Paket SOP Toko Retail Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Toko Retail Modern.

Key Performance Indicator (KPI)

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : Key Performance Indicator (KPI).

Konsultan SOP Perusahaan

Master SOP adalah Konsultan SOP dan Sistem Bisnis untuk bisnis yang Autopilot.

Paket SOP Garmen / Konveksi

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Garmen / Konveksi.

Paket SOP Resto Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Resto Modern.

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, 8 June 2021

VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT

Kawan, Peribahasa Latin kuno menyatakan VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT. Arti dari kata-kata ini intinya, “Apa yang terkatakan, akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi.” 

Peribahasa ini berusaha mengatakan bahwa kata-kata dalam bentuk ucapan lisan dapat dilupakan dengan mudah, tetapi tulisan akan tetap ada dan abadi asal tidak rusak atau hancur.

Jika membaca adalah jendela ilmu, maka menulis adalah gudangnya karya. Sebab, menulis adalah legacy karya yang dapat diwariskan untuk generasi berikutnya. VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT.

Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan ini: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

“Apa saja yang tertulis akan menjadi abadi.” Sebuah pernyataan yang tidak keliru. Dengan adanya parkamen atau tulisan pada kulit binatang, pahatan pada kulit kayu, papyrus, gulungan lontar, pahatan batu candi, pada kulit kayu, manuskrip, buku atau catatan dalam bentuk lainnya, telah membuktikan hal itu.


Dari sana, kita jadi tahu isi Kitab Suci, sejarah kerajaan-kerajaan besar, perkembangan ilmu dan teknologi (iptek), dan sebagainya.

Pada masa lalu terdapat pemahaman: no documents, no history; tidak ada sumber tertulis, tidak ada sejarah.
Artinya, sebuah sejarah dapat dikatakan valid dan sah, bilamana di dalamnya termuat bukti-bukti peninggalan tertulis sebagai sumber referensi tunggal.

Kawan, Di Zaman kekinian pengertian menulis  dapat diperluas menjadi, “Apa yang terekam, juga akan menjadi abadi.”

Maksudnya, bukan hanya tulisan yang bisa bersifat abadi. Gambar diam dan gambar hidup juga bisa bersifat abadi. Misalnya:
Gambar diam atau images (bisa berupa sketsa, vector atau foto) dan gambar bergerak (film, video).

Dan jangan lupa, ada satu lagi yaitu rekaman suara dalam bentuk audio misalnya podcast adalah salah satu bentuk audio yang lagi trend. 

Kawan?
Merekam keindahan untuk kenangan,
Mencatat ilmu untuk peradaban,
Menulis harapan untuk warisan bagi generasi yang akan datang.

Mari terus berkarya untuk kebaikan
Salam sukses dan berkah.

Alim Mahdi
Master SOP Indonesia

***

Monday, 31 August 2009

Dengan Virtual Money, bayar Zakat cukup SMS

Kamis (27/08/09)-Mewakili DSM Bali saya dan dua rekan menghadiri undangan Telkomsel dalam rangka presentasi produk terbarunya dan kabarnya pertama di Indonesia yaitu “T-Cash” singkatan dari “Telkomsel Cash”. Telkomsel Cash ini adalah uang virtual di mana dengan Telkomsel Cash ini kita tidak perlu membawa uang kas untuk berbelanja di merchant tertentu yang bekerjasama dengan Telkomsel, cukup kita menyebutkan nomer kartu ponsel/HP kita kepada kasir di ‘merchant’ tersebut ketika terjadi proses pembayaran.

Mungkin transaksi via hanphone seperti ini di Indonesia masih baru tetapi sesungguhnya di negara maju seperti Jepang sudah menjadi “lifestyle” dan caranyapun sudah jauh lebih maju. Jikalau pada T-Cash, pelanggan sebelumnya harus mengisi T-Cashnya dulu sebelum digunakan sama seperti beli voucher isi pulsa ponsel, maka di Jepang tidak perlu mengisi kas virtualnya dahulu, tagihan akan muncul bersamaan dengan tagihan bulanan ponsel bulan berikutnya, dan jikalau ponsel prabayar akan langsung mengurangi saldo pulsanya secara otomatis.

Di Indonesia model seperti di jepang masih mendapat banyak kendala terutama dalam hal aturan perbankan khususnya perbedaan nilai uang dengan pulsa apabila dikonversikan. Karena harga pulsa di Indonesia tidak persis sama seperti yang tertulis di nominalnya.
Bagaimanapun ini merupakan kemajuan yang luar biasa, kita tak perlu report membawa uang cash dan tidak perlu mengingat nomor account di bank yang memang susah diingat, cukup sms dan transaksi berlangsung secepat sms. Ke depan layanan ini akan menjadi pesaing sengit bank-bank yang ada sekarang. Jika uang kas dihilangkan dan diganti dengan uang virtual (pulsa telepon) bagaimana dengan nasib perbankan??

Menurut saya tantangan yang sekarang harus dipecahkan dalam mengembangkan aplikasi ini adalah tentang awareness dan merchants. Awareness di sini adalah bagaimana mengedukasi tentang pentingnya dan keunggulan produk T-Cash dan berapa banyak kesediaan merchant sebagai tempat bertransaksi menggunakan uang virtual ini.

BAYAR ZAKAT VIA T-CASH
Jika pembayaran atas pembelian barang yang lain bisa, tentunya untuk pembayaran ZIS (zakat, infak dan shadekah) akan lebih gampang lagi. Muzakki tinggal kirim sms dan akan segera akan mendapat balasan konfirmasi bahwa zakat yang dibayarkan telah diterima oleh amil zakat yang bersangkutan. Dengan metode ini maka akan banyak menekan cost operasional penjemputan zakat.
Jika memang demikian, maka DSM Bali adalah Lembaga Amil Zakat “Pertama” yang memberikan layanan pembayaran ZIS hanya dengan SMS di HP Anda.


.::.Alim Mahdi.::.

Sunday, 19 July 2009

Ada dugaan Aksi Bom Untuk Pojokkan Islam

Aksi bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot, diduga oleh Direktur Lembaga Kajian Syariat Islam Fauzan Al Anshori, sebagai operasi untuk mendistkreditkan kelompok Islam.
Menurut Fauzan, kejanggalan itu terlihat ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menduga aksi bom ada kaitan dengan proses politik yang sedang berlangsung. Di lain pihak, CNN dan media Australia justru menuding kelompok JI. Padahal, SBY tidak pernah menyebut-nyebut kelompok JI. Pertanyaannya, kalau statement presiden mengarah pada proses politik yang sedang berlangsung, mengapa kemudian diarahkan kepada JI?” katanya.

Fauzan meminta aparat tidak cepat-cepat mengeluarkan stereotipe kepada kelompok Islam. “Kalau Islam di Indonesia sudah distereotipekan sebagai teroris, pihak asing kemudian akan buru-buru menawarkan bantuan untuk memerangi teroris,” katanya. “Setelah itu, akan nada bargaining untuk menjauhi partai Islam yang berkoalisi dengan partai pendukungnya.”

Lebih lanjut, Fauzan mempertanyakan “fakta palsu” tentang penemuan bom di kamar 1808. “Asumsi ini didukung modusnya yang menggunakan fakta palsu dengan meninggalkan bom bom yang siap meledak di kamar 1808 di JW Marriot,” katanya.

Menurut dia, tidak masuk akal ada orang yang masuk ke hotel yang dijaga superketat dan meninggalkan bom yang masih aktif di kamarnya. “Ini tidak mungkin sebagai kecerobohan, tapi sebagai palsu bukti palsu. Bukti ini nantinya akan ditujukan kepada kelompok Islam, Jamaah Islamiyah (JI), “kata Fauzan.

Ia mengaku tak habis pikir, pada 15 Juli 2009, ada tamu Hotel JW Marriott yang lolos membawa detonator dalam tas laptop. “Pertanyaannya, mengapa tidak terdeteksi X-Ray. Ini merupakan keahlian dari orang tertentu yang spesialis bom dan tidak mungkin dilakukan kelompok JI,” ujarnya.

Bom di kedua hotel itu ketika diperiksa bahannya dinyatakan sama dengan bom yang digunakan pada pengeboman di JW Marriot tahun 2003 dan bom Bali. Dengan modus seperti itu, katanya, kelompok JI kembali dituding sebagai pelaku sehingga buntutnya aka nada penangkapan terhadap aktivis-aktivis Islam.

(Tulisan lengkap dapat dilihat di Republika cetak, Ahad, 19 Juli 2009)


.::.Alim Mahdi.::.

Monday, 29 June 2009

Hati-hati Kirim SMS! Tabayyun-lah...

Seorang teman mengaku sangat tergangu. Sebelumnya, dalam sehari dia menerima tiga sampai lima pesan pendek di telfon genggamnya. Belakangan jumlahnya semakin banyak. Sebagian kecil pengiriman pesan pendek itu dikenal, namun sebagian besar tidak dikenal .
Teman itu berkata: apakah seperti ini demokrasi, setiap orang bisa menyebarkan fitnah dan peremusuhan tanpa merasa bersalah apalagi betanggung jawab? Jika demokrasi adalah kebebasan menyebarluaskan fitnah dan permusuhan, maka demokrasi menjadi musuh bagi etika dan bahkan juga bagi agama.

Dia bercerita berbagai pesan pendek itu berisikan hasutan untuk tidak memilih salah satu pasangan calon prresiden, diantaranya karena alasan agama. Ada juga tentang berbagai musibah, di antaranya tsunami. Menurut pengirim pesan pendek itu karena Allah murka dengan calon presiden trsebut.

Pengiriman pesan pepndek itu,yang membuat teman ini sangat gusar, justru mereka yang memahami Surah Al-Hujarat. Surah yang ditujukan kepada orang–orang beriman agar melakukan tabayyun (cek dan ricek) apabila mendenagar suatu berita yang belum di pastikan kebenarannya.

Teman itu dapat memahami jika pesan pendek tersebut merupakan serangan terhadap visi, misi, dan rekam jejak capres – cawapres jika disertai bukti-bukti. Baginya mengkritisi visi, misi, dan jajak rekam para capres justru menjadi tuntunan kepada calon pemilih sebelum menentukan pilihannya. Setiap calon harus siap dibuka rekam jejaknya–agar tidak membeli kucing dalam karung-meski sebaik-baiknya adalah tidak membuka aib seseorang.

Begitulah yang terjadi menjelang pilpres ini. Mereka menyebar kabar yang diperoleh dari sumber yang tidak jelas asal-usulnya, bukan dari sumber primer. Meraka menyambung satu dengan yang lainnya, mencocokan satu dengan yang lainnya. Dari situ, mereka membuat kesimpulan. Kemudian mereka berkata bahwa kesimppulan tersebut benar, karena itu harus disebarkan.

Bukan politik yang membawa orang salah jalan. Melainkan hatilah yang menjadi sopirnya. Apabila politik dijalankan denagan hati bersih, maka ia akan menjadi mata air yang membersihkan. Namun ketika politik dijalankan dengan hati yang kotor, maka ia tidak saja menjadi air keruh, tetapi juga membahayakan . Berbagai bibit ada di situ . Maka, fitnah dan penyesatan menjadi sesuatu yang normal bahkan keharusan.

Maka berhentilah menyebarkan fitnah. Berhentilah menghasut. Jalaludin Rumi (1207-1273) berkata bahwa manusia dalam hidupnya banyak sekali menanam pohon berduri dalam hatinya.

Kini segeralah berbenah , kembalilah kepada hati bersih . Tebang pohon – pohon penyakit hati itu sebelum ia menjadi besar dan akarnya menghujam, melingkar, dan kemudian ia akan membusuk dalam diri.

Jadi, tabayyun-lah sebelum menyebarluaskan sesuatu yang diragukan kebenarannya. Bukankah agama memerintahkan hal itu? .::.

Disalin kembali dari Republika, Resonansi, tulisan: Asro Kamal Rokan, dengan perubahan judul.


Thursday, 7 May 2009

Tragedi dan Skandal Pendidikan Kita

By Zaim Saidi*
Entah apa reaksi Anda membaca berita ini: biaya pendidikan tinggi kita sampai strata 1 (sarjana), segera mencapai di atas Rp 500 juta. Mulai dari Universitas Indonesia di Jakarta sampai Universitas Hassanudin (Unhas) di Makasar, seolah berlomba mematok tarif tinggi. Uang pangkalnya saja, untuk Fak. Kedokteran UI, misalnya, adalah Rp 400 juta, sedang SPP Fak Kedokteran Unhas total Rp 100 juta. Memang ini untuk jalur “nonsubsidi”, tapi biaya kuliah jalur biasa pun akan mencapai puluhan juta rupiah.

Padahal, biaya mahal pendidikan ini bukan hanya di tingkat perguruan tinggi. Banyak sekolah, termasuk ’Sekolah-Sekolah Islam’, di sekitar kita kini menjajakan dagangan bertarif premium. Sudah biasa kalau uang pangkal yang dipasang untuk jenjang dari Pra-TK, TK, SD, SLTP, sampai SLTA, secara total mencapai Rp 100-Rp 150 juta. SPP sudah tergolong standar kalau dipatok Rp 750 ribu-Rp 1.5 juta/bulan. Maka, untuk meluluskan seorang anak sampai SLTA, orang tua harus membayar sampai Rp 200-300 juta. Untuk sampai sarjana pun total biaya bisa mencapai Rp 700 – Rp 800 juta/anak! Bagaimana kalau dua, tiga, atau lebih banyak anak lagi?

Sementara itu lihatlah hasilnya: data Biro Pusat Statistik menunjukkan fakta bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang di negeri ini semakin tinggi kemungkinan menganggurnya. Persentase sarjana yang menganggur lebih tinggi dari lulusan D3, yang lebih tinggi dari lulusan D2, begitu seterusnya. Sebabnya, bukan karena alasan link and match, kesesuaian keahlian dan kesempatan kerja, yang tak terpenuhi, melainkan karena semakin tinggi pendidikan sesorang semakin dungu life-skill-nya (keprigelan hidup). Padahal, bukankah keprigelan hidup itu adalah fitrah seseorang? Bukankah ini menunjukkan bahwa ’pendidikan’ yang dijajakan pada kita saat ini justru merusak kapasitas fitrah anak-anak kita? Dan harus dibayar dengan mahal pula?

Islam mengajarkan kita sesuatu yang berbeda. Rasulullah SAW menegaskan bahwa penularan pengetahuan, pengajaran dan pendidikan, merupakan bagian dari layanan sosial. Membagi pengetahuan adalah sedekah jariah. Universitas-universitas Islam, seperti Al Azhar di Cairo, Zaituna di Tunis, Qarawiyyin di Fez, dan Nizamiyya di Bagdad, adalah contoh-contoh penyedia layanan pendidikan bermutu dan sepenuhnya dibiayai oleh wakaf. Kebutuhan seluruh civitas academica di situ, baik untuk kegiatan akademik maupun kehidupan pribadi, dijamin oleh institusi wakaf. Tidak perlu kita katakan lagi, tentu saja, pesantren dan madrasah-madrasah kita di masa lalu, dalam konteks dan sekala berbeda, mengalami hal serupa.
Begitulah, satu bukti berjalannya amaliah kaum Muslimin, di mana pun mereka berada, adalah tersedianya pendidikan bermutu dan murah. Pendidikan mahal – apalagi tidak bermutu - bagi seorang Muslim adalah sebuah tragedi, dan bahkan skandal sekaligus. Betapa tidak?

Pertama, Rasulullah SAW menyatakan bahwa satu di antara tiga sedekah jariah yang tidak putus pahalanya, selain membesarkan anak saleh dan menafkahkan harta-jariah, seperti telah disinggung sebelumnya, adalah amal ilmu pengetahuan. Dengan kata lain pendidikan itu sendiri, dan dengan demikian persekolahan itu sendiri, adalah sebentuk jariah. Menjadikan ilmu pengetahuan, pendidikan dan persekolahan, sebagai komoditi dagangan, dengan demikian, sangat menjauhi ajaran Rasul SAW. Kedua, keperluan sarana dan prasarana pendidikan, sebagai bagian tak terpisahkan dari jariah pengetahuan, seharusnya dipenuhi pula dari jariah pula, yakni harta wakaf.
Kalau saat ini perwakafan kita dalam keadaan mati, atau salah kelola, tugas kitalah untuk menghidupkannya, atau merestorasinya, kembali. Bukan malah menggantikannya dengan memperdagangkan pengetahuan itu, yang seharusnya merupakan lahan jariah itu sendiri.::.

*Direktur Tabung Wakaf Indonesia

Monday, 20 April 2009

Bicara yang Baik atau Diam

Undzur ma qoola walaa tandzur man qoola – Dengar apa yang dikatakannya dan jangan lihat siapa yang mengatakannya- satu ungkapan lama dari ulama yang sejatinya dimaknai agar kita bersikap kritis terhadap setiap perkataan orang, disisi lain tidak mengambil kebenaran hanya karena memandang kedudukan, status orang yang mengatakannya. Namun, sejalan dengan beragam pemikiran manusia, beragam pula interpretasi terhadap ungkapan tersebut hingga satu titik interpretasi sederhana bahwa tidak perlu melihat siapa yang mengatakannya, karena yang penting adalah apa yang dikatakan orang tersebut.

Satu interpretasi yang salah yang terus bergulir yang kemudian tidak jarang dijadikan alasan pembenaran bagi seorang juru dakwah (da’i) untuk tidak tampil dengan penampilan terbaiknya, karena baginya yang penting apa yang akan disampaikannya penuh nilai dan berbobot.

Anda tentu pernah melihat tukang-tukang obat yang beraksi di tengah keramaian, meski tak pernah belajar teori komunikasi –apalagi kuliah strata satu di fakultas ilmu komunikasi- tapi memiliki kemampuan untuk menyedot perhatian orang banyak hingga rela berdiri untuk sekian lama memperhatikan cuap-cuap si tukang obat. Jual obat belakangan, yang penting orang senang dulu dan betah untuk berlama-lama bersamanya. Bisa jadi kita juga semua tahu bahwa obat yang dijual masih perlu dipertanyakan kualitasnya, juga kemanjurannya, tapi pernahkah Anda mempertanyakan pada diri sendiri, kenapa Anda mau berhenti sejenak untuk memperhatikan tukang obat itu sendiri. Dan tidak jarang, pada akhirnya, ada yang membeli obat tersebut.

Setiap marketing yang handal dan pengalaman, tentu sangat mengerti jawabannya. Prinsip dasar yang dipegang selama ini dalam menentukan keberhasilan marketing adalah “The singer not the song”. Pada umumnya, keputusan untuk membeli suatu barang sangat ditentukan oleh emosi si pembeli. Termasuk misalnya, pembeli merasa senang, suka ataupun sebaliknya terhadap penjual. Setiap penjual yang baik, biasanya memulai dengan dan mampu untuk “menjual” dirinya terlebih dulu sebelum menjual produk. Syukurnya, dalam kerangkan budaya masyarakat Indonesia pada umumnya masih lebih berorientasi pada “siapa yang berbicara”. Sebagai contoh lagu dan penyanyi misalnya, orang kita masih memandang penyanyinya, bukan lagunya. Coba Anda perhatikan di kampung-kampung misalnya, tertulis besar-besar pengumuman, “Hadirilah pagelaran musik, menghadirkan Cucum Cumenah, Artis Top Ibukota”. Anda tidak akan pernah mendapati, judul lagu yang ditulis dalam pengumuman tersebut. Apapun lagunya, kalau yang membawakannya adalah artis top yang sudah kondang dan kesohor bahkan menjadi pujaan, tidak penting lagi apakah lagu tersebut jelek atau bagus.

Jadi, sekedar untuk mengembalikan pemahaman sebenarnya dari ungkapan ulama (bukan hadits) diatas, bahwa setiap kita semestinya kritis terhadap apa yang dikatakan orang. Namun jika masih tetap ada yang “keukeuh” menginterpretasikan hal itu sebagai tidak perlu melihat siapa yang mengatakannya, kali ini, seharusnya dipahami bahwa sesungguhnya masyarakat kita sangat betul memperhatikan siapa yang berbicara. Sebagus apapun, sebaik apapun nasihat yang akan anda sampaikan kepada orang lain, luangkan waktu sejenak untuk sekedar memperhatikan penampilan Anda, dan memperbaiki bagian yang kurang sedap dipandang. Dalam pemahaman yang lebih luas, seperti dijelaskan dalam Surat Ash Shaft ayat 2 dan 3, bahwa sebelum mengatakan sesuatu, semestinya kita sudah melakukannya. Sehingga orang lain akan melihat kita sebagai tauladan, bukan sebagai pembual yang hanya pandai mengajak orang, tapi ianya tetap pada keburukan.

(Bayu Gautama*)

Saturday, 21 March 2009

Sajak Nasihat Untuk Para Pemimpin

Suatu siang aku melihat-lihat pemandangan yang membentang luas di sepanjang jalan dari rumahku di pinggiran ibukota, hingga kantor gubernur di Balai Kota. bendera-bendera beraneka warna, indah dipandang mata, kuhitung satu per satu dan kureka-reka, ada tiga puluh empat jumlahnya, kutanyai ibu, yang berjalan gontai di sebelahku; “bu, ibu. bendera partaikah itu?” “bukan, bukan. itu bendera pabrik kecap manis, anakku” (Arif Mahmudi)

Sang Ibu dalam sajak-sajak Arif Mahmudi itu memang sangatlah hafal bendera-bendera itu. Sampai-sampai ia menyebut partai-partai itu sebagai “pabrik kecap manis”. Berpuluh-puluh tahun hidup, janji yang bertaburan saat Pemilu tiba hanyalah berupa kecap manis pemanis bibir. Tak satupun ada yang bisa mengubah nasib keluarganya yang telah puluhan tahun jatuh pada kubang kemiskinan.

Sang Ibu itu seolah mewakili duka dan pilu seluruh penduduk miskin di Indonesia yang pada 2008 lalu meningkat menjadi 41 juta jiwa dari tahun sebelumnya sebesar 37 juta jiwa. Angka tersebut sebagai dampak dari ketidakmandirian Indonesia akan pangan, energi, dan keuangan terhadap kemiskinan dan penggangguran.

Sayangnya, angka itu tak menggoyahkan aksi para calon-calon pemimpin negeri ini untuk berjualan kecap manis, mengobral janji-janji fatamorgana. Seoalah begitu mudahnya mengatasi persoalan bangsa ini, sehingga menyelesaikannya tanpa dibarengi dengan kompetensi dan kapabelitas yang memadai. Sementara begitu mudahnya masyarakat terbuai dengan tawaran-tawaran semu yang menggiurkan.

Apa jadinya jika bangsa ini dipimpin oleh orang-orang pemain sandiwara kehidupan yang tidak memiliki karakter dan arah kerja yang jelas? Wahai para calon pemimpin, belajarlah pada cuplikan kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab ra.

Pernah suatu kali Umar bin Khattab r.a mendengar bahwa salah seorang anaknya membeli cincin bermata seharga seribu dirham. ia segera menulis surat teguran kepadanya dengan kata-kata sebagai berikut: "Aku mendengar bahwa engkau membeli cincin permata seharga seribu dirham. Kalau hal itu benar, maka segera juallah cincin itu dan gunakan uangnya untuk mengenyangkan seribu orang yang lapar, lalu buatlah cincin dari besi dan ukirlah dengan kata-kata, Semoga Allah merahmati orang yang mengenali jati dirinya."

Ada lagi, Pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab r.a membutuhkan uang untuk keperluan pribadi. ia menghubungi Abdurrahman bin 'Auf, sahabat yang tergolong kaya, untuk meminjam uang 400 dirham. Abdurrahman bertanya, "mengapa engkau meminjam dari saya? Bukankah kunci baitul maal (kas negara) ada di tanganmu? mengapa engkau tidak meminjam dari sana?" Umar r.a menjawab, Aku tidak mau meminjam dari baitul maal. Aku takut pada saat maut merenggutku, engkau dan segenap kaum muslimin menuduhku sebagai pemakai uang baitul maal. Dan kalau hal itu terjadi, di akhirat amal kebajikanku pasti dikurangi. Sedangkan kalau aku meminjam dari engkau, jika aku meninggal sebelum aku melunasinya, engkau dapat menagih utangku dari ahli warisku."

Begitulah Umar Bin Khattab. Negeri ini membutuhkan Umar Umar yang dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik. Memiliki pemimpin yang bisa mendengar keluh kesah masyarakat kemudian memberikan solusi mencerahkan. Pastikan, kita bisa menemukan pemimpin itu.


.::.Alim Mahdi.::.

Thursday, 12 March 2009

Sinergi Tak Berkesudahan

Akhir desember lalu, ada cerita apik dari pemukiman Sari Kuning Tohpati. Warga muslim di sana sudah lama resah dengan aksi pengkaburan aqidah anak-anak mereka oleh sekelompok orang yang melakukan misis-misi terselubung. Dengan berkedok sekolah bagi anak-anak warga disana, maka pengaburan aqidah pun dimulai.
Namun alhamdulillah, tokoh masyatakat di sana pun tanggap terhadap bahaya yang sedang mengancam. Sampailah berita itu kepada DSM Bali, Yayasan Talitha, dan juga Forum Arimatea.

Tiga lembaga ini menjalin komunikasi intensif untuk menyelamatkan aqidah anak-anak Sari Kuning. Sinergi pun terjadi. Perlahan anak-anak itu pun ditarik dari ‘sekolah pemurtadan’ tadi. Mereka dibina secara khusus dalam Taman Pendidikan Al Qur’an Sari Kuning. Dengan para ustadz dan ustadzah yang tentu saja mumpuni dan mendapat tambahan ma’isyah dari tiga lembaga tadi, alhamdulillah. Tak hanya itu, anak-anak itu juga mendapat santunan dana pendidikan yang jumlahnya lumayan besar. Satu persoalan besar pun teratasi dari sebuah sinergi yang indah.
Kita tentu merindukan sinergi-sinergi lain yang lebih besar dan mengena dalam mengatasi persoalan umat. Namun persoalannya memang tidak mudah dalam melakukan sinergi itu. Harus diakui, adanya golongan dan aliran-aliran pemahaman di negeri ini membawa dampak negatif dalam sebuah konsep amal jama’i sesama umat Islam. Ada sekat-sekat yang tidak tampak sehingga sebuah sinergi dirasakan sangat susah terjalin.
Tengoklah berapa banyak yayasan-yayasan sosial pengentasan kemiskinan, lembaga-lembaga kemanusiaan pemberi bantuan, LSM atau NGO di bidang kemanusian, semuanya bertaburan di negeri ini, tak terkecuali di Bali. Namun ukurlah seberapa besar capaian terhadap peanggulangan kemiskinan di negeri ini? Ujung-ujungnya adalah, kemiskinan tetap menjadi momok yang memilukan.
Bukan mustahil bila kita tetap pada pola penanggulangan masing-masing, maka misi-misi kebaikan dan perbaikan akan semakin jauh dari pandangan mata. Karena itu, tak ada pilihan lain yang lebih cepat hasilnya selain merapatkan barisan antar lembaga dan yayasan bahkan juga pemerintah dalam sebuah sinergi yang tak berkesudahan.
Sinergi yang dilakukan oleh DSM bersama Yayasan Talitha dan Forum Arimatea barang kali memang spektrumnya diperluas pada persoalan-persoalan lain yang juga urgen. Bahkan peserta sinerginya pun bisa diperluas.
Bila hal itu terwujud maka bukan mustahil akan tercipta banyak akselerasi hasil kebaikan yang membawa perbaikan dan kesejahteraan di negeri ini. Sebab yang namanya sinergi bukanlah 10 orang menghasilkan 10 kekuatan. Namun sinergi 10 orang itu akan melahirkan 100 kekuatan yang mampu mengatasi beragam persoalan bagaimanapun peliknya. Akhirnya, marilah kita bersinergi untuk masa depan yang lebih baik. Semoga!


.::.Alim Mahdi.::.

Monday, 9 March 2009

MAULID NABI: Tidak Sekedar Memperingati..!

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah". (Qur’an Surat: Al Ahzab: 21)
Rasulullah SAW adalah hamba Allah yang luar biasa, namun bukan tidak mungkin untuk diteladani dan diikuti jejak-jejak kesuksesannya.

Rasulullah meninggalkan teladan yang bisa langsung dicopy paste, dan ada yang harus kita kembangkan karena banyak berupa inspirasi dan kebijaksanaan.
Dengan cara mengkaji dan mendalami serta tarbiyah yang instensif terhadap Islam dan keteladanan Rasulullah Saw yang lengkap dan holistik, sehingga kita menjadi pribadi muslim yang beraqidah lurus, ibadah yang benar sampai kemudian menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, umat, bangsa dan Negara.

Sebagai bahan renungan, berikut adalah sebuah iklan Lowongan yang ditulis pada masa Pemerintahan Sultan Sulaiman Basya al Qanuni, Sultan Turki:

LOWONGAN IMAM MASJID ISTAMBULSyarat-syarat :
1. Menguasai bahasa Arab, Latin, Turki, dan Persia
2. Menguasi Al Qur’an, Injil dan Taurat
3. Menguasai Ilmu Syari’at
4. Menguasai Ilmu Alam, Matematika, & mampu mengajarkannya.
5. Pandai menunggang kuda, bermain pedang, dan berperang
6. Bernampilan menarik
7. Bersuara indah

Iklan lowongan masjid Istambul itu kurang lebih 400 tahun lalu. Walaupun sangat sulit, bahkan mustahil dipenuhi untuk ukuran sekarang, kala itu merupakan syarat yang biasa dan wajar. Islam ketika itu tengah mencapai puncak kejayaannya. Tak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, tidak ada pemisahan antara ulama dan mujahid. Imam masjid adalah jabatan prestisius karena peran yang harus dimainkan sangat penting dalam penyebaran dakwah. Bila masyarakat Islam kita umpamakan dengan satu tubuh, maka sel tubuh pertama yang menjadi inti kehidupannya adalah masjid.

Adakah ini menjadi bahan pelajaran bagi kita?. Wallahu'alam

.::. Alim Mahdi.::.

Photo1 = benteng Shalahuddin Al-Ayyuby, di Mesir
Photo2 = Masjid Amru Bin Ash, di Mesir.

Monday, 2 March 2009

Jangan Jadikan Air Itu Berhenti

Perang Ahzab atau perang Khandaq adalah pertempuran yang sangat melelahkan. Memang pertempuran dalam arti saling membunuh dalam jarak dekat tidak banyak terjadi. Namun, sepuluh ribu pasukan multinasional yang mengepung Madinah telah membuat kaum Muslimin tidak sempat melakukan shalat Zhuhur, Ashar, dan Maghrib. Bahkan hanya sekedar kencing pun tidak sempat.

Selesai perang yang sangat melelahkan secara fisik dan psikis itu, Rasulullah saw. Hendak beristirahat barang sejanak. Karenanya, beliau sarungkan dan gantungkan pedang dan senjata beliau.

Namun, Allah Swt. tidak menginginkan beliau dan kaum Muslimin beristirahat. Karenanya, Allah mengutus malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. sambil tetap berada di atas bighal, malaikat Jibril berkata, “Sepertinya engkau sudah meletakkan senjatamu, wahai Rasulullah saw? Sesungguhnya para malaikat belum meletakkan senjata mereka…” (Tahdzrib Sirah Ibnu Hiysam)

Riwayat ini menggambarkan kepada kita agar tidak berhenti dari berjihad.
Pada suatu hari, beberapa orang Anshar sedang berkumpul kumpul. Mereka saling berkata di antara mereka,”Sekarang Islam telah jaya, telah eksis, dan telah kokoh. Sebaiknya kita kembali ke ladang-ladang kita dan kebun-kebun kita. Kita urus kembali harta kekayaan kita yang selama ini terbengkalai. Kita garap lagi lahan-lahan itu dengan serius. Lahan yang selama ini telah kita tinggalkan dalam rangka berjihad fi sabilillah, dan hasilnya kita infaqkan fi sabilillah juga. Sementara jihad di medan laga biar ditangani oleh saudara-saudara kita lainnya.”

Allah SWT berfirman:
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al Baqarah: 195)

Riwayat yang satu ini menggambarkan kepada kita bahwa kehancuran, kebinasaanm, atau istilah dalam Al Qurannya Tahlukah adalah pada saat meninggalkan jihad. Jika dua riwayat ini kita hubungkan dengan sirah Rasulullah Sawl. Lainnya, kita akan menemukan angka-angka berikut:

1. Peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah saw. secara langsung (ghazwah) jumlahnya 26.
2. Peperangan yang tidak dipimpin oleh Rasulullah saw. Secara langsung (sariyyah) jumlahnya 38.

Maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa manuver Rasulullah saw dan para sahabatnya itu tiada henti dan tanpa putus. Bagaimana tidak, waktu yang kurang lebih sepuluh tahun itu terisi 64 kali peperangan. Sungguh, sebuah manuver yang menggambarkan betapa Rasulullah saw dan para sahabatnya senantiasa menumpahkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya secara maksimal dan tiada henti. Sehingga, tidak ada waktu untuk beristirahat dan mengandai-andaikan hal-hal yang sifatnya duniawi.

Kalau hal itu kita ibaratkan sebagai air yang mempunyai potensi besar untuk menerjang apa saja, maka aliran air itu tiada pernah berhenti. Jika Al Aquran surat Al Baqarah 195 itu kita hubungkan dengan pengibaratan air ini. Kita bisa katakan bahwa, jika air itu berhenti dan tidak lagi mengalir, maka air itu akan rusak, kotor, menjadi sarang nyamuk, bau, dan berubah warnanya.

Begitu pun dengan potensi jihad yang ada pada diri kita. Bila potensi jihad itu kita berhentikan, baik jihad da’awi, jihad ta’limi, jihad irsyadi, jihad tarbawi, jihad bina’i, jihad qitali dan jihad-jihad lainnya, maka potensi itu pun akan bernasib sama dengan air itu. Oleh karena itu wajar jika Allah Swt memperingatkan para sahabat akan datangnya tahlukah kepada mereka, bila mereka meninggalkan jihad, menyibukkkan diri dengan urusan pertanian dan perkebunan.

Sayyid Qutub dalam bukunya, Hadzad-diin, Kerusakan akan terjadi pada diri dan jiwa manusia (nafsul insan) karena rukud (diam, tidak bergerak, atau istilahnya tidak berharakah, tidak mengalir). Akibat rukud adalah:

- Ruhnya membusuk akibat stagnasi.
- Himmah-nya (semangatnya) istirkha’ (mengendor, lembek, loyo, tidak kenceng).
- Nafs (jiwanya) rusak dikarenakan rakha’ (bergelimang harta dunia) dan tharawah (tidak teruji dan terlatihnya jiwa itu dengan hal-hal yang berat).
- Pada akhirnya, seluruh kehidupan menjadi rusak gara-gara rukud, atau hanya bergerak pada bidang syahwat saja, sebagaimana yang terjadi pada bangsa-bangsa yang mendapat cobaan dalam bentuk kemewahan hidup.

(Dikutip dari Buku Musyafa Abdurrahim, Membina Ruh Baru, Hal 89-93)


.::.Alim Mahdi.::.

Tuesday, 3 February 2009

Andai Pahlawan Penakluk ‘DAVOS’ itu SBY, Presiden kita!

Rakyat Indonesia sambut kepulangan SBY atas keberaniannya melawan kecongkakan Perez di Davos. Maka, negara mana lagi yang akan meniru keberanian Indonesia?

Itulah bentuk dukungan kepada Perdana Menteri Turki , Recep Tayep Erdogan. Sejak pukul sembilan malam, ribuan orang telah bergerak menuju bandara internasional Ataturk, Istanbul. Mereka tampak melambai-lambaikan kain berwarna merah, yang ditengahnya terlukis bintang terapit bulan sabit: bendera Turki. Sebagian yang lain lagi mengibarkan bendera Palestina. Mereka berteriak: "O, büyük bir lider", "Selamat datang pahlawan kami!", "Selamat Datang 'Penakluk' Davos!", "Ahlan wa Sahlan Pemimpin Baru Dunia!".

Di malam yang gigil itu, mereka bergerak berduyun-duyun untuk menyambut kedatangan Perdana Menteri mereka, "Khoja Haji" Rajab Thayyib Erdogan (Turki: Recep Tayep Erdogan), yang baru saja meninggalkan KTT Ekonomi Internasional Davos yang digelar di Swiss.

Sebagaimana diketahui, di forum internasional World Economic Forum (WEF) yang digelar pada Kamis (29/1) kemarin itu, Erdogan melakukan aksi walk out sebagai protes keras kepada forum yang tidak memberikannya waktu untuk memberikan tanggapan atas pernyataan Presiden Israel, Simon Perez.

Perez, yang duduk tepat di samping kiri Erdogan, berbicara sekitar setengah jam mengenai alasan dan "pembelaan diri" Israel yang menyerang Gaza. Perez menyatakan jika serangan “teror” yang terus dilakukan Hamas adalah penyebab utama kenapa Israel pada akhirnya memutuskan untuk menyerbu Gaza.

"Hamas terus menembakkan roket-roket ke pemukiman Israel. Sebab itulah pada akhirnya Israel memutuskan untuk menyerang Gaza, markas Hamas," ungkap Perez dengan nada berapi-api.

Saat mengemukakan pernyataannya, Perez berbicara dengan nada tinggi,
juga beberapa kali menatap wajah dan mata PM Turki yang duduk tepat di samping kanannya.
Ketika giliran berbicara tiba pada Erdogan, PM Turki tersebut menanggapi pernyataan Peres dengan tanggapan yang tak kalah tegas, namun tetap dengan nada bicara yang kalem.

Ini sebagian cuplikan dialog tersebut:

Transkrip :
(moderator):
this has been a powerfull and passionate debate
ini telah menjadi perdebatan yang sangat seru dan penuh kemarahan
it’s a debate that could go on tonight for hours
ini debat yang bisa berlangsung sampai larut
but we’ve already gone well passed our closing time
Akan tetapi kita telah melewati batas waktu akhir
(erdogan: excuse me)
(erdogan: Maafkan saya)
(moderator): mr. prime minister…i would apologize to prime minister eragon
(moderator) : Pak Perdana Menteri… Saya mohon maaf kepada Perdana Menteri Erdogan
(erdogan: one minute.. one minute)
(erdogan: Satu Menit.. satu Menit)
(moderator: ) well..ok..but i’m gonna hold you to one minute please
(moderator: ) Baiklah.. ok.. tapi saya hanya akan membatasi satu menit saja
(PM Erdogan)
president perez you are older than i am and you have a very strong voice
presiden peres anda lebih tua dari saya dan anda bersuara keras anda
i feel that you perhaps feel a bit guilty and that’s why perhaps you have been so storng in your voice ..so loud
Aku rasa anda memiliki sedikit perasaan bersalah dan mungkin karena itulah anda bersuara keras.. sangat keras
but you killed people i remember the children who died on the beaches
Akan tetapi anda membunuh banyak orang, Aku ingat anak-anak yang terbunuh di pantai-pantai
and i remember two former prime ministers in your country who said that they felt they were very happy when they were able to enter palestine on tanks
dan aku ingat dua mantan perdana menteri di negaramu yang berkata bahwa mereka merasa amat Senang ketika mereka berhasil memasuki palestina dengan tank-tank.
now there were former prime minister who have said that they have been very satisfied with themselves when they entered palestine on tanks
Juga ada bekas perdana menteri yang mengatakan Sangat berPuas diri ketika tank-tank mereka menyerbu Palestina.
and i find it very sad that people applaud to wht you have said because there were many people who have been killed
dan menyedihkan sekali ketika orang-orang memberikan tepuk tangan kepada apa yang telah anda ungkapkan /utarakan /katakan karena telah begitu banyak orang yang terbunuh
and i think it is very wrong and it is not humanitarian to applaud to any action which have had that kind of a result
dan aku kira sangat salah dan sangat tidak berperikemanusiaan untuk memberikan tepuktangan kepada tindakan yang telah menimbulkan banyak korban
i’ve taken many notes but unfortunately there is no time to respond to all of them but i will just say two things
Saya telah membuat banyak catatan tapi kurang beruntung karena tidak banyak waktu untuk merespon semuanya tapi saya akan mengungkapkan dua hal saja
moderator: (excuse me.. we can’t start the debate again..pls.. we just dont hv time.. we really do need to take people to dinner)
moderator: Maaf..Kita tidak bisa memulai debat ini lagi.. Maaf.. Kita tidak mempunyai waktu.. kita harus segera untuk makan malam)
pls let me finish, let me finish
ijinkan saya menyelesaikannya..ijinkan saya menyelesaikannya.
First: sixth commandement: “thus shall not killed” but we are talking about killing.
Pertama: Poin ke Enam (dari 10 commandment) mengatakan : “maka janganlah membunuh” tapi yang terjadi adalah pembunuhan.
second point: Gilad Atzmon, says that it’s really barbarian.. and way beyond what it should be
Point Kedua : Gilad Atzmon, mengatakan itu perbuatan yang benar-benar Barbar… dan jauh melampaui batas..
then there is the international proffessor from Oxford university Avi Shlaim has said that .. this…
Kemudian seorang profesor dari Universitas Oxford, Avi Shlaim mengatakan demikian juga.
thank you very much 2x
Terima kasih ..terima kasih sekali
so i dont think i will come back to Davos after this because you dont let me speak
aku pikir aku tidak akan datang lagi ke Davos Setelah ini karena anda tidak mengijinkan aku untuk bicara
the president spoke for 25 minutes and i hv spoken only half of that.
presiden perez berbicara selama 25 menit dan saya hanya berbicara separo waktu dari itu.

Kemudian Erdogan Meninggalkan mengambil catatannya dan meninggalkan forum tanpa menengok kepada perez dan Ban ki-moon. dan di sambut oleh Amr Musa (ketua liga arab) dan dijabat tangannya.

Sungguh tindakan yang Berani yang semestinya di lakukan oleh seorang Muslim, melihat saudara-saudaranya di bantai. Seandainya para pemimpin dunia Islam termasuk Indonesia, khususnya dunia Arab, Punya Nyali seperti Erdogan tentulah, Darah Saudara kita di Gaza tidak akan begitu saja tertumpahkan, Namun nyatanya para pemimpin Arab utamanya, tidak lain hanyalah menjadi kaki tangan israel. Bahkan sampai detik inipun mesir masih menjadi penghalang di perbatasan Rafah.

Erdogan dengan Partai Keadilan dan Pembangungannya bukan kali ini saja berusaha memperjuangkan Nilai-nilai Islam, bahkan sebelumnya Partai yang dipimpinnya telah berhasil menggolkan masalah Jilbab, Sesuatu yang selama bertahun-tahun menjadi barang Haram dipakai di lembaga-lembaga resmi kenegaraan di Turki, Namun Alhamdulillah berkat perjuangan Partai Islamnya, sedikit demi sedikit nilai nilai Islam itu mulai di kembalikan, semoga saja Turki yang dahulu menjadi Pusat kekuasaan Islam dengan Khilafah Ustmaniyahnya akan kembali menjadi Benteng Umat lagi setelah di hancur leburkan oleh Mustafa Kamal ataturk, seorang laki-laki bejat keturunan Yahudi sisilia yang di susupkan ke militer Turki untuk kemudian mengkudeta Sang Khalifah Abdul Hamid II dan mengganti sistem khilafah menjadi sistem sekuler, saking sekulernya sampai Azan pun tidak boleh pakai Bahasa Arab.

Demi Allah saudaraku, Kalau saja semua pemimpin pemerintahan Berani dan hanya takut kepada Allah saja, Niscaya Masjidil Aqso, tempat suci Ketiga setelah Makah dan Madinah, tidak akan di injak-injak kaki-kaki najis Yahudi. Wallahu’alam.

Thursday, 1 January 2009

Awal yang Menentukan...

Sejenak mari kita merefleksi perjalanan hidup kita. Coba kita list keberhasilan besar apa saja yang telah kita buat selama tahun 2008 ataupun 1429 yang sebentar lagi berakhir ini? Buatlah daftar 12 keberhasilan dari perencanan hidup yang kita lakukan di awal tahun. Jika itu ada, maka bisa dipastikan kita memang benar-benar serius dalam menapaki setiap estafet-estafet hidup yang selalu penuh warna dan gejolak. Beruntunglah orang-orang yang demikian. Ada kenikmatan hidup dari upaya mengejar cita-cita yang telah ditancapkan.

Berbeda dengan bagi kita yang tak dapat menganalisa keberhasilan dari aktifitas kita. Ada ketertinggalan ”manajemen diri” di sana. Tak hanya sekeder manajemen diri saja sebenarnya, tapi ada manajemen keummatan yang terbengkalai di sana. Padahal, sebagai makhluk pengemban risalah kenabian, kita tak boleh melupakan peran kita untuk mengajak manusia agar tetap selalu berada dalam kebaikan.

Berakhirnya tahun 2008/1429 rupanya telah menjadi bagian dari mozaik sejarah masa lalu yang boleh jadi menelurkan catatan buruk atau karya-karya besar. Kita tak tahu batasan sampai kapan usia kita ke depan. Tapi yang jelas, estafet tahun berikutnya (2009/1430) sudah siap menyambut kita. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi perjalanan waktu itu dengan perencanaan akan gagasan-gagasan besar untuk perbaikan umat. Tidak lagi mempertanyakan apa yang akan kita lakukan, tapi bagaimana kita secara cerdas dan kreatif merealisasikan ide-ide kita.

Saat ini umat kita belumlah selesai keluar dari beragam problematika sosial politik dan ekonomi yang memprihatinkan. Umat kita dikatakan bodoh dan terbelakang itu benar adanya, walau tidak semuanya bisa digeneralisir. Umat kita dikatakan miskin juga tidak bisa dikatakan salah. Sebab memang kenyataannya para keluarga miskin banyak yang orang Islam. Belum lagi persoalan konflik internal antar kelolmpok yang dipicu oleh kesalahan penafsiran aliran dan afiliasi politik yang beberapa bulan terakhir ini sering tersulut.

Dari persoalan itulah sebenarnya kita dituntut agar bisa mengambil peran strategis dalam menciptakan stabilitas, perbaikan, edukasi, dan hal-hal positif yang bersifat konstruktif pada umat. Umat sekarang menanti peran dan tanggung jawab kita sebagai sekelompok orang yang ”terpilih” punya kesadaran konstruktif. Semoga saja, lompatan estafet tahun yang akan kita jalani kedepan, dapat menciptakan warna-warna kehidupan yang lebih indah dan membuahkan karya-karya besar bagi umat.


.::.Alim Mahdi.::.

Wednesday, 10 December 2008

Kurban Terakhir

Pada Idul Kurban tahun lalu, saya masih ingat ada sebuah dusun bernama Karang Sasak di kabupaten Karangasem. Waktu itu informasi yang saya terima, pada Idul Kurban tahun 1427 H, Karang Sasak adalah salah satu dusun dari 5 dusun yang mendapatkan daging kurban dari 1 sapi yang di bagi 5 dusun. Padahal, kalau tidak salah Karang Sasak dihuni oleh 113 kepala keluarga. Secara logika matematis, jika satu keluarga minimal punya dua anak, maka di Karang Sasak terdapat 565 jiwa. Bisa jadi lebih dari itu. Bisa dibayangkan betapa sedikitnya bagian mereka, karena setiap dusun hanya mendapatkan 1/5 bagian dari seekor Sapi Bali yang tidak begitu besar. Namun pada Idul Kurban 1428 H, dengan kepercayaan para donatur kurban tahun tersebut, alhamdulillah DSM bisa memberikan jumlah daging kurban lebih banyak dari sebelumnya.

Tahun ini, tentu kita bertekad untuk bisa mendistribusikan daging-daging kurban yang biasanya berlimpah di perkotaan dialihkan lebih banyak ke warga miskin di dusun-dusun di berbagai kabupaten di Bali. Merekapun sangat mengharapkan hal itu. Walau hanya sekerat daging atau tulang belulang yang bisa dijadikan sup pelezat aroma, namun hanya itukah yang bisa mereka harapkan bila bulan kurban tiba. Tak lebih, karena untuk menjadi seorang pekurban tentulah sangat berat bagi mereka, kecuali dengan kehendak Allah.

Tahun ini pula kita juga berharap, masyarakat muslim di Bali mengalami peningkatan finansial dan ekonomi. Para dhuafa juga sudah pasti mendoakan hal itu. Sehingga dengan peningkatan itu akan meningkat pula keinginan untuk menyambut seruan ibadah haji dan berkurban. Maka dari sinilah hukum keberkahan berlaku. Bahwa kelimpahan kekayaan haruslah menjadi jalan kebaikan untuk membantu orang lain dan memberikan rona kebahagiaan dengan berbagi daging kurban. Pada taraf yang lebih rasional dalam keberkahan berkurban, maka para orang kaya bisa menyisihkan dananya untuk mengangkat para dhuafa. Bentuknya bisa berupa pendanaan untuk usaha ternak penyiapan hewan kirban. Jadi bila tahun depan para pekurban ingin berkurban lagi, maka mereka tinggal membeli hewan kurban kepada pada ”dhuafa” yang telah berdaya tadi.

Mengesankan memang, bila setiap Bulan Kurban kita menyaksikan peningkatan jumlah pekurban dan penurunan jumlah dhuafa yang biasanya menerima daging kurban. Artinya, persoalan kemiskinan yang menempatkan para dhuafa selalu diberi benar-benar terkikis. Namun realitanya sekarang berbicara lain. Butuh waktu yang cukup panjang untuk memimpikan hal itu. Sebab saat ini diberbagai daerah di Bali dusun-dusun miskin yang jumlahnya ratusan, masih menyebar di mana-mana. Sulitnya menjangkau wilayah mereka adalah persoalan tersendiri yang juga sama rumitnya untuk merealisasikan sebuah pembahagiaan dan pemberdayanan.

Namun bila tekad kita sudah bulat, masalah seberat apapun yang kita hadapi pasti akan menuai hasil akhir yang mengesankan. Apa lagi bila kita sudah sepaham tentang konsep kebersamaan dalam setiap amal kebajikan. Anda sebagai sumber harapan, DSM sebagai fasilitator penyaluran dan pendistribusian daging kurban. Satu hal yang tak bisa kita ketahui, bisa jadi Idul Kurban kali ini adalah yang terakhir bagi kita. Maka itu berkurbanlah dengan segenap kemampuan dan keimanan yang kita miliki. Selamat membahagiakan dhuafa!



.::.Alim Mahdi.::.

Tuesday, 5 August 2008

Orang Miskin, Bukan Sekadar Angka

Orang Miskin, Bukan Sekadar Angka
Wahyu Susilo

Hari ini, 17 Oktober 2007, diperingati sebagai Hari Penanggulangan Kemiskinan Sedunia. Dalam dua tahun terakhir, kita selalu disuguhi sengketa statistik tentang turun-naiknya angka kemiskinan.
Dari otoritas negara, seperti lazimnya rezim yang berkuasa, tentu mengklaim telah terjadi penurunan angka kemiskinan. Di sisi lain, di kalangan ekonom non-mainstream, meragukan klaim itu bahkan mengemukakan fakta sebaliknya, jumlah orang miskin Indonesia cenderung meningkat.

Sengketa angka kemiskinan
Meski kedua pihak bersengketa soal angka kemiskinan, namun keduanya meletakkan analisisnya pada ukuran yang sama, yaitu analisis statistik kuantitatif. Perkembangan ilmu ekonomi memang makin eskalatif meninggalkan cabang ilmu sosial lainnya, saat analisis matematik (ekonometri) menjadi tulang punggung ilmu ekonomi. Namun, ilmu ekonomi juga makin meninggalkan "kemanusiaan"-nya saat kebutuhan dasar hidup matinya manusia hanya diwujudkan dalam "angka-angka".

Agak disesalkan ketika Millennium Development Goals (MDGs), yang menjadi komitmen global penanggulangan kemiskinan pada awal abad milenium 2000, lebih banyak menggunakan indikator-indikator kuantitatif dalam elaborasi tujuan dan targetnya.

Ini menjadi salah satu kelemahan MDGs saat menjadi tools advokasi menagih janji dan komitmen negara penanda tangan pakta global ini. Dalam dua kali penyajian progress report MDGs di Indonesia tahun 2004 dan 2005, progress report itu juga penuh angka statistik yang dingin dan kaku, tanpa penjelasan kualitatif yang mampu berbicara.
Dalam situasi seperti itu, para pegiat organisasi nonpemerintah mengembangkan analisis sosial untuk mengidentifikasi pokok soal kemiskinan melalui metode participatory poverty assesment (PPA).

Metode ini hendak mengembalikan "fitrah" analisis kemiskinan yang seharusnya berdasarkan kebutuhan kaum miskin secara riil. Dengan demikian keluaran dari analisis ini adalah narasi-narasi kualitatif yang tak lazim dipakai kaum tekno-ekonom kita yang mendominasi perencanaan kebijakan makro-ekonomi.

Narasi-narasi kualitatif itu bisa menjadi pedoman perumusan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Satu-satunya kebijakan penanggulangan kemiskinan yang pernah disusun melalui metode ini adalah Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan yang diadopsi menjadi Bab 16 dari Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009.

Sayang, dokumen itu tak dijadikan road map penanggulangan kemiskinan. Dokumen ini menjadi tak ada artinya saat negara (dalam hal ini konspirasi eksekutif-legislatif) memproduksi legislasi kebijakan makro-ekonomi yang berkiblat pada pasar dan investasi, sesuai dengan petuah lembaga multilateral dan donor multilateral yang menjadi sumber utang pendanaan pembangunan.

Kebijakan tanpa perasaan
Jika kemiskinan hanya diperdebatkan dalam angka, tabel, atau grafik statistik, tak akan ada penghayatan atas kemiskinan yang benar-benar dirasakan rakyat Indonesia.
Dan perdebatan itu pun hanya menghasilkan kebijakan tanpa perasaan karena disusun tanpa penghayatan dan pelibatan langsung pada realitas kemiskinan. Perda Ketertiban Umum yang berlaku di DKI Jakarta merupakan contoh nyata kebijakan yang dibuat tanpa perasaan dan penghayatan.

Hampir selalu ada penyangkalan dari otoritas kekuasaan saat media atau organisasi nonpemerintah melansir realitas kemiskinan (misalnya kematian akibat kelaparan/gizi buruk) yang dialami komunitas miskin di suatu wilayah.

Penyangkalannya bisa berupa penciutan/pengurangan data, dengan menyatakan, jumlah yang mati/lapar/mengalami gizi buruk masih kecil persentasenya.
Bentuk penyangkalan lain adalah pengabaian data itu, bahkan sering berkilah, yang mengalami kematian/gizi buruk/kelaparan bukan orang yang ber-KTP wilayah itu (kaum pendatang).

Berbagai penyangkalan tersebut mengisyaratkan, memang ada pemakluman bahwa orang miskin perlu ada sebagai tumbal bagi mereka yang kaya.

Orang miskin sebagai "kriminal"
Selain hanya ditulis sebagai "angka", orang miskin kerap pula dianggap dan diperlakukan sebagai "criminal”.

Masih dalam suasana Idul Fitri, saat seharusnya semua orang (termasuk pejabat) membuka lebar-lebar mata hatinya, sudah menebar teror dan ancaman untuk orang miskin yang mencoba mengadu nasib di Ibu Kota.

Petinggi Ibu Kota menyatakan akan menangkap dan memulangkan ratusan ribu pendatang baru (mayoritas orang miskin) yang selalu datang ke Jakarta pada masa arus balik Lebaran. Apakah Ibu Kota ini hanya milik orang berpunya?

Jika ancaman itu benar-benar dilakukan dan Pemprov DKI menggerakkan Satpol PP untuk Operasi Yustisi, apa yang dilakukan Pemprov DKI persis yang dilakukan Pemerintah Malaysia menggerakkan Rela "memangsa" orang Indonesia di Malaysia.
Menegaskan komitmen

Soal komitmen penanggulangan kemiskinan, Indonesia tak hanya menjadi bagian dari pakta global MDGs, tetapi juga telah menjadi negara peratifikasi Kovenan PBB untuk Hak-hak Ekonomi Sosial Budaya (melalui UU No 11/2005). Kovenan itu bahkan lebih operasional dan mengikat secara yuridis karena mengamanatkan adanya harmonisasi perundang-undangan di tingkat nasional.

Meski demikian, hingga kini belum terlihat gelagat politik dari pemerintah untuk mengharmoniskan UU bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Masih konservatifnya politik anggaran yang tercermin dalam APBN menjadi bukti pengabaian implementasi ratifikasi kovenan pokok ini.

Hingga kini APBN kita hanya menjadi pelestari birokrasi biaya tinggi, membuka peluang korupsi, tetapi masih terlalu jauh untuk memfasilitasi upaya mencerdaskan dan menyehatkan warga negara, apalagi membebaskannya dari belenggu kemiskinan.

Wahyu Susilo Bekerja di International NGO Forum on Indonesian Development (INFID); Campaigner Global Call to Action Against Poverty (GCAP).

Saturday, 5 July 2008

Tahun 2008: Angka Kemiskinan Menurun?

Fantastik…, angka kemiskinan menurun menjadi 15,42 persen. Kita perlu memberikan apresiasi kepada pemerintah atas hal ini. Sebagaimana pada Selasa (1/7/08), BPS melansir angka kemiskinan per Maret 2008 mencapai 34,96 juta jiwa atau 15,42 persen dari total penduduk. Sementara pada Maret 2007, angka kemiskinan 37,17 juta jiwa (16,58 persen). Dengan demikian, terjadi penurunan sebanyak 2,21 juta jiwa. Luar biasanya penurunan ini terjadi saat baru saja pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM sebesar 28,7 persen pada 24 Mei lalu.

Sayangnya, angka BPS ini menjadi kontradiktif. Terjadinya penurunan kemiskinan di kala masyarakat terjepit akibat dampak kenaikan BBM bertolak belakang dengan angka hasil BPS yang barusan di umumkan tersebut. Para pengamat ekonomi mempridiksi akibat kenaikan BBM yang diikuti kenaikan bahan-bahan pokok lainnya tersebut justru akan menambah kemiskinan masyarakat Indonesia. Lihat saja, pada bulan 28 Mei 2008, Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) menyebutkan, dampak kenaikan harga BBM membuat jumlah penduduk miskin menjadi 41,7 juta jiwa atau 21,9 persen dari penduduk Indonesia.

Terpaksa, logika orang awam yang menyatakan bahwa setiap adanya kenaikan kebutuhan pokok akibat kenaikan BBM akan diiringi dengan penurunan daya beli masyarakat menjadi tidak terbukti jika angka BPS tersebut benar.

Mari kita buka Fakta
Ternyata angka BPS itu adalah hasil per Maret 2008. Artinya penurunan jumlah penduduk miskin tersebut sebelum terjadinya kenaikan BBM. Lah ini jadi aneh. Kenapa baru diumumkan sekarang? Kenapa bukan survey bulan Juni setelah BBM naik?

Tentu tidak salah bila, banyak orang yang mangatakan bahwa hasil survey BPS yang diumumkan tersebut adalah tidak lebih dari sekedar Iklan Politik untuk menaikkan citra pemerintah. Iklan politik sah-sah saja. Tapi bukankah lebih patut dan lebih elegan data yang disampaikan adalah data yang lebih uptodate sehingga tidak ada kesan memanipulasi data atau menyamarkan persoalan subtantial tentang kemiskinan di Indonesia.

Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Marxensius Tri Sambodo bahwa metode yang digunakan BPS untuk mengukur angka kemiskinan sangat lemah, khususnya menyangkut waktu penelitian. Pemerintah, melalui BPS meneliti pada bulan Maret yaitu ketika masa panen raya di sektor pertanian, serta pada saat harga BBM belum baik. Tentu saja hasil yang didapat menunjukan angka kemiskinan menurun. (http://www.suarapembaruan.com/)

Itulah susahnya jika penanggulangan kemiskinan menggunakan indikator kuantitatif dalam elaborasi tujuan dan targetnya. Dan analisis statistik kuantitatif akan mudah dipermainkan hanya dengan mengubah angka indikatornya.

Menurut BPS, orang disebut miskin apabila pendapatannya kurang 1 dolar amerika. Sedangkan menurut Bank Dunia adalah orang yang berpendapatan kurang dari 2 dolar amerika. Jika angka 1 dolar dirubah menjadi 2 dolar,maka berapa juta lagi orang menjadi miskin? Atau sebaliknya angka 2 dirubah menjadi angka 1 dolar sebagai indikator kemiskinan maka berapa juta keluarga yang tiba-tiba berada di atas garis kemiskinan atau menjadi sejahtera? Betapa mudahnya menentukan seorang yang dianggap miskin atau tidak dengan hanya mengklik angka tertentu!!

Pendekatan analisis statistik kuantitatif dalam data kemiskinan cenderung tidak memanusiakan manusia. Apabila sejahtera dan tidak sejahtera hanya dinilai dengan angka, tabel atau grafik statistik.

Kebijakan Yang Tidak Manusiawi
Jika kemiskinan rakyat kita hanya diberdebatkan dalam angka, tabel atau grafik statistik. Maka akan menghadirkan kebijakan tanpa perasaan dan tidak ada penghayatan.

Orang miskin dianggap kriminal, mereka diteror, diburu, dan ditangkap bak pencuri ayam. Sering kita perhatikan penyangkalan data oleh otoritas penguasa. Ketika media atau NGO melasir berita kematian akibat kelaparan atau gizi buruk, berkilah dengan alasan masih kecil persentasenya. Bentuk lain adalah pengabaian data, bahwa yang mengalami kematian akibat kelaparan dan gizi buruk adalah bukan orang yang ber-KTP di wilayahnya (kaum pendatang). Bahkan penerima BLT pun harus ber KTP. Padahal, sejatinya orang miskin banyak yang tidak ber-KTP.

Jika baru-baru ini di media ada ribut-ribut sekolah menolak menerima pendaftaran anak sekolah yang tidak mempunyai Akte kelahiran. Akankah manusiawi apabila yang tidak ber-KTP tidak diijinkan mencari makan dalam wilayah republik tercinta ini.

Pernahkah kita merasakan kepedihan dan penderitaan saudara-saudara kita? yang mengadu nasib menjadi TKI di luar negeri. Mereka dikejar, diburu, ditendang dan ditangkap karena tidak mempunyai “KTP”. Ternyata di negeri sendiri diperlakukan tidak jauh berbeda dengan di negeri orang. Nasib orang miskin, …dimana lagi mereka harus mencari makan!!?. Wallahu’alam

Thursday, 15 May 2008

BLT, Rawan Konflik Sosial

Bantuan Langsung Telas, Itulah bahasa plesetan orang Bali dari kalimat Bantuan Langsung Tunai kepanjangan dari BLT. Bahkan dari beberapa spanduk demo menolak kenaikan BBM ada yang bertuliskan “Bantuan Langsung Tewas”. Dan banyak yang meragukan efektifitas BLT. “Apakah tidak ada cara lain selain BLT?” para pengamat mempertanyakan. Jika data yang diberikan oleh pemerintah tidak akurat, maka akan menimbulkan masalah baru dan berpotensi terjadi keributan dan konflik sosial.

Sebagai aktifis zakat dan sosial di Bali, dan sering berhadapan dengan orang miskin atau rumah tangga miskin, saya masih tidak yakin tentang keakuratan data orang miskin penerima BLT yang disodorkan pemerintah. Sembilan puluh persen (90%) dari orang miskin Bali yang dibantu oleh yayasan yang saya aktif di dalamnya (Dompet Sosial Madani Bali) adalah orang miskin yang lepas dari perhatian pemerintah alias tidak masuk data orang miskinnya pemerintah.

Rencana baru pemberian BLT sebagai kompensasi kenaikan harga BBM saat ini terkesan terburu-buru sehingga data penyaluran BLT adalah data lama yang belum sempat diperbaruhi, sehingga banyak keluarga miskin yang belum tercover. Dan fenomena ini terjadi hampir diseluruh Indonesia, terbukti dalam wawancara terhadap beberapa kepala daerah yang ditayangkan di setation TV baru-baru ini menyatakan bahwa mereka ragu terhadap data penyaluran BLT yang telah dibuat dan khawatir terjadinya konflik sosial. "Sebab kalau tak direncanakan secara matang malah menjadi potensi ribut," kata Camat Detusoko Johanes Vitalis Tote, Minggu (18/5), di Kabupaten Ende, Flores , Nusa Tenggara Timur (NTT).

Banyak masyarakat yang tidak memahami kriteria miskin dan yang berhak menerima dana BLT yang ditetapkan oleh pemerintah. Karena itu perlu sosialisasi terutama untuk memberikan pemahaman kepada warga tentang kriteria keluarga miskin yang ditetapkan sebagai penerima BLT.

Dan sosialisasi yang cukup efektif adalah bekerja sama dengan kepala desa atau klian banjar dengan menempel data penerima dana BLT di bale banjar masing-masing seperti halnya sosialisasi Data Pemilih dalam Pilkada atau Pemilu. Dengan begitu diharapkan masyarakat akan bisa melihat langsung siapa saja yang terdaftar menerima dana BLT sehingga jika terjadi kekeliruan dan kekurangan warga langsung bisa merespon dan melaporkannya.

Duuhh…, Jika yang menerima Bantuan saja bisa Langsung TELAS, apalagi yang berhak tapi tidak terdaftar alias orang miskin tapi tidak dapat BLT?. Maka bisa-bisa mereka Langsung TEWAS!. Wallahu'alam.

Tuesday, 6 May 2008

Pendidikan... Oh Pendidikan

Pendidikan adalah mutlak bagi generasi kita. Karena mutlaknya itu, maka tak satupun dari generasi itu boleh terlantar hingga tak sekolah. Hal ini adalah tanggung jawab kita sebagai orang yang melihat fenomena terpuruknya pendidikan kita. Bangkitnya pembangunan sosial dari arus bawah tidak boleh terhenti pada langkah-langkah normatif, empati dan semangat memperbaiki an sich. Tapi harus masuk pada tataran eksekusi program yang dirasakan langsung oleh kalangan miskin baik yang bersifat instan maupun pengentasan.

Pendidikan di negeri ini tumbuh dan berkembang layaknya debu di musim kemarau. Banyak, namun semakin ke atas, ke atas dan tak tersentuh oleh kalangan tak berpunya. Menjadikan sebuah angan yang kian meredub dikikis oleh ketiadaan penghasilan. Seorang kawan pernah menunda pendidikan anaknya untuk masuk ke sekolah dasar. Lantaran biaya yang harus dibayarnya tak mampu dijangkau oleh cucuran keringat kerjanya. Ironis, karena ia bekerja pada sebuah lembaga penyedia beasiswa. Bukan sebab oleh tak ada alokasi, namun lebih dari pada harga diri yang tak tergadaikan. Namun sesungguhnya yang dipertanyakan adalah, mengapa kini bianya sekolah jadi berlipat-lipat hingga sulit terjamah?!

Pendidikan kini dikelola dengan sangat modern. Fasilitas gedung dan alat-alat peraga serba representatif dan hightech. Tata kelolanya dibuat senyaman mungkin bagi anak didik untuk belajar. Ruangan ber AC. Halaman luas lengkap dengan fasilitas bermain. Katanya, inilah sebab mengapa pendidikan mahal. Seorang ayah berfikir, oh, rupanya pendidikan sekarang sudah menjadi lahan bisnis yang menjanjikan bagi para pemilik modal. Bisnis pendidikan, istilahnya. Kalau bisnis, berarti sangat kecil peluang untuk bisa berempati terhadap masuknya anak dhuafa agar bisa merasakan fasilitas pendidikan elit itu. Bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali peluangnya. Akhirnya, anak-petani sekolah apa adanya di sekolah yang kurang bermutu. Yang belajarnya ala kadarnya. Atau bahkan memilih tidak sekolah. Saya jadi teringat sekolahnya lintang dan kawan-kawan di cerita Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Miris.

Pendidikan oh pendidikan. Di Bali, kata banyak berita di televisi dan koran lokal, banyak anak remaja melakukan aksi bunuh diri dengan cara gantung diri atau menenggak racun serangga. Sebabnya ada yang frustasi dengan pacar, nunggak biaya sekolah dan tak kunjung diberi oleh orang tua, dan ada juga karana tak diberi uang jajan. Memilukan. Pendidikan di negeri ini kurang memperhatikan pembentukan mental anak didiknya. Bahkan lebih banyak memarginalkan pendidikan mental-spiritual. Apakah sudah sedemikian timpang pendidikan kecerdasan dan pendidikan moralitas?

Pendidikan mutlak harus dibenahi. Tidak untuk diperingati harinya saja setiap setahun sekali. Tapi siapapun yang hari ini merasa tidak puas dengan pendidikan anak-anak kita, ayo kita lawan momok-momok pendidikan: mahalnya biaya, kualitas rendah, rendahnya perhatian pendidikan mental spiritual. Partisipasi masyarakat dalam meminimalkan momok-momok itu adalah modal sosial yang menjadi senjata ampuh kebangkitan pendidikan di negeri ini. (Direktur DSM Bali)

Saturday, 19 April 2008

Kemiskinan Dan Ritual Mewah

Putu Setia, Kemiskinan Dan Ritual Mewah
Ironis sekali, angka kemiskinan di Bali terus meningkat dari tahun ketahun. Pulau Bali yang dijuluki Pulau Sorga, Pulau Dewata, dan entah apalagi, kini merana karena salah urus. Konsep pembangunannya tidak jelas. Tidak ada kebijakan yang strategis tentang masa depan Pulau ini.

Yang lebih tragis lagi angka kemiskinan juga muncul di pinggir-pinggir kawasan wisata. Nelayan Bali di Bualu dan Benoa misalnya, tetap terhimpit beban hidup karena sulitnya mencari sumber penghasilan.

Sementara pantai mereka sudah “tergadaikan” kepada hotel-hotel besar dan mereka tak mendapat apapun dari gurita pariwisata ini. Jadi sama sekali tidak benar, kawasan wisata memberikan perbaikan hidup untuk lingkungan masyarakat sekitarnya.

Inipun bisa dilihat dikawasan kuta. Selintas nampak masyarakat hidup berkecukupan. Tapi masyarakat mana? Bukan masyarakat Bali, mereka adalah pendatang yang memang lebih tangguh. Penduduk pendatang di Kuta sudah melebihi dari penduduk asli.
Pertumbuhan penduduk pendatang memang sangat luar biasa di Kabupaten Badung da Kodya Denpasar. Bisa jadi ramalan orang bahwa di tahun 2010 jumlah orang Bali yang beragama Hindu sudah kalah dibandingkan dengan jumlah pendatang yang umumnya beragama Islam, terutama di Kodya Denpasar da Kabupaten Badung. Dengan begitu suatu saat ada kabupaten di Bali yang memberlakukan syariat Islam.

Kemiskinan di pedesaan juga semakin kentara. Sudah banyak gelanangan dan pengemis (gepeng) yang ternyata adalah orang Bali pedesaan. Mereka sudah tidak tahan mengalami tekanan hidup dan lari ke tengah kota menadahkan tangannya untuk meminta-minta. Sementara pekerjaan yang tabuh dilakukan orang Bali di masa lalu, seperti menjadi pelacur sekarang sudah mulai “dikerjakan” wanita muda Bali, apalagi pemerintah memperkenalkan istilah Pekerja Seks Komersial.

Adakah orang-roang Bali yang serius membantu mereka? Mungkin ada, tetapi jumlahnya tidak banyak, dan jauh dibandingkan dengan selayaknya. Yang justru banyak membantu orang-orang Bali yang miskin ini adalah yayasan atau lembaga yang bernapaskan agama bukan Hindu, dan yang paling gencar adalah yayasan atau lembaga dari kalangan Kristiani, apa boleh buat ini harus disebutkan. Tentu saja, secara formal bantuan mereka itu tidak ada kaitannya dengan agama, misalnya, dibantu tetapi harus pindah agama. Tidak seformal itu. Mereka membantu berdasarkan alasan kemanusiaan. Cuma, lambat laun yang terjadi adalah beralihnya agama dan konon hal ini lebih disebabkan oleh orang Bali yang dibantu itu ingin “membalas jasa”, bukan dipaksa pindah agama. Bagaimana kebenaran sejatinya, tentu sulit untuk diketahui.

Diam-diam, selain yayasan yang bernapaskan Kristiani, ternyata yayasan atau lembaga yang bernapaskan Buddhis juga banyak bergerak”mengatasnamakan kemiskinan” di Bali. Seiring dengan semakin banyaknya muncul Vihara di Bali, gerakan kaum Buddhis ini “berjasa” menolong orang-orang miskin di Bali melalui lapangan pekerjaan.

Lalu, kemana orang-orang Bali yang beragama Hindu yang mempunyai ajaran Manusa Yadnya? Mereka melihat kemiskinan itu sebagai karma yang dibawa dari kehidupannya terdahulu, sehingga mereka tak perlu dibantu, mereka harus mengangkat harkat dirinya sendiri. Kalaupun ada orang Bali yang kaya dan mau menyumbang, mereka akan menyumbang pembangunan pura, atau menyumbang untuk ritual mecaru, pekelem, dan sebagainya, dibandingkan menolong sesame manusia. Ajaran Manusa Yadnya mereka yakini sebagai ritual semata-mata, yaitu nelu bulanan,otonan, mesangih, pewiwahan dan sebagainya. Bukan membantu sesame manusia untuk terbebas dari penderitaan hidup.

Ritual-ritual itupun dilakukan dengan serba mewah. Orang-orang kaya di Bali banyak memberi contoh bagaimana melaksanakan ritual dengan kemewahan. Mereka mendatangkan Sulinggih dalam jumlah banyak, membeli banten yang seabrek, membuat peralatan yang wah, dan waktu yang dihabiskan untuk ritual ini berhari-hari. Celakanya, perilaku orang kaya ini menjadi teladan dilapisan menengah, bahkan turun kebawah. Orang yang tidak punya, ikut-ikutan membuat ritual yang besar. Bisa dibayangkan apa yang kemudian dilakukannya, menjual harta warisan untuk membiayai ritual itu. Mereka pun menganggap hal ini tidak salah, malah sangat wajar dengan alasan: “warisan itu memang disiapkan oleh leluhur untuk ritual”.

Maka, kemiskinan terus menjalar di Bali. Kemiskinan yang sambung-menyambung karena biaya yadnya yang sangat tinggi. Orang-orang Bali menjual tanahnya untuk membeli janur, kelapa, itik, buah impor, sementara pedagang yang dating dari jawa memberikan pasokan barang itu dengan senang, sambil lambat laun membeli tanah-tanah orang Bali.

Sebenarnya pencerahan sudah banyak dilakukan oleh para Sulinggih agar umat Hindu di Bali mulai mengurangi biaya yadnya dengan membuat ritual yang sederhana. Namun, pencerahan para Sulinggih ini kalah karena masih ada Sulinggih lain yang dalam prakteknya sering muput upacara yang ritualnya besar. Bahkan mereka terlibat dalam karya itu. Ini sebuah lingkaran setan yang harus segera dihentikan. Perlu gerakan penyadaran dharma untuk menyelamatkan Bali.
(Putu Setia, Bali yang Meradang - Putu Setia dikenal kritis menyikapi agama, pendiri Ashram Manikgeni, Wakil Ketua Sabha Walaka. Buku yang langka dan penting untuk melihat perjalanan agama Hindu di Bali).

Monday, 21 January 2008

Sisi Lain Pulau Bali

Potensi kekayaan alam Indonesia dan keindahannya bisa untuk mensejahterakan rakyatnya, Pulau Bali salah satu contoh karena Keindahan alam dan budayanya menjadi obyek tujuan wisata, dismping dapat meningkatkan perekonomian rakyat dan meningkatkan devisa tentunya… Bali yang dikenal dengan ‘pulau dewata dan masuk tujuan utama wisata dunia, banyak yang beranggapan bahwa Bali adalah pulau kaya yang tidak ada orang miskinnya seperti anggapan saya pada mulanya.

Untuk melengkapi tulisan saya: Bali : Potret Kemiskinan dan Potensi Zakat, Pada tahun 2006 kami dan yayasan Dompet Sosial Madani (DSM) Bali sebagai salah satu lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan zakat, infak, dan shadakah berusaha untuk membantu mengentaskan kemiskinan yang terjadi di Bali dengan melakukan survei ke 9 daerah di wilayah Bali untuk selanjutnya segera diambil tindakan yang efektif.Tujan survey adalah : Untuk mengetahui kantong-kantong kemiskinan di Bali, terutama yang banyak dihuni oleh warga muslim, mencari tahu jenis-jenis fasilitas dan bantuan yang tepat untuk masing-masing daerah dan membuat data base yang memuat profil penduduk muslim miskin di Bali.

Survey yang kami lakukan tanggal 29 Februari sampai dengan tanggal 17 Juni 2006 dengan sasaran penduduk muslim yang berdomisili di wilayah Karangasem, Klungkung, Gianyar, Bangli, Buleleng, Tabanan, Jembrana, Badung dan Denpasar yang dipilih berdasarkan rekomendasi sebagai warga miskin dan perlu dibantu oleh tokoh setempat. Banyaknya sampel di tiap-tiap desa/kampung dibatasi kurang lebih 10 orang dengan pertimbangan telah mewakili anggota populasi yang lain.

Dari hasil survei yang dilakukan, dapat diketahui bahwa dari 413 responden yang meliputi 67 desa/kampung di seluruh Bali, diketahui bahwa sebagian besar bermatapencaharian sebagai buruh/tukang (29,5%), pedagang (21,1%), dan petani (16,5%) dengan penghasilan rata-rata kurang dari 200 ribu/bulan (52,5%) dan sebagian besar memiliki hutang (77,5%). Dilihat dari latar belakang pendidikan, sebagian besar responden telah tamat SD (33,7%) dan tidak tamat SD (27%).

Berdasarkan survei yang dilakukan didapatkan hasil berupa program-program rekomendasi yang bisa dilakukan di kantong-kantong muslim di wilayah Bali, sebagai berikut : Modal Bergulir, Alat-alat pertanian/peternakan/perikanan, Klinik keliling, Ketrampilan, Pemasaran produk, Bimbingan Keislaman, Sarana umum, MCK, Tandon air, Listrik, Renovasi masjid/mushollah, Jalan, Beasiswa, dan Pemberdayaan pesantren.

Survey tersebut kami lakukan pada taggal 29 Februari sampai dengan 17 Juni 2006, tentu masih banyak kekurangan, karena keterbatasan dana dan tenaga. Survey tersebut masih di kantong-kantong muslim dan masih banyak kantong-kantong miskin lain yaang belum kami survey. Semoga tahun 2008 ini kami bisa melanjutkan dan menguptade data hasil survey (peta mustahik Bali) tahun 2006.

Saturday, 19 January 2008

Tahun ke 1429: Rabun dekat kaum muslim

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."(Qur’an Surat: Al Ahzab: 56)

1. Krisis keteladanan
Krisis terbesar di Dunia ini adalah krisis keteladanan, Krisis ini jauh lebih dasyat dari krisis energy, global warming, kesehatan, pangan, transportasi dan air. Karena dengan absennya pemimpin yang visioner dan integritas tinggi, maka masalah air, konversi hutan, kesehatan, transportasi, pendidikan, hukum dan peradilan, politik dan budaya semakin rusak dan semakin parah.

Akibatnya pendidikan semakin mahal, manajemen transportasi amburadul, hutan semakin rusak, air semakin tercemar, banjir dan longsor mengepung negeri, korupsi semakin menggila, sampah menumpuk di mana-mana, subsidi bantuan tidak tepat sasaran, pornografi menggila, narkoba masuk sekolah, smackdown mewabah sampai halaman rumah tempat mainan anak-anak kita.

"Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu". (Qur’an Surat: Al Mu’minun : 71)

2. Rabun dekat kaum muslim
Ketidakmampuan kaum muslimin melihat perjalanan hidup Rasulullah SAW secara lengkap dan holistic. Kemudian memformulasikan nilai-nilai keteladanan tersebut ke dalam suatu model yang mudah diteladani.

Saat ini kita melihat Rasulullah SAW dalam satu sisi sudut pandang saja (onesided). Rasulullah dipandang hanya sebagai pemimpin keagamaan saja. Dan daerah toritorialnya di Masjid dan Mushollah saja. Itupun toritorial yang sepi dikunjungi oleh kaum muslimin. Kita lebih sering berada di kantor, bank, pasar, kampus, sekolah, proyek, bahkan di gedung pemerintah maupun gedung DPR.

Rasulullah adalah teladan bagi pelaku bisnis dan wirausaha, keluarga, dakwah, sosial dan politik, system hukum, pendidikan, strategi militer dan lainnya.
Rasulullah adalah teladan bagi para Remaja dan Pemuda, Rasulullah merupakan suami yang penuh cinta dan kasih sayang kepada istri-istrinya, rasulullah seorang ayah teladan, mertua yang pengertian, kakek yang penyayang.

Rasulullah mengajari kita bagaimana hidup bertetangga, bertoleransi dalam perbedaan dan sukses menyatukan manusia yang berlainan ideology dan agama.

Rasulullah pernah kaya dan juga pernah miskin sebagaimana manusia yang lain, maka Rasulullah mengajari kita bagaimana hidup dalam keadaan bercukupan harta dan bagaimana hidup dalam kekurangan. Sungguh Rasulullah adalah tauladan yang paling baik.

Rasulullah adalah khalifah (presiden) dan ahli militer. Dalam strategy militer, Rasulullah telah memimpin 9 perang dan 53 expedisi militer dalam waktu 13 tahun. Satu jumlah operasi lapangan yang jauh lebih besar dari pengalaman teritorial seorang komandan angkatan bersenjata manapun. Tapi kenapa jarang ada studi yang mendalam oleh cendekiawan atau personil militer tanah air terhadap strategi militer Rasulullah.

Kita harus paham, bahwa Rasulullah meninggalkan teladan yang bisa kita Copy Paste juga meninggalkan teladan yang berupa inspirasi dan kebijaksanaan tentang banyak hal.
Ironi memang, ketika setiap kali uswah hasanah Rasulullah Saw akan dibawa keluar dari masjid dan mushollah. Seolah-olah tak hubungan kuat antara sunnah rasulullah dan kehidupan bisnis, fiskal dan moneter. Malah bersikap sinis dan beranggapan apologik, teladan yang dibawa Rasullah seakan berada di atas langit, mustahil untuk di contoh.

Banyak di antara kita membaca shalawat-shalawat panjang, diba’ dan barzanzi, terutama di setiap maulid Nabi. Tetapi semua itu sebatas dikumandangkan di masjid, madrasah, rumah-rumah dan majelis taklim saja. Saat kembali ke kantor ternyata kantor kita kosong dari nilai-nilai akhlak dan budi pekerti seperti yang diajarkan dalam barzanzi. Tidak ada sepotong haditspun, yang jumlahnya puluhan ribu itu, termuat dalam Manual dan Standard Operating Procedure (SOP) perusahaan kita.

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah". (Qur’an Surat: Al Ahzab: 21)

3. Tantangan
Rasulullah SAW adalah hamba Allah yang luar biasa, namun bukan tidak mungkin untuk diteladani dan diikuti jejak-jejak kesuksesannya.
Rasulullah meninggalkan teladan yang bisa langsung dicopy paste, dan ada yang harus kita kembangkan karena banyak berupa inspirasi dan kebijaksanaan.
Dengan cara mengkaji dan mendalami serta tarbiyah yang instensif terhadap Islam dan keteladanan Rasulullah Saw yang lengkap dan holistik, sehingga kita menjadi pribadi muslim yang beraqidah lurus, ibadah yang benar sampai kemudian menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, umat, bangsa dan Negara. Amin

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".(Qur’an Surat: Al-Hasyr: 18)