, memerlukan wawasan pengetahuan yang memadai. Seseorang tidak mengerti apa yang lucu sehingga tidak tertawa, pada saat orang lain merasa sangat lucu dan tertawa terbahak-bahak. Salah satunya, karena senjang informasi.

Ada tsaqafah maidaniyah, wawasan keilmuan yang terbentuk karena interaksi seseorang dengan realitas lapangan dakwah. Semakin luas pergaulan dan lapangan aktivitasnya, akan semakin banyak tsaqafah yang didapatkan. Jika aktivis “berhenti” mendapatkan asupan wawasan dan informasi lapangan, pastilah akan terbentuk persepsi puritan yang sering tidak “nyambung” dengan realitas lapangan.

Ini yang harus dijaga, secara pribadi maupun jama’i. Jangan berhenti mencari keluasan kepahaman, baik tekstual dari kitab, maupun kontekstual dari realitas lapangan. Teruslah berjalan meniti kepahaman. Teruslah merasa haus dan dahaga dari ilmu dan pengetahuan, sehingga tidak lelah untuk mencari dan mencari. Walau bis Sin, walau di negeri China, atau di negeri manapun.***
.::.
*sumber www.cahyadi-takariawan.web.id

Saturday, 20 November 2010

Orang yang didoakan para Malaikat

Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)

Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Maraji' :
Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

.::.

Friday, 12 November 2010

Nak, Ayah Mencintaimu

Kalau Anda seorang ayah pasti sering mendengar kalimat-kalimat berikut ini: “Ayah, aku sudah mandi.” Aku sudah sudah belajar lho, Pa.” Apa aku boleh ikut abi pergi?” Kalau bapak pulang, bawakan aku es krim ya?” Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah sikap kita saat itu? Apakah tanggapan kita seindah binar mata mereka? Apakah sikap kita semanis senyum mereka? Apakah jawaban kita sebesar harapan mereka? Apakah saat itu kita sudah menjadi yang seperti mereka inginkan?

Sebagai seorang ayah sungguh kita harus menyadari betapa anak-anak kita itu memerlukan senyum gagah kita. Mereka juga membutuhkan belaian sayang kita. Buah cinta kita itu selalu merindu dekapan mesra kita. Buah hati kita itu selalu menanti kecupan sayang kita di kening mereka. Yakinlah Anda bahwa tutur kata manis kita amat berarti bagi hatinya. Oleh-oleh yang kita hadiahkan begitu bermakna bagi jiwa mereka. Saat kita mengajak mereka bepergian rasa bangga memenuhi ruang-ruang kalbunya. Ketika kita tak berada di sandingnya, jiwa mereka terasa hampa.

Tentang buah hati kita itu, kekasih Allah, teladan kita, guru tentang cinta & kasih sayang kita, Rasulullah saw bersabda untuk kita para ayah,” Cintailah anak-anak dan kasih sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, maka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah satu-satunya yang memberi mereka rezeki.” Dalam riwayat lain dikisahkan ada seorang Arab Badui yang menemui Rasulullah saw dan berkata,” Mengapakah engkau menciumi anak-anak kecil, sedang kami tidak pernah melakukannya?” Maka Rasulullah saw bersabda,” Apakah kamu tidak takut bila Allah SWT mencabut rasa kasih sayang dari lubuk hatimu?”

Bagi anak-anak, kita para ayah adalah pahlawan. Menurut mereka kita adalah sosok gagah yang menentramkan hati mereka. Buah hati kita itu amat bangga terhadap keperkasaan kita. Mereka begitu mendamba perhatian dan kehadiran kita. Namun mereka tak pandai merangkai kata tuk mengungkap cinta. Mereka juga tidak mengerti cara membisikkan rasa rindunya. Mereka mencintai kita para ayah dengan bahasa yang sering tak mampu kita mengerti. Mereka menyayangi kita dengan gaya yang sering tak bisa kita pahami. Karena itu kita sering tak menyadari bahwa ada makhluk-makhluk kecil yang begitu mencintai dan membutuhkan kita.

Saat mereka mendekat, kita sering merasa terusik. Ketika mereka mengajak bicara, kita sering merasa terganggu. Waktu mereka bertanya, sering hati kita merasa tak nyaman. Tangisan mereka seperti suara petir bagi telinga kita. Teriakan mereka bagai badai yang menerjang jiwa kita. Padahal seperti itulah cara anak-anak mencintai kita. Begitulah cara mereka menyayangi kita. Dengan cara seperti itulah mereka ingin menyampaikan bahwa mereka amat membutuhkan kita. Hanya cara seperti itulah yang mereka mengerti untuk menyentuh cinta kita.

Boleh jadi kita belum mampu menjadi ayah yang indah untuk anak-anak kita. Saat mereka menangis kita malah membentaknya. Ketika mereka bertanya kita tidak menggubrisnya. Waktu mereka belajar, kita tidak ada di sisi mereka. Mereka sakit tanpa ada kita di sampingnya. Mereka sedih tanpa ada yang menghiburnya. Mereka jarang kita belai. Mereka jarang kita cium. Kita sering merasa terlalu mulia untuk bermain-main dengan mereka. Kadang pekerjaan kita membuat kita tak menyadari bahwa ada yang menanti-nanti kedatangan kita hingga tertidur di depan pintu rumah kita.

Sudah tiba saatnya bagi kita para ayah untuk mengerti bahasa cinta anak-anak kita. Kita harus memahami cara mereka dalam mencintai kita. Dengan demikian kita bisa menjadi seperti yang mereka pinta. Kita mesti berupaya menjadi seperti yang mereka harapkan. Kita harus menjadi pendengar yang menyenangkan saat mereka berbicara. Ketika mereka mendekati kita sehasta, kita mendekati mereka sedepa. Saat mereka memanggil, kita datangi mereka dengan sepenuh jiwa. Sewaktu mereka menangis, kita akan mendekapnya dengan penuh cinta. Kita juga tak akan pernah lelah tuk berbisik mesra,” Nak, ayah mencintaimu.”
.::.
by Hamy Wahjunianto

Kode Warna Teks dan Background

Posting kali ini adalah tentang contoh kode warna-warna dasar yang bisa dipakai untuk pewarnaan baik untuk teks maupun background pada tulisan di blog. Semoga bisa membantu dan bermanfaat:

KODE WARNA BACKGROUND= #330099


KODE WARNA BACKGROUND= #0000FF

KODE WARNA BACKGROUND= #0066FF

KODE WARNA BACKGROUND= #000000

KODE WARNA BACKGROUND= #333333

KODE WARNA BACKGROUND= #FF0000

KODE WARNA BACKGROUND= #990000

KODE WARNA BACKGROUND= #CC0000

KODE WARNA BACKGROUND= #FF9900

KODE WARNA BACKGROUND= #FFFF00

KODE WARNA BACKGROUND= #00FF00

KODE WARNA BACKGROUND= #009900

KODE WARNA BACKGROUND= #999900

KODE WARNA BACKGROUND= #FF00FF

KODE WARNA BACKGROUND= #990099

KODE WARNA BACKGROUND= #CC3300

KODE WARNA BACKGROUND= #0099FF

KODE WARNA BACKGROUND= #00FFFF

.::.