Paket SOP Toko Retail Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Toko Retail Modern.

Key Performance Indicator (KPI)

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : Key Performance Indicator (KPI).

Konsultan SOP Perusahaan

Master SOP adalah Konsultan SOP dan Sistem Bisnis untuk bisnis yang Autopilot.

Paket SOP Garmen / Konveksi

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Garmen / Konveksi.

Paket SOP Resto Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Resto Modern.

Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Tuesday, 8 June 2021

Dosa Yang Gugur Karena Keletihan Kita

Kawan, Kita Yakin bahwa Allah sudah mengatur Rezeki kita. Dan kewajiban kita adalah bekerja dan ikhtiar untuk mendapatkannya, sedangkan hasil adalah hak Allah yang menentukan.

Karena bekerja adalah ibadah, maka niatkan kerja dan bisnis Anda untuk mencari keberkahan dan ridho Allah semata.

Kawan, ada dosa yang gugur karena pahala kita sholat,

Ada dosa yang gugur karena Pahala kita sedekah,

Dan ada juga dosa yang gugur karena pahala kita haji dan umroh.

Tapi kawan, ada dosa yang hanya bisa gugur karena kesusah payahan kita dan keletihan kita dalam mencari nafkah.

Rasulullah bersabda: 
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan dan penyakit (yang terus menimpa), kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya. (HR al-Bukhari)”

Kawan…
Kita dapat memahami betapa Islam sangat menghargai seseorang yang mau bekerja, mau bersusah payah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sehingga, pekerjaan apa pun, selama tidak melanggar syariat Islam, yang dikerjakan dengan bersungguh-sungguh dan penuh keikhlasan, dinilai sebagai ibadah di sisi Allah SWT.

Tidak heran jika kemudian mereka yang demikina terkenal sebagai generasi yang di siang hari bagai singa, tetapi di malam hari mereka laksana para rahib.

'Ruhban fil lail wa fursan fin nahar'. Rahib (pendita) di malam hari, dan singa di siang hari. 

Kalau malam, mereka seperti rahib. Mereka hanya sedikit tidur. Mereka menghidupkan malamnya, dengan bersujud, bermunajat dengan Rab-nya.

Siang harinya, mereka benar-benar menjadi “Fursan an-nahar“, kesatria pilih tanding tangguh, tahan banting, yang sabar, istikamah, dan teguh dengan perjuangannya.

Mereka adalah generasi yang mampu memadukan kesungguhan dalam bekerja dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah SWT.

Tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk berleha-leha, bermalas-malasan, atau bahkan tidak mau bekerja.

Selama hayat masih dikandung badan, maka pekerjaan itu akan melekat pada seseorang.  Tidak ada kata berhenti untuk bekerja. Yang ada mungkin jenis dan intensitasnya yang berbeda.

Allah SWT mengingatkan kita akan hal ini: "Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (QS Alam Nasyrah: 7).

Wallahu a'lam

Alim Mahdi
Master SOP Indonesia

Saturday, 14 March 2020

Ujian Sebagai Sarana Mendekatkan Diri Kepada Tuhan

Jadikan setiap ujian menjadikan diri lebih dekat kepada Tuhan. Dalam mengarungi samudera kehidupan, kita banyak menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang silih berganti mewarnai kehidupan kita, bahkan belum selesai masalah yang satu muncul lagi masalah yang lain begitu seterusnya.

Sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah negeri ujian, dimana setiap insan tidak dapat lari dari ujian.




Ketahuilah, ujian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya, sesuai dengan kesanggupan masing-masing, sebagaimana firman Allah SWT "Allah tidak memberikan kesulitan kepada seseorang hamba melainkan sesuai dengan kesanggupannya". [Al-Baqarah/2: 286].

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ

Percayalah, habis gelap terbitlah terang, Allah SWT menyembinyikan matahari, lalu menghadirkan petir dan hujan mambuat kita bersedih padahal sesungguhnya sesudah itu Allah SWT ganti dengan pelangi yang indah.

Bahwa setiap ujian yang Allah SWT bebankan kepada kita sesungguhnya memiliki berjuta-juta hikmah, antara lain ada tiga mutiara dibalik ujian dan cobaan hidup sebagai berikut :

1. Antara lain Ujian adalah hadiah dari Allah SWT
Suatu ujian dari Allah SWT, sesungguhnya bukan berarti bahwa Allah SWT bermaksud menganiaya hamba-Nya. Tetapi sebaliknya, ujian merupakan kasih saying Allah SWT kepada hamba-Nya karena dengan ujian tersebut ia akan dapat mengetahui manisnya iman, dzikir, dan taqarrub bilah.

2. Ujian meningkatkan keimanan
Terkadang, seorang hamba hanya mengingat Allah SWT saat menghadapi ujian, yang dapat menyadarkannya bahwa ia adalah makhluk yang lemah, tidak berdaya, dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.

"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. . {al-Kahf/18: 7}

اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا

Thursday, 12 March 2020

Positif Belum Tentu Baik, Menyikapi Covid-19 (Corona)

Negatif juga belum tentu buruk, lho kok bisa? Misalnya dalam wabah Corona, positif berarti tertular Covid-19 yang berarti bencana, jika negatif justru terhindar dari bencana. Wabah corona semakin menggila, korban semakin bertambah, bahkan Bali pun terkena imbasnya, pariwisata sepi sehingga rekan-rekan yang bisnisnya terkait dengan sektor pariwisata ini berdampak pada penjualan bulan ini yang ngedrop. Lebih-lebih setelah terdapat kasus bule meninggal setelah kena virus corona ini.

Yang kita lakukan adalah bersabar dan tidak kehilangan semangat untuk terus berusaha, berdoa adalah senjata utama.

Berkaitan dengan judul tulisanku ini. Memaknai istilah itu tergantung konteks dan waktunya. Kitapun sering kesulitan menyampaikan keunggulan VALUE yang kita punya karena komunikasi yang buruk.

Padahal Value dalam bisnis adalah identitas dan ciri pembeda dari yang lain. Untuk memahami Value kita perlu mengalami (experience). Pesan saya pada team Avengers: "Ingat cerita tentang bunyi bunga kol dan kentang di KMB Avengers tadi pagi".... hehe..hehe 😁🤭😊🤣

Terus, apakah komunikasi itu butuh skill? Tentu saja butuh skill. Ingat ya, komunikasi adalah skill sekaligus attitude. Cara menyampaikan adalah 'skill', 'content'nya menunjukkan attitute penyampainya.

Sukses lebih banyak ditentukan oleh ‘attitude’, bukan pada ketinggian ‘skill’. Attitude bisa juga dilihat dari kualitas perkataan kita terhadap orang lain, baik secara lisan maupun melalui tulisan / sosial media.

Mungkin teman2 bertanya, attitude di dalam perkataan itu seperti apa? Perkataan yang kita ucapkan melalui lisan dapat membuat orang lain bahagia, tetapi sebaliknya juga bisa membuat sengsara. Lisan ibarat sebilah pedang yang tajamnya bisa membunuh kita. Tapi bisa menjadi kapas empuk dan lembut yang bisa meninabobokan kita. Itulah attitude.

Gunakan lisan Anda dengan bijaksana, semua ada konsekwensinya, pilih pahala atau dosa!.

Perkataan yang baik itu ibarat pohon yang kokoh dan baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Pohon itu memberikan manfaat dengan cara memberikan buahnya pada setiap musim.

Yuk tetap kita bersabar waluapun dalam kesulitan, selalu tebarkan Epos dan semangat berbagi!

Wednesday, 5 February 2020

Menjadi Sebaik - Baik Manusia

Materi pengajian dengan judul : "Menjadi Sebaik - Baik Manusia, Menurut Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam". disampaikan pada Pengajian Rabu Pagi, Musholla Baiturrahim Lantai 1 Gedung BI (Bank Indonesia) Bali. Denpasar, 5 Februari 2020, Denpasar, 5 Februari 2020.

MANUSIA mana yang tidak menginginkan menjadi baik?
Setiap orang menginginkan menjadi sebaik-baik manusia bukan hanya di mata manusia, tapi lebih dari itu menjadi sebaik-baik manusia di mata Allah dan Nabi-Nya.

Andai label ‘Sebaik-baik Manusia’ itu bisa dibeli, maka tentu saja orang-orang berharta ak an lebih dulu mendapatkan predikat ‘Sebaik-baik Manusia’ itu. di mata Allah dan Rasul-Nya.Bersyukurlah kita terlahir sebagai seorang muslim yang mukmin. Karena rupanya, untuk mendapatkan titel ‘Sebaik-baik Manusia’ itu tak perlulah merogoh kocek yang banyak. Tapi perlu perjuangan yang besar dan keimanan yang kuat.


KEBAIKAN sering orang mengukur kebaikan itu dengan materi, Banyak pula orang yang mengira rezeki itu hanya berupa HARTA!

Balasan kebaikan bisa berupa : HARTA,  TAHTA,  KATA CINTA.

Rezeki Tidak Hanya Harta.

عَنْ أَبي هُرَيرةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقةٌ ، كُلَّ يَوْمٍ تَطلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ : تَعدِلُ بَينَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ، فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقةٌ ، والكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقةٌ ، وبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقةٌ ، وتُمِيْطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ )) . رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Balasan Allah Bagi yang Berinfak di Jalan Allah.
 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedakah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah.”
(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 2989 dan Muslim, no. 1009]

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
 Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Surat Al-Baqarah Ayat 261)



Menjadi ‘Sebaik-baik Manusia’ menurut Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Bpk. Ahmad Ahdad, Dari Mojokerto
Pertama, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang mempelajari al Quran dan mengajarkannya. Hal ini seperti disebut dalam hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027).

Kedua, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang baik akhlaknya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari no. 6035).

Ketiga, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang paling diharapkan kebaikannya dan orang lain pun merasa aman dari kejelekannya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan (orang lain) merasa aman dari kejelekannya.” (HR. At-Tirmidziy no. 2263).

Keempat, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang paling baik kepada keluarganya. Hal ini seperti disabdakan oleh baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR. At-Tirmidziy no. 3895).

Kelima, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang faqih (faham) dalam masalah syariat Islam. Ini seperti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
فَخِيَارُكُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا
“Maka sebaik-baik orang di antara kalian di masa Jahiliyyah adalah yang paling dalam Islamnya apabila mereka memahami (ajaran Islam).” (HR. Bukhari no. 3374).

Keenam, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang gemar memberikan makanan kepada orang lain dan menjawab salam. Dalam sebuah hadis, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda,
خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَرَدَّ السَّلَامَ
“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang memberikan makanan dan menjawab salam.” (HR. Ahmad 6/16).

Ketujuh, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang senang merapatkan shaff dalam shalat. Tentang hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,
خِيَارُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِي الصَّلَاةِ
“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempunyai bahu paling lembut di dalam shalat.” (HR. Abu Daawud no. 672).

Kedelapan, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang panjang usianya dan baik pula amalannya. Tentang hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
خِيَارُكُمْ أَطْوَلُكُمْ أَعْمَارًا، وَأَحْسَنُكُمْ أَعْمَالًا
“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling panjang usianya dan paling baik amalannya.” (HR. Ahmad 2/235 & 2/403).

Kesembilan, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang menepati janji. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
أُولَئِكَ خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُوفُونَ الْمُطِيبُونَ
“Mereka adalah para hamba pilihan di sisi Allah pada hari Kiamat, yaitu orang-orang yang menepati janji dan berbuat baik.” (HR. Ahmad 6/268).

Kesepuluh, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab no. 129, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 5787).

Semua adalah pilihan. Termasuk hidup ini juga pilihan. Semua ada di tangan kita; dengan cara apa kita mau menjadi ‘Sebaik-baik Manusia’. Wallahua’lam.

Friday, 1 May 2015

Menakar Cinta Kita Pada Rasulullah

Sahabat, kita kerap berderai air mata tanda cinta pada Nabi Agung Muhammad saw. Bahkan di pusara beliau bagi yg sudah haji/umroh tangis itu menjadi-jadi. Rindu itu menggunung.

Tapi, sungguhkah kita cinta beliau? Apakah kita juga mencintai segala hal yg beliau cintai? Sebagian kita kerap tdk tau kenapa menangis. Apakah karna ingin jumpa? Jikapun berjumpa apakah wajahnya mau menatap kita dg cinta atau malah berpaling?

Sahabat, dalam hari2 kita sungguh banyak yg berat untuk kita cintai pada apa yg dicintai kanjeng Nabi. Pun, kita jga sulit menghindari apa2 yg tdk disuka oleh Nabi meski itu halal.

Thursday, 11 October 2012

Menebar Benih Kebaikan Dari Pohon Kersen

Misalkan saja Anda berada di sebuah lingkungan yang perilaku kerjanya buruk. Bukan perilaku satu atau dua orang oknum. Melainkan perilaku umum yang sudah menjadi kebiasaan dan budaya kerja. Mereka juga tahu perilaku itu buruk. Namun mereka terus menjalankannya. Dan atasannya pun seperti tutup mata saja. Apa yang akan Anda lakukan?

Anda mengingatkan mereka. Itu betul. Setelah Anda ingatkan satu atau dua kali, mereka mengatakan;”Siapa sih elu? Anak kemarin sore. Sudah diam saja lu!” Apakah Anda masih akan menyerukan untuk melakukan kebaikan lagi? Masih. Itu bagus. Dan ketika Anda melakukannya lagi; mereka tidak marah lagi. Melainkan ramai-ramai mengucilkan diri Anda. Mereka akan menerima Anda kembali, jika Anda mau ’insyaf’ a.k.a berhenti mengusik mereka dan bersedia menjadi bagian dari mereka. Apakah Anda akan tetap mengajak mereka melakukan perbaikan, ataukah Anda akan berhenti seperti yang mereka minta?

Cukup banyak orang muda. Pendatang baru. Fresh blood, jika Anda ingin menyebutnya demikian. Yang masuk kedalam sebuah organisasi, lembaga atau perusahaan. Kehadiran mereka diharapkan membawa angin segar untuk memperbaiki suasana. Menebarkan nilai-nilai yang lebih baik. Menjadi contoh bagi gerakan perubahan dalam organisasi. Namun, idealisme itu hanya bertahan beberapa saat. Setelah berbaur, justru Fresh Blood itu menjadi bagian dari sistem lama yang sudah mengakar. Hal ini tidak hanya berlaku di instansi atau lembaga pemerintah saja. Di perusahaan swasta juga tidak jauh berbeda. Tidak mudah memang untuk melakukan sebuah perubahan. Khususnya mengubah keburukan perilaku yang sudah terasa nikmatnya selama bertahun-tahun. Lalu diganti dengan kebiasaan baru yang meskipun lebih baik, lebih terhormat, dan lebih mulia; tapi lebih sedikit nikmat duniawinya.

Sekalipun begitu. Kita masih bisa melihat orang-orang yang tetap gigih berjuang untuk melakukan perubahan. Bahkan ketika lingkungannya tidak memberi respon positif. Mereka terus saja menjaga diri, dan menyerukan ajakan kepada kebaikan. Layak untuk kita bertanya; bagaimana orang-orang itu bisa tetap istikomah dalam kebaikan ditengah lingkungan kerja yang sedemikian buruknya?

Ditanah kosong samping rumah saya, tumbuh pohon ceri. Sebenarnya pohon kersen, buka ceri. Tapi orang-orang disini menyebutnya demikian. Padahal, dimasa kecil kami menyebutnya kersen. Buahnya yang merah dan melimpah, seolah menantang kami untuk memanennya. Hampir setiap hari anak-anak memanjat pohon itu untuk memetik buahnya. Namun, buah kersen itu tidak ada habis-habisnya. Bekerjasama dengan burung pun tidak menjadikan kami berhasil menaklukkan kegigihan pohon kersen itu. Dia terus saja berbuah. Sampai akhirnya kami menyerah. Terlalu banyak dan melimpah ruah. Sehingga buah-buah itu berjatuhan, berserakan diatas tanah.

Oh, sia-sia saja dia berbuah. Karena tidak ada lagi yang sanggup memakannya. Seperti ajakan kepada kebaikan yang sering kita tebarkan. Sia-sia saja. Karena tampaknya tidak ada lagi orang yang mau mendengarkan. Mari perhatikan sekali lagi. Pohon kersen yang gigih terus berbuah itu. Dia mempunyai sedemikian banyak buah sehingga seberapa banyak pun yang mengambilnya pohonnya senantiasa dihiasi oleh warna merah yang indah. Kita, ketika berbuat dan mengajak orang lain melakukan kebaikan lainnya sering dihadapkan pada sekelompok orang yang ingin meredupkan cahaya kebaikan yang kita tebarkan. Tetapi, selagi ajakan kebaikan yang kita tebarkan itu jumlahnya lebih banyak dari yang sanggup mereka abaikan, maka nilai kebaikan itu akan tetap menghiasi keindahan karakter pribadi kita.

Anak-anak ditempat kami yang sudah pada bosan dengan buah kersen. Memanjat pohon. Memetik buahnya. Kemudian menginjak-injak buah itu sambil tertawa-tawa. Mereka berlomba. Siapa yang paling banyak menginjaknya, dialah pemenangnya. Di lingkungan tertentu, ajakan dan seruan kepada kebaikan itu sering menjadi bahan olokan, tertawaan bahkan injakan. Mereka mendengarkannya. Namun bukan untuk mengikutinya. Melainkan untuk balik mengejeknya. Persis seperti anak-anak yang menginjak-injak buah kersen itu. Anehnya, pohon kersen tidak sakit hati. Apalagi sampai mutung hingga kapok untuk berbuah lagi. Sepertinya pohon kersen itu sedang mengajari kita agar tidak patah hati ketika seruan kita kepada kebaikan malah direspon dengan keburukan. Sikap kasar orang lain. Bahkan penghinaan. Kata pohon kersen itu; ”Teruslah berikan buah manis kepada lingkunganmu, maka engkau tidak akan sakit hati lagi....” Teruslah tebarkan ajakan dan nilai-nilai kebaikan disekitarmu. Maka engkau tidak lagi terpengaruh oleh respon buruk lingkunganmu.

Bertahun-tahun sudah pohon kersen itu menemani keseharian kami. Buahnya tidak pernah berkurang. Sekalipun semakin banyak orang dan burung yang mengambilnya. Setiap sore hari, banyak orang berkumbul di pos satpam RT yang letaknya persis dibawah pohon kersen itu. Tak sehari pun sepi. Dan tak sehari pun orang tidak mengambil buahnya. Tapi teruuuus saja pohon kersen itu berbuah. Dan tak pernah sekalipun pohon kersen itu mengganti buahnya yang manis dengan sebutir kersen yang pahit. Kita kadang tergoda untuk membalas keburukan respon orang lain, dengan keburukan lagi. Makanya, sesekali kita mengganti kebaikan perangai kita dengan satu yang buruk. Misalnya. Balas memaki. Kalau perlu memberi pelajaran agar orang itu kapok. Pohon kersen itu tidak begitu. Dia. Terus saja memberikan buahnya yang manis. Sekalipun diperlakukan buruk, dia tidak mengubah rasa buahnya menjadi pahit. Kita. Sedang diajari untuk istikomah a.k.a. konsisten dalam mengajak orang lain kepada kebaikan. Meskipun terkadang respon yang mereka berikan sungguh sangat menyakitkan.

Suatu ketika di awal musim hujan. Tanah kering itu disapu guyuran air yang menyegarkan. Setelah berbulan-bulan tak tersiram, tiba-tiba saja tetes demi tetes anugerah langit membasahinya. Tak tampak lagi sebutir debu pun disitu. Sekarang tanahnya menjadi lembab lagi lembut. Beberapa hari kemudian, tumbuhlah rumput-rumput liar, dan... beberapa pohon kersen mungil. Dug. Jantung saya seperti ada yang menumbuk. Ternyata buah kersen yang berserakan itu telah tumbuh menjadi pohon-pohon baru. Pohon kersen itu telah menunjukkan kepada saya bahwa; sungguh tidak ada kesia-siaan atas setiap ajakan kepada kebaikan yang kita tebarkan. Meskipun kadang kita melihatnya terbengkalai tanpa seorang pun memperdulikannya. Sekalipun seruan yang kita lakukan itu seperti tidak ada yang mengindahkan.

Teman-temanku. Jika kita menebarkan ajakan kepada kebaikan. Tanpa kita ketahui, boleh jadi dibelahan dunia lain ada satu atau dua orang yang mendengarkan. Merenungkan. Lalu melaksanakan. Kemudian, pada saatnya nanti mereka meneruskan ajakan itu kepada orang lain. Mereka itu laksana pohon kersen mungil yang tumbuh dari buah yang terserak ditanah. Mereka adalah jiwa-jiwa murni yang tumbuh dari benih-benih kebaikan yang selama ini Anda tebarkan. Jadi, jangan bosan. Jangan bersedih hati. Jangan berhenti mengajak orang lain kepada kebaikan. Karena orang yang paling beruntung didalam hidupnya adalah yang ”Saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran....”. Itu bukan kalimat penghiburan dari saya. Melainkan firman Tuhan dalam surah 103 ayat 3.  Apakah Anda ingin menjadi orang yang beruntung? Kalau begitu; ayo kita tebarkan benih-benih kebaikan ini. Insya Allah. Kita akan menjadi orang yang beruntung itu. Melalui benih-benih kebaikan yang kita tebarkan. (Dadang Kadarusman)
  ANDA memerlukan SOP (Standard Operating Procedur) untuk Perusahaan ANDA!  Konsultasi Gratis... Hub. 08124683055
www.contohsop.com

Sunday, 13 May 2012

Do'a Kesembuhan dari Musholla As Syifa RS Sanglah

As Syifa adalah bangunan Musholla berukuran kira-kira 6 x 3.5 meter. Sebagaimana nama musholla ini, As Syifa adalah mushollah yang dibangun di dalam rumah sakit umum Sanglah Denpasar Bali.

Dibanding luas RS Sanglah, boleh jadi ukuran mushollah ini sangat kecil, tapi harapan dan do'a-do'a yang dipanjatkan kepada Yang Maha pembuat penyakit dan Maha Menyembuhkan dari dalam mushollah mungil ini pasti teramat besar untuk digambarkan.

Betapa dari musholla sederhana ini sanak keluarga, bapak, ibu, anak, dan kerabatnya memanjatkan do'a dengan khusuk untuk kesembuhan sanak keluarga atau handai taulannya.

Letak mushollah disamping instalasi pelayanan jantung terpadu dekat ruang nagasari. Masuk dari pintu pengunjung belok ke kanan arah ruang radiology.

Entah, apakah mushollah ini memiliki pengurus atau petugas khusus yang mengurusnya. Jika dilihat dari photo-photo kegiatan yang ditempel di dinding belakang, yang mengurus mushollah ini adalah pegawai muslim yg tergabung dalam Rukun Warga Muslim RS. Sanglah.

Jadwal sholat warna kusam tertempel di dinding sebelah kanan arah kiblat. Perlengkapan sholat, terdapat mukenah dan sarung dalam rak plastik 3 susun. Dan beberapa mushaf Alquran dan kursi kayu.

Jika Anda pada waktu sholat kebetulan sedang menengok keluarga, sanak keluarga atau teman yang dirawat di RS Sanglah, maka Anda bisa sholat berjama'ah di musholla harapan ini. (Am)

Tuesday, 8 May 2012

Hikmah - Ayam Goreng Hari Kelahiran

Cerita ini di forward dari Pak Ismail A Said, mantan banker dan Direktur Utama Dompet Dhuafa Republika, beliau saya anggap sahabat walaupun jauh lebih senior daripada saya, dan beberapa kali berjumpa dalam pertemuan Lembaga Pengelola Zakat Nasional saat saya masih direktur DSM Bali.

Ceritanya begini: Karena hujan yg tidak kunjung berhenti, akhirnya saya memutuskan menerobos hujan karena hari sudah malam. Dan sampai di Tegalega, perut sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya saya memutuskan mampir di warung nasi tenda dipinggir jalan.
Lagi asik menikmati pecel lele, masuklah seorang bapak, dengan istri dan 2 anaknya. Yang menarik adalah kendaraan mereka adalah gerobak dorong.

Lalu bapak ini memesan 2 piring nasi dan ayam goreng utk istri dan anaknya.
Pertamanya sih ga ada yg menarik, tetapi ketika saya selesai makan, ada yg menarik hati saya.
Ternyata, yang menikmati makanan itu hanya istri dan anaknya. Sedangkan sang bapak hanya melihat istri dan anaknya menikmati makanan itu. Sesekali saya melihat anaknya tertawa senang dan sangat menikmati ayam goreng yg dipesan oleh bapaknya.

Saya perhatikan, wajah sang bapak, walau tampak kelelahan terlihat senyum bahagia di wajahnya.
Lalu saya mendengar dia berkata pelan.." makan yg puas Nak, toh..hari ini tanggal kelahiranmu.."Saya terharu mendengarnya.. seorang bapak, dgn keterbatasannya, sebagai (mungkin) pemulung. memberi ayam goreng warung tenda dipinggir jalan, untuk hadiah anaknya.

Hampir menangis rasanya saya diwarung itu. Segera sebelum air mata ini tumpah, saya berdiri, dan membayar makanan saya dan juga dengan pelan saya bilang ke penjaga warung "mas, tagihan bapak itu, saya yg bayar dan tolong tambahin ayam goreng dan tahu tempe" Lalu lekas-lekas saya pergi. kisah ini kutulis, untuk bahan perenungan.

Bahwa Tuhan sudah memberikan yg terbaik untuk saya saat ini..., kita sering dan biasa makan di Sushi-Tei, Kentucky, Mc Donald, Hoka Hoka Bento, Pizza Hut dsb. Padahal bagi org disekitar kita, pecel lele pinggir jalan, adalah makanan mewah. Sungguh tak pantas bagi saya untuk mengeluh dan merasa kurang.

***Rasa syukur akan mengantarkan rasa bahagia. Semoga bermanfaat.

Monday, 2 April 2012

Maha Suci Allah, Dzat Yang Membagi-bagi Rizki

Syekh Ali Thantahwi, Allahu yarham, bertutur bahwa beliau mendengar cerita dari Syekh Shadiq Mujaddidi, dubes Afghan di Mesir waktu itu.

Suatu kali syekh Shadiq mendapatkan tugas dari negaranya (Afghanistan) untuk menjalankan misi diplomasi ke Uni Soviet (yang tersisa sekarang adalah Rusia).

Thursday, 1 September 2011

Ujian Pertama: Ngacirnya Jamaah Sholat 'Idh Sebelum Khutbah Selesai

Fenomena tahunan yang terus terulang, tidak lain adalah kekurang disiplinan jamaah terhadap tata cara sholat hari raya baik Fitri maupun Adha. Demikian juga terjadi dan saya saksikan kembali penyelenggaraaan Sholat Idhul Fitri 1432 H. di Lapangan Lumintang Denpasar Utara, Rabu (31/08). Dimana banyak jamaah sholat Idh meninggalkan tempat sebelum khutbah hari raya yang disampaikan oleh H. Roichan Muchlis selesai.

Kurang disiplinnya jamaah ini tidak hanya menyebabkan kurang sempurnanya sholat Idh yang kita kerjakan, tetapi juga akan mengurangi arti penting dari syiar islam. Begitu pentingnya syiar sampai – sampai Rasulullah saw. memerintahkan kaum wanita keluar pada hari raya Idhul Fitri dan Idhul Adha, yaitu gadis-gadis, wanita haid dan wanita-wanita yang dipingit. Khutbah Idh, baik Fitri maupun Adha dilaksanakan setelah shalat. Hukumnya tidak terpisahkan dari kesunnahan hukum shalat Idh. Mendengarkan khutbah hukumnya juga sunnah. Namun demikian mendengarkan ajakan dan seruan kepada ketaqwaan dan keterikatan pada Syariah Islam termasuk hal yang utama.

Dari sudut norma dan estetika juga kurang menarik dan kurang indah jika melihat kesemerawutan jamaah yang berebut pulang meninggalkan lapangan sementara sang khatib sendirian membacakan khutbahnya. Dan bisa jadi ini membuat syiar dakwah Islam tidak lagi indah dan kurang menarik lagi karena ketidaktertiban yang terjadi.

Terus terulangnya fenomena ini bisa jadi karena sebab pertama, jamaah kurang memahami tata cara sholat hari raya dengan benar. Sehingga harus dicarikan suatu upaya supaya mereka paham tata cara sholat idh, misalnya memberikan peringatan tentang hal ini sesaat sebelum sholat dimulai, tetapi tampaknya hal ini kurang efektif karena terbukti para jamaah kurang perhatikan dan cuek begitu saja. Cara lain adalah memberikan tema ceramah ramadhan tentang tata cara sholat idh kepada ustad atau mubaligh yang bertugas di malam terakhir ramadhan sehingga para jamaah memahami tata cara sholat Idh.

Kemungkinan sebab kedua adalah karena kondisi dan situasi tempat sholat. Maka ini sangat berkaitan kesiapan panitia penyelenggara sholat Idh mulai dari peralatan, pengaturan shaf, sound system dan pengamanan. Pengalaman yang terjadi adalah tidak adanya panitia yang khusus bertugas menjaga ketertiban shaf terutama yang melarang jamaah yang berusaha meninggalkan tempat sebelum khutbah selesai sehingga benar-benar proses sholat jamaah Idh berjalan dengan tertib.

Walaupun sholat Idh hukumnya sunnah, bukankah ini adalah ujian kita yang pertama atas kadar ketakwaan kita yang telah kita bangun mulai dari awal ramadhan dengan jalan perpuasa memenuhi seruan Allah selama sebulan penuh. Karena Takwah itu adalah taat, taat atas segala ketetapan dan ketentuan Allah dalam menjalankan syariatnya.

Friday, 12 November 2010

Nak, Ayah Mencintaimu

Kalau Anda seorang ayah pasti sering mendengar kalimat-kalimat berikut ini: “Ayah, aku sudah mandi.” Aku sudah sudah belajar lho, Pa.” Apa aku boleh ikut abi pergi?” Kalau bapak pulang, bawakan aku es krim ya?” Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah sikap kita saat itu? Apakah tanggapan kita seindah binar mata mereka? Apakah sikap kita semanis senyum mereka? Apakah jawaban kita sebesar harapan mereka? Apakah saat itu kita sudah menjadi yang seperti mereka inginkan?

Sebagai seorang ayah sungguh kita harus menyadari betapa anak-anak kita itu memerlukan senyum gagah kita. Mereka juga membutuhkan belaian sayang kita. Buah cinta kita itu selalu merindu dekapan mesra kita. Buah hati kita itu selalu menanti kecupan sayang kita di kening mereka. Yakinlah Anda bahwa tutur kata manis kita amat berarti bagi hatinya. Oleh-oleh yang kita hadiahkan begitu bermakna bagi jiwa mereka. Saat kita mengajak mereka bepergian rasa bangga memenuhi ruang-ruang kalbunya. Ketika kita tak berada di sandingnya, jiwa mereka terasa hampa.

Tentang buah hati kita itu, kekasih Allah, teladan kita, guru tentang cinta & kasih sayang kita, Rasulullah saw bersabda untuk kita para ayah,” Cintailah anak-anak dan kasih sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, maka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah satu-satunya yang memberi mereka rezeki.” Dalam riwayat lain dikisahkan ada seorang Arab Badui yang menemui Rasulullah saw dan berkata,” Mengapakah engkau menciumi anak-anak kecil, sedang kami tidak pernah melakukannya?” Maka Rasulullah saw bersabda,” Apakah kamu tidak takut bila Allah SWT mencabut rasa kasih sayang dari lubuk hatimu?”

Bagi anak-anak, kita para ayah adalah pahlawan. Menurut mereka kita adalah sosok gagah yang menentramkan hati mereka. Buah hati kita itu amat bangga terhadap keperkasaan kita. Mereka begitu mendamba perhatian dan kehadiran kita. Namun mereka tak pandai merangkai kata tuk mengungkap cinta. Mereka juga tidak mengerti cara membisikkan rasa rindunya. Mereka mencintai kita para ayah dengan bahasa yang sering tak mampu kita mengerti. Mereka menyayangi kita dengan gaya yang sering tak bisa kita pahami. Karena itu kita sering tak menyadari bahwa ada makhluk-makhluk kecil yang begitu mencintai dan membutuhkan kita.

Saat mereka mendekat, kita sering merasa terusik. Ketika mereka mengajak bicara, kita sering merasa terganggu. Waktu mereka bertanya, sering hati kita merasa tak nyaman. Tangisan mereka seperti suara petir bagi telinga kita. Teriakan mereka bagai badai yang menerjang jiwa kita. Padahal seperti itulah cara anak-anak mencintai kita. Begitulah cara mereka menyayangi kita. Dengan cara seperti itulah mereka ingin menyampaikan bahwa mereka amat membutuhkan kita. Hanya cara seperti itulah yang mereka mengerti untuk menyentuh cinta kita.

Boleh jadi kita belum mampu menjadi ayah yang indah untuk anak-anak kita. Saat mereka menangis kita malah membentaknya. Ketika mereka bertanya kita tidak menggubrisnya. Waktu mereka belajar, kita tidak ada di sisi mereka. Mereka sakit tanpa ada kita di sampingnya. Mereka sedih tanpa ada yang menghiburnya. Mereka jarang kita belai. Mereka jarang kita cium. Kita sering merasa terlalu mulia untuk bermain-main dengan mereka. Kadang pekerjaan kita membuat kita tak menyadari bahwa ada yang menanti-nanti kedatangan kita hingga tertidur di depan pintu rumah kita.

Sudah tiba saatnya bagi kita para ayah untuk mengerti bahasa cinta anak-anak kita. Kita harus memahami cara mereka dalam mencintai kita. Dengan demikian kita bisa menjadi seperti yang mereka pinta. Kita mesti berupaya menjadi seperti yang mereka harapkan. Kita harus menjadi pendengar yang menyenangkan saat mereka berbicara. Ketika mereka mendekati kita sehasta, kita mendekati mereka sedepa. Saat mereka memanggil, kita datangi mereka dengan sepenuh jiwa. Sewaktu mereka menangis, kita akan mendekapnya dengan penuh cinta. Kita juga tak akan pernah lelah tuk berbisik mesra,” Nak, ayah mencintaimu.”
.::.
by Hamy Wahjunianto

Friday, 22 October 2010

Baju-Baju Yang Menipu

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji.

Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.
"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.
"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.

Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.

.::.
Sumber: Rahmat Hidayat | http://www.facebook.com/home.php?#!/?sk=messages&tid=450053847769
.::.

Sunday, 17 October 2010

Sepenggal khitbah untuk akhwat fillah

Semilir angin berhembus di kesunyian. Sunyi yang kuharapkan akan memberikan ketenangan dalam membuat suatu keputusan. Sungguh sangat sulit mengambil keputusan itu. Bahkan mungkin takkan mampu ku penuhi permintaan itu. Ku lihat dan ku baca lagi.

“Ukhti, sekiranya tidak merepotkan Anti, sudilah Ukh memilihkan buat saya perhiasan dunia yang akan menggenapkan dien saya. Pasangan yang akan menghantarkan dan menyertai saya hingga ke jannah-Nya !”

Halaman 1 dari 7
Sejenak ku alihkan pandanganku dari untaian tulisan itu. Sunyi mulai menepi berganti gemersik dedaunan seolah ingin memberikan satu jawaban. Segenap pikiran mulai ku curahkan, mencoba mencari jawaban dari setiap kata yang ia tuliskan.

“Afwan, mungkin kedatangan surat ini cukup mengagetkan Anti. Bisa jadi pula ukhti memandang prosedur seperti ini kurang tepat. Tapi, ukh sendiri mungkin tahu bagaimana fisik murobbiku saat ini. Astagfirullah, bukan maksud saya memandang lemah semangat beliau karena fisik. Tapi kecelakaan lalu-lintas yang dialami beliau sebulan lalu menyebabkan saya tidak tega untuk meminta pertolongannya saat ini. Sedangkan saya butuh keputusan segera karena alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri dalam tahun ini. Ukhti teman lama yang sudah saya kenal, jadi kepada ukhtilah saya percaya dan berani meminta bantuan.”

Akhi…ya saya bisa memahami apa yang akhi rasakan. Tapi bukan karena keberatan memberi bantuan. Bukan pula karena ketidakpercayaan saya pada akhi. Ada hal lain yang sulit dimengerti. Entah kenapa akhir-akhir ini perasaanku ada yang berbeda. Ya Allah…, kenapa hati ini senantiasa bergetar ketika mendengar namanya. Bukankah selayaknya getaran ini muncul ketika mendengar nama-Mu?

Ku simpan kembali secarik kertas yang memberi bekas di hatiku. Ada luka. Kenapa bukan kepadaku, kenapa malah minta bantuanku? Ingin rasanya aku berikan secarik kertas tersebut pada murobiyahku. Angan melayang membayangkan indahnya tawaran murobiyah untukku. Sungguh…kan kuterima tanpa syarat!. Astaghfirullah…ada apa ini?

Sudah seminggu surat tersebut mengendap di kamarku. Hampir setiap saat kubaca tapi tak pernah sanggup ku jawab. Keegoisanku tetap bertahan. Aku tak rela jika mutiara hati yang telah lama bersemi ku tawarkan pada orang lain. Sungguh aku ingin memilikinya sendiri. Hanya untukku.

Surat kedua ? Hatiku berdegup keras menerima surat ini. Perlahan ku buka dan ku baca.

“Puji syukur saya panjatkan pada Ilahi Robbi. Ukhti, setelah beberapa lama berfikir keras, akhirnya ada satu penyesalan. Sungguh penyesalan yang sangat besar. Afwan, semoga ukhti belum mendapatkan bidadari yang ku inginkan. Saya cabut kembali permintaan surat pertama. Sungguh saya minta maaf. Mohon Ukh tidak marah atau kecewa atas kelancangan surat tersebut.”

Akhi, tak ada sedikitpun kemarahanku padamu. Ia hanyalah harapan yang kian padam. Perisai-perisai diri ini semakin pecah karena resah akan lepasnya sang panah. Panah yang ku harap tertancap pada diriku. Tepat di atas ulu hatiku yang telah lama memendam rindu. Rindu untuk bersatu yang tak pernah berani ku tawarkan padamu. Bukanlah engkau yang bersalah, tetapi akulah yang terlalu egois mengutamakan perasaanku.

***

Halaman 2 dari 7
“Nisa, kenapa sih akhir-akhir ini kami kelihatan tidak fokus?“ Anis teman liqoku tiba-tiba bertanya heran, „kamu banyak melamun akhir-akhir ini!“

“Mmm…eh tidak, tidak apa-apa.“ Jawabku pelan.

“Nisa sayang, kita sudah lama berteman. Hmm, nyaris lima tahun semenjak masuk kuliah dulu. Di majelis kholaqoh ini pula kita disatukan. Kasih sayang Allah telah menjadikan kita sudah seperti saudara. Jadi jika ada masalah, seandainya itu baik buat kamu, saya siap menjadi tempat curahan segenap isi hatimu!”.

Deras air mengalir dalam kegundahan hatiku. Tak terbendung dalam diriku sehingga menetes keluar di antara kedua mataku. Aku menunduk tak berdaya.

“Jika itu berat buat ukhti, marilah kita pikul sama-sama beban itu!“ satu ketegasan tawaran terlontar lagi di mulut sahabatku. Sungguh iman telah menjadikan kita seperti saudara, “Silahkan ukh, saya siap menjadi pendengar yang baik!“

“Anis, beban berat ini tak pantas disandang oleh orang lain karena ini hanyalah penyakit hati. Sungguh malu saya ini tatkala orang lain disibukkan dengan perjuangan-perjuangan dakwah, sedang aku memikirkan hal-hal yang rendah!“

“Sayang, sekecil atau sebesar apapun masalah, semuanya bisa merusak jalan dakwah jika tidak dianggap sebagai bagian dari dakwah!“ tatapan tajam Nisa menusuk ulu hatiku.

“Sampaikanlah apa masalahmu, jika malu anggaplah aku ini cermin sehingga engkau merasa bebas mencurahkan isi hatimu, bukankan kamu bilang kalau kamu suka berbicara sendiri di depan cermin?“

“Jazakillah ukh, rahmat Allah semoga senantiasa menyertaimu!“ Jawabku.

Seraya menatap lembaran mushaf di depan kami, akhirnya aku ceritakan keadaan yang menimpaku saat ini. Anis hanya terdiam dan kadang-kadang mengangguk-angguk sambil mengusap-usap punggungku sehingga membuatku nyaman untuk bercerita.

***

Halaman 3 dari 7
Dua minggu telah berlalu. Hari ini kami mengadakan pengajian gabungan. Alhamdulillah, ini biasanya momen yang paling aku tunggu karena saya bisa bertemu dengan rekan-rekan pengajian lainnya. Biasanya dalam pengajian tersebut, posisi duduk teman satu kelompok liqo’ dipisahkan dengan alasan supaya kami lebih berbaur dengan kelompok lain.

Pengajian gabungan kali ini diisi oleh murobbiyahku sendiri, Teh Nizma. Ada hal yang lebih menarik dari pengajian gabungan kali ini, yaitu tema yang diangkat adalah „Menjadi Bidadari“. Entah kenapa setiap ada tema yang berkaitan dengan materi merah jambu, semua akhwat selalu antusias mengikutinya. Mungkin memang sudah masanya.

Sebagai sosok murobbiyah yang sekaligus ibu rumah tangga, dalam penyampaian materi ini Teh Nizma terlihat terampil sekali. Alur materi mengalir lancar dan mudah dimengerti. Kadang diselingi canda yang membuat kami semakin antusias mendengarkannya.

Seperti biasa setelah selesai materi, sesi berikutnya adalah tanya jawab. Banyak sekali yang mengajukan pertanyaan. Dari sekian banyak pertanyaan tersebut, ada satu pertanyaan yang menggelitik pikiranku.

“Teh, hehe…afwan, kadang ada keinginan dalam diri saya untuk menawarkan diri agar dinikahi kepada ikhwan yang benar-benar saya cintai. Apakah hal ini merupakan perbuatan yang tercela mengingat kita berposisi sebagai seorang wanita?” tanya penanya tersebut penuh percaya diri. Kontan saja pertanyaan ini membuat peserta lainnya saling melirik dan tersenyum simpul penuh makna. Ada juga yang mengangguk-angguk tanpa sadar seolah-olah dirinyalah yang bertanya. Aku pun memberikan reaksi berbeda. Bingung dan malu. Entah kenapa aku merasakan bahwa akulah sang penanya yang sebenarnya.

***

Halaman 4 dari 7
“Hmm…silahkan cari, adakah hukum yang melarang seorang akhwat untuk nembak duluan?“ Mba Nizma balik bertanya.

“Eh…hmm…ya…nggak ada sih, atau…eh nggak tahu deh Mbak, hehe!“ Jawab si penanya kelihatan gugup.

Kutengok sosok penanya tersebut. Ya ampun, ternyata Anis yang menanyakan hal itu. Kenapa sosok pendiam itu berani bertanya hal seperti itu? Apa dia memang punya niat demikian, atau…entahlah.

“Adekku sekalian, jika penawaran diri seorang wanita untuk dinikahi oleh laki-laki yang soleh merupakan suatu kehinaan, maka tidak akan pernah ada penawaran diri dari seorang Ummahatul Mukminin, Siti Khadijah, untuk dinikahi oleh Rasulullah SAW melalui perantaranya saat itu. Bukankah dia ini sosok wanita yang mulia? Atau kita menganggap diri kita lebih mulia dari wanita ahli jannah seperti beliau?“ tegas sekali Mba Nizma menjawab pertanyaan tersebut.

“Kita tengok kisah lain, Maimunah Binti Harits. Dia datang menemui Nabi SAW, masuk Islam dan meminta agar Rasullullah menikahinya. Akibatnya, banyaklah orang Makkah merasa terdorong untuk merima Islam dan nabi SAW. Bukankah itu juga merupakan tindakan yang cerdas dan mulia? Padahal saat itu usia beliau adalah 36 tahun sedangkan Rasulullah 60 tahun!”

Semua peserta kelihatan manggut-manggut tanda setuju.

“Jika ada diantara adek-adek yang malu melakukannya sendiri, insya Allah, teteh siap menampungnya!“ canda Teh Nizma sambil tersenyum penuh makna, “atau jika malu sama teteh, silahkan minta pada orang tuanya masing-masing untuk dijodohkan sama orang yang didambakan. Insya Allah, orang tua pun tidak akan pernah hina jika dia menawarkan putrinya sendiri kepada seorang laki-laki yang sholeh. Bukankah Umar Bin Khattab melakukan hal yang sama untuk putrinya, Hafsah, sehingga putri beliau menjadi seorang istri bagi baginda yang mulai Rasulullah SAW.“

Tatapan Teh Nizma berputar ke seluruh peserta.

“Selama prosedur penawarnya dilakukan dengan baik dan tata cara yang benar, tentu saja tidak ada larangan sama sekali untuk melakukan hal itu.“

Situasi mendadak hening. Semuanya terlihat merenung. Hanya senyum simpul yang semakin mengembang yang nampak di wajah Teh Nizma.

Entah kenapa, tiba-tiba saja dalam diriku muncul tekad yang kuat untuk mengutarakan permasalahanku pada Teh Nizma. Sungguh, aku ingin menawarkan diriku pada seorang Bidadara pujangga hatiku. Aku tidak akan pernah merasa malu. Ini lebih baik daripada aku menyesal seumur hidupku.

Setelah pengajian berakhir, kucoba untuk menghampiri Teh Nizma yang saat itu masih dikerubuti oleh teman-teman yang masih memberikan pertanyaan tambahan. Ada kecemburuan di hatiku melihat keberanian dan keterbukaan teman-teman terhadap murobbiyah pribadiku. Seandainya itu aku, sahutku pelan sambil melamun.

***

Halaman 5 dari 7
“Nisa, tolong jangan pulang dulu ya sebentar, saya ada perlu!“ teriak Mba Nizma agak keras memotong lamunanku.

“Oh….iya Mba!” jawabku setengah berteriak juga karena saat itu situasinya masih agak rebut oleh teman-teman yang salam-salaman sebelum pulang.

Akhirnya, tinggal kami berdua yang masih berada di Masjid ini. Dengan sedikit keraguan, aku pun mulai membuka pembicaraan sama Teh Nizma.

“Afwan Teh, …sebenarnya saya juga ada perlu sama teteh. Begini,…eh tapi silahkan teteh saja dulu!“

“Loh, kenapa? Silahkan Nisa aja dulu!“

“Ah engga deh, silahkan teteh dulu!“

“Baiklah kalau begitu, Nisa, di antara anak binaan teteh, masih ada dua orang yang belum menikah, hanya kamu dan Anis!“

Deg, jantungku berdegup keras mendengar kata-kata ini.

“Kalau Anis sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu menyatakan diri siap untuk menikah. Bahkan katanya dengan siapapun asal laki-lakinya sholeh, dia siap untuk menjadi pendamping hidupnya. Yah bisa dimengerti sih kondisi dia. Dia anak paling besar di keluarganya. Sementara dua adiknya yang perempuan sudah menikah. Jadi mungkin kriteria yang benar-benar ditonjolkannya adalah kesholehan laki-laki calonnya. Tapi, insya Allah, tentu saja teteh tidak akan mengabaikan hal-hal lainnya.“

Aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasan murobbiyahku itu.

“Nah teteh sama sekali bukan bermaksud mendesak kamu. Sungguh teteh hanya ingin mengetahui sikap kamu mengenai hal ini.“ Lanjut Teh Nizma.

“Enggak apa-apa kok teh. Insya Allah, saya mengerti kondisi ini.“

***

Halaman 6 dari 7
“Begini, sebenarnya teteh mendapatkan seorang calon suami yang insya Allah kita sama-sama mengetahui bagaimana perjuangan beliau dalam dakwah ini. Sosok laki-laki yang mampu berprestasi di kampusnya walau dirinya benar-benar disibukkan dalam aktifitas dakwah.“ Terang Teh Nizma. Aku pun hanya terdiam menjadi pendengar yang baik sambil menebak-nebak sosok yang dimaksud.

“Sebenarnya sosok laki-laki tersebut sudah ditawarkan ke Anis tiga minggu yang lalu. Saat itu dia bilang akan mempertimbangkannya dan minta waktu selama satu minggu. Tapi dari sorot matanya terlihat ada binar-binar kegembiraan yang luar biasa. Namun entah kenapa satu minggu kemudian tiba-tiba saja dia menolaknya. Nah, sekarang tinggal Nisa anak binaan teteh yang belum nikah. Jika tidak bersedia, saya akan coba berinteraksi dengan murobbiyah yang lain, bagaimana?”

Aku berfikir keras mendengar tawaran tersebut. Sebenarnya aku sendiri saat ini tidak mau ditawari oleh orang lain. Bahkan oleh murobbiyah atau orang tuaku sendiri. Sungguh hatiku saat ini tidak bisa menerima ikhwan lain selain teman lamaku. Si penulis surat yang tak pernah mampu ku jawab. Dialah yang senantiasa mengisi ruang hatiku.

“Bagaimana ukh, kalau berminat, saya akan menunjukan biodata berikut foto dari yang bersangkutan sekarang?“ tanya Teh Nizma.

“Mmm…sebenarnya begini, afwan…saya sudah…eh, nggak, …” aku benar-benar kebingungan untuk menyampaikan hal itu.

“Baik, kalau belum siap juga tidak apa-apa kok.” Senyuman tersungging di bibir Teh Nizma.

“Eh maksud saya begini teh. Boleh nggak saya melihat biodatanya sekarang?” tanyaku konyol.

“Wah, Anis ini gimana sih, kan tadi teteh juga bilang memang mau diberikan sekarang, aneh juga ya!” Jawabah Teh Nizma yang membuatku semakin gugup.

Satu lembar amplop putih dikeluarkan dari tas hitam Teh Nizma. Dia serahkan amplop tersebut disertai dengan tatapannya yang tajam ke arahku. Dengan tangan bergetar, kuterima amplop itu.

“Silahkan mau dibuka di sini atau di rumah juga tidak apa-apa!”

***

Halaman 7 dari 7
“Eh nggak teh, di sini saja.” Jawabku. Sengaja aku tidak ingin menundanya karena saat ini juga keinginanku begitu menggebu untuk memberitahukan calon pilihanku sendiri.

Tanganku semakin bergetar ketika perlahan amplop tersebut kubuka. Kebetulan yang kubaca adalan baris terakhir dari tulisan pemberi amplop.

Pasangan yang diinginkan adalah sesosok calon bidadari yang akan menghantarkan dan menyertaiku hingga jannah-Nya.

Sebelum sempat kubaca bagian-bagian lainnya, tiba-tiba ada satu lembar foto yang jatuh tepat dipangkuanku.

Ya Rabb! subhanallah…! Sungguh tiada kata-kata yang keluar saat itu kecuali pujian agung atas-Mu. Foto tersebut adalah sosok yang ku impikan selama ini.

“Bagaimana Ukh?” Tanya Teh Rizma.

Aku tidak mampu menjawab. Hanya uraian air mata syukur yang kian deras mengalir.

“Ingat loh Ukh, diamnya seorang gadis itu tanda setuju!” Teh Nizma semakin menggodaku,

”Sebenarnya ikhwan yang bersangkutan sudah mengetahui seminggu yang lalu mengenai siapa calon akhwat yang akan menerima amplop ini. Ketika itu, tanpa kami duga, ikhwan tersebut langsung bersujud sambil menangis dia berdoa pelan. Sepertinya dia sangat berharap tuh!“

Aku semakin memaku. Diam dalam uraian air mata. Perlahan ku buka bagian atas biodata tersebut. Di sana tertulis suatu harapan dan tawaran;

Sepenggal khitbah buat akhwatfillah

Rabb!!..Aku langsung tersujud. Rasa syukur ini begitu membucah. Sehingga tak cukup rasanya bibir ini memuji-Mu. Di tempat suci ini, aku bersujud pada-Mu sebagai rasa syukur atas nikmat yang tiada pernah mampu kami ukur.

“Robbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ´alayya wa’alaa waa lidayya wa an-a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilnii birohmatika fii ´ibaadikashshaalihiin, amin.”

.::.
Sumber: Oaseiman|Ditulis oleh Yudhie andriyana dengan editan kata seperlunya.
.::.

Wednesday, 22 September 2010

Jangan Bertawakkal Pada Matamu,Tapi Pada Allah..

Di Mesir ada seorang pemuda bernama Abbas Assisi. Suatu hari ia bersilaturahim dengan Syaikh Hasan Al Banna pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin, keduanya kemudian bercakap-cakap dan Syaikh Al Banna menanyakan apa rencana Abbas Assisi selanjutnya. Asisi yang baru menyelesaikan pendidikan menengahnya menjelaskan apa yang menjadi rencananya.
Lalu Al Banna berkata: ”mengapa kamu tidak mencoba untuk masuk kemiliteran (menjadi tentara)?"

“Saya punya masalah dengan mata saya” jawab Asisi, ”saya takut tak bisa lulus dalam ujian menembak”

“Tak apa,bertawakallah pada Allah”kata Syaikh Al Banna.

“Bagaimana saya akan bertawakal kepada Allah, sementara saya mengetahui ada masalah dengan mata saya?

“Justru itu”jawab Al Banna” Bertawakkalah kepada Allah, kalau matamu sehat, boleh jadi kamu akan bertawakal kepada matamu”.

Abbas Asisi mengikuti saran Al Banna, ia masuk kemiliteran, saat mengikuti ujian menembak, hatinya kembali diliputi keraguan,tapi ia ingat pesan gurunya itu, maka ia berusaha maksimal dan menyerahkan kepada Allah saja, ternyata ia lulus sebagai peserta terbaik dalam ujian menembak itu.

Saudaraku... Ada pelajaran penting dari cerita ini, Syaikh Al Banna mengingatkan Abbas Asisi, Jika matanya sehat boleh jadi ia akan bertawakal pada matanya bukan kepada Allah.

Inilah yang sering terjadi pada kebanyakan manusia... Ketika ia dalam kondisi baik dan mampu,sering tanpa sadar merasa bahwa apa yang diperolehnya sekarang yang membuat dirinya berhasil,adalah berdasarkan buah dari kemampuan dirinya,

Ia menjadi sombong seperti Qarun yang mengklaim kekayaanya adalah hasil dari kepandaian dan kemampuannya sendiri tanpa ada campur tangan Allah.

Padahal mudah bagi Allah menghancurkan seseorang semudah Allah memuliakan Sesorang.

Dan ketika kita ditimpa kegagalan, kita menjadi mudah putus asa, kita mengeluh pada Allah, bahwa semuanya sudah kita penuhi, tapi mengapa juga masih mengalami kegagalan. Kita lupa bahwa Allahlah yang menentukan segala sesuatu,dan bisa jadi ketentuan Allah berbeda dengan keinginan kita, apa yang ditetapkan Allahlah yang bakal terjadi.

Nasihat Syaikh Al Banna,juga menyadarkan kita,bila kita mempunyai kemampuan terbatas atau tubuh yang tidak sempurna, tidak menjadi halangan buat kita untuk terus berusaha mencapai apa yang kita cita-citakan. Kita tetap terus berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.bertawakallah kepada Allah dalam beramal, maka jiwa kita akan tenang.

Bertawakallah kepada Allah, boleh jadi kita akan terkejut dan tersenyum melihat hasilnya, Kalau Allah berkehendak, apa yang kita rencanakan bisa saja berhasil,walaupun mungkin kelihatan mustahil.

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ ما بِقَومٍ حَتّىٰ يُغَيِّروا ما بِأَنفُسِهِم


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

.::.
Tulisan-tulisan Almarhum Syaikh Abbas Assisi (1339 - 1425 H) antara lain: tulisan-tulisannya, ath-Thariq ila al-Qulub (Jalan Menuju Hati), Da'wah ilallahi Hubb, al-Hubb fillah Risalah, adz-Dzauq Suluk ar-Ruh dan lain-lain.
.::.
Baca juga: Mengenang Kepergian Abbas Assisi
.::.
Refrensi: Sonny AbiFatih

Saturday, 5 June 2010

KISAH: Kekayaan, Kesuksesan dan Cinta

KISAH TIGA ORANG BERJANGGUT

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata, "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut. Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang ? "Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar. "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini. Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam".

"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan. "Lho, kenapa ?" tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, "Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu?"

Wanita itu kembali masuk ke dalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminyapun merasa heran. "Ohho ... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan. "Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen kebun kita."

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam ? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta."Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita."

Wanita itu kembali keluar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Cinta ? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini. "Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho .. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan " Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?"

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemanapun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta."

"Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."**

.::dari banyak sumber::.

Thursday, 3 June 2010

Gaza Tidak Membutuhkan Aku

Ini tulisan dari mbak Santi Soekanto, wartawati senior, istri mas Dzikrullah. Wisnu Ramudya (wartawan juga) yang keduanya ikut dalam rombongan kapal Mavi Marvara. Tulisan ini dibuat hari Sabtu, 29 Mei 2010. Isinya sangat menggugah. Semoga bermanfaat!

GAZA TIDAK MEMBUTUHKANMU !
Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza. Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.

Activism
Ada begitu banyak activism, heroism…. Bahkan ada seorang peserta kafilah yang mengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala. Yang wartawan sering merasa hebat dan *powerful* karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza. Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.

Mengerem
Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka. Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

Gaza Tak Butuh Aku
Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku. Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagi-Nya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agama-Nya.

Menolong membebaskan Al-Quds. Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha…Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza! Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.

Cara Allah Mengingatkan
Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku. Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku. Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung- jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.

Masih ndableg… Kucoba lagi menyiram… Masih ndableg. Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…
Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush.Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet…Blus! Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj’alni minat tawwabiin…

Allahumaj’alni minal mutatahirin…

Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…
.::.
Sumber: al-ikhwan.net

Sunday, 30 May 2010

Sahabat, Masihkah Anda mengatakan Anda kurang beruntung?

Cerita, “Andaikan di Bumi hanya 100 orang”

Sahabat, jika populasi bumi berkurang hingga menjadi sebuah desa dengan hanya 100 orang penduduk, seperti apakah profil desa kecil yang beragam ini, jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku? Philip M.Hartner, MD dari Fakultas Kedokteran Stanford University Amerika Serikat, mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan ini. Berdasarkan analisanya, desa kecil bumi akan terdiri dari:

Jika populasi bumi hanya 100 orang maka manusia terdiri dari 57 orang Asia, 21 orang Eropa, 14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat dan 8 orang Afrika.

Berdasarkan jenis kelamin 52 perempuan dan 48 laki-laki. Kulit putih 20 orang dan 80 bukan kulit putih. Sebanyak 89 heteroseksual dan 11 homoseksual.

Hanya 6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat. 80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak menenuhi standard 70 orang tidak dapat membaca 50 orang menderita kekurangan gizi.

Dan 1 orang hampir meninggal, 1 orang sedang hamil, 1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi, serta 1 orang memiliki komputer.

Marilah kita merenungkan analisa Hartner dan mulai dari hal-hal sebagai berikut :

• Jika anda tinggal di rumah yang baik, memiliki banyak makanan dan dapat membaca, anda adalah bagian dari kelompok terpilih.
• Jika anda memiliki rumah yang baik, makanan, dapat membaca dan memiliki komputer, anda bagian dari kelompok elit.
• Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat, anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup minggu ini.
• Jika anda tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena dipenjara, kesakitan karena penyiksaan, atau kelaparan, anda berada selangkah lebih maju dibandingkan 500 juta orang di dunia.
• Jika anda dapat menghadiri pertemuan politik atau keagamaan tanpa merasa takut akan dilecehkan, ditangkap, disiksa, atau mati, anda beruntung, karena lebih dari 3 milyar orang di dunia tidak dapat melakukannya.
• Jika anda memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian, dan memiliki atap yang menaungi tempat anda beristirahat, anda lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini.
• Jika anda memiliki uang di bank, di dompet, dan mampu membelanjakan sebagian uang untuk menikmati hidangan di restoran, anda merupakan anggota dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.
• Jika orang tua anda masih hidup dan menikmat bahagianya kehidupan pernikahan mereka, maka anda termasuk salah satu dari kelompok orang yang dikategorikan langka, terutama di Amerika Serikat.
• Jika anda mampu menegakkan kepala dengan senyuman dibibir dan merasa benar- benar bahagia, anda memiliki keistimewaan tersendiri, karena sebagian besar orang tidak memperoleh kenikmatan tersebut.
.:(Hareem Musasi):.
.::.

Sahabat, Masihkah Anda mengatakan Anda kurang beruntung?

Semoga kita bisa menikmati hari yang indah ini. Hitunglah karunia keberuntungan kita, dan sampaikan hal ini kepada orang lain untuk mengingatkan bahwa sebenarnya, kita adalah orang-orang yang sangat beruntung.

Maka tak ada kata lain kecuali Bersyukurlah kepada Tuhan, atas segala Karunia-Nya….

Dan jangan lupa, “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU”

Terimakasih telah membaca, salam hangat dari sahabatmu ini… Salam Motivasi…!

.::.
Sumber: Cerita motivasi.


Ketika Masalah Menimpa

Ketika masalah menimpa...

Sekarang, coba Anda jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Mungkinkah guru memberikan ujian kepada anak didiknya tanpa menyiapkan jawabannya?
2. Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa mempersiapkan anak didiknya?
3. Mungkinkah guru memberikan ujian anak SMA kepada anak SD?
4. Mungkinkah guru tidak meluluskan anak didiknya yang mampu menjawab ujian?

Nah, guru saja begitu, apalagi Allah?
1. Mana mungkin Allah memberikan masalah kepada Anda tanpa menyiapkan solusinya!
2. Mana mungkin Allah memberikan masalah tanpa mempersiapkan Anda terlebih dahulu!
3. Mana mungkin Allah memberikan masalah yang Anda tidak mampu mengatasinya!
4. Mana mungkin Allah tidak mengangkat derajat Anda ketika Anda mampu mengatasinya!

So, tetaplah optimis! Right?

.:Ippho Santosa
.:Penulis Mega-Bestseller, Penerima MURI Award, Pembicara di Indonesia & Singapura, Pemilik TK Khalifah

Tuesday, 11 May 2010

Hasrat Mengubah Diri

Ketika aku masih muda serta bebas berfikir dengan khayalan, aku bermimpi untuk mengubah dunia.

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.

Maka cita-cita itupun agak kupersempit, dan kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.

Namun tampaknya itupun tiada hasilnya.

Ketika usia senja mulai menjelang, lewat upaya terakhir yang penuh keputus asaan,
kuputuskan untuk mengubah hanya keluargaku, yaitu orang-orang yang paling dekat denganku.

Namun alangkah terkejutnya aku, ternyata mereka pun tak kunjung berubah!!!

Dan kini,
Sementara berbaring di tempat tidur, menjelang kematianku, baru kusadari:

“Andaikan yang pertama-tama kuubah dulu adalah diriku sendiri,

Maka lewat memberi contoh sebagai seorang panutan, mungkin keluargaku bisa kuubah, dan berkat inspirasi dan dorongan mereka, kemudian aku menjadi mampu memperbaiki negeriku, dan siapa tahu, bahkan aku juga bisa mengubah dunia!”

(Ir. Permadi Alibasyah)

Friday, 23 April 2010

Ayah Bangga padamu Nak! (Belajar Empati)

Aku seorang ayah dari anak perempuan berumur 11 tahun yang manis dan cerdas bernama Dhira. Suatu pagi Dhira berkata padaku, ”Ayah, aku akan habiskan bubur ini, asalkan ayah mau mengabulkan permintaanku dan berjanji untuk mempercayaiku…” Aku cukup heran mendengar permintaannya itu. Biasanya Dhira memang tidak pernah mau menghabiskan bubur buatan bundanya.

Dhira malah pernah berkata bahwa memakan bubur itu adalah siksaan fisik terberat baginya. Bubur itu memang tampak tidak menarik, tetapi racikan resep keluarga turun-temurun itu kami yakini sangatlah berguna untuk pertumbuhan dan kesehatan anak-anak. Istriku, bundanya Dhira, selalu saja jengkel setiap kali berurusan dengan hal ini, Dhira tidak pernah mau memakan bubur itu, paling banyak ia hanya makan 5 suap dan kemudian kabur !

”Oke, asalkan kau habiskan bubur itu dan tidak membuat bundamu jengkel hari ini. Tapi jangan minta sesuatu yang mahal-mahal, ya. Dua minggu lalu kamu kan baru saja berulang tahun dan kamu baru saja dapat hadiah-hadiah,” jawabku.
”Baik ayah! Tidak…tidak mahal koq! Yang penting ayah tepati janji ayah ini” sahut Dhira sambil tersenyum padaku. Dhira mulai mengangkat mangkuk buburnya dan mulai makan.

Tampak sekali raut wajah keterpaksaan dan penderitaan. Sedikit demi sedikit Dhira memakan bubur itu. Berulang kali ia harus berhenti untuk menahan agar tidak memuntahkannya kembali. Dalam benakku sempat kubertanya-tanya apa yang membuat Dhira rela tersiksa dan memaksa diri sekuat tenaga untuk menghabiskan bubur itu. Beberapa saat kemudian Dhira selesai. Aku kagum karena mangkuknya benar-benar bersih. Tak ada bekas! Istriku dan nenek Dhira turut bertepuk tangan karena hal itu. Ternyata mereka turut menonton apa yang Dhira lakukan tanpa kusadari.

Setelah minum ia menghampiriku dan berkata, ”Nah, ayah janji akan kabulkan permintaanku kan?”
”Oh, pasti sayangku, katakanlah,”jawabku.
Dhira membisikkan sesuatu ke telingaku… Aku terhenyak, ”Mana bisa Dhira…permintaanmu itu konyol! Ayah tak mungkin kabulkan itu!”

”Tapi, ayah sudah janji!”teriak Dhira sambil mulai menangis. Istriku dan nenek Dhira menghampiri, mereka bertanya tentang apa yang terjadi. ”Mana mungkin ayah dapat kabulkan permintaan itu sayang? Mencukur gundul kepalamu adalah permintaan yang tidak masuk akal!” sahutku kemudian.

Istri dan nenek Dhira terbelalak, mereka mulai marah pada Dhira, mereka bertanya apa alasan Dhira. Tapi Dhira hanya menangis dan berteriak-teriak menjawab berulang-ulang, ”Ayah sudah janji! Ayah sudah janji!”

Dalam keributan itu aku tersadar, ”Ya, aku sudah berjanji pada Dhira, permintaannya memang aneh, tetapi tidak mahal, dan di atas semua itu aku berjanji untuk mempercayai Dhira… Ya, janji adalah janji. Jika aku ingin Dhira menjadi seorang yang teguh memegang janji, maka aku harus tepati janjiku!”
Akhirnya, tanpa sadar, kata-kataku berikutnya menghentikan keributan itu… ”Baik! Ayah akan kabulkan. Ayah percaya padamu, Dhira!”
Dhira berhenti menangis, ia menoleh, tersenyum dan langsung berlari memeluk-ku, ”Terima kasih ayah!”

Dalam sisa hari itu, Dhira benar-benar bahagia. Ia terus mengumbar senyum dan berdendang. Istriku begitu jengkel padaku, apalagi sepulang dari cukur rambut. Wajah nenek Dhira tampak kecewa dengan terus mengelus-elus dada, istriku pun kembali marah padaku. Dhira tetap bahagia dan terus menjawab, “Ayah percaya padaku, bunda. Tenang saja,“ setiap kali bundanya bertanya apa alasannya mencukur gundul kepalanya.
Esok harinya, kuantar Dhira ke sekolah seperti biasa, sepanjang jalan ia tersenyum dan bernyanyi-nyanyi. Ingin aku bertanya pada Dhira apa alasannya tapi aku tak kuasa. Sampai di sekolah kulihat Dhira melambai-lambaikan tangan pada seorang anak lelaki yang juga baru turun dari mobilnya. ”Boby!” teriak Dhira.
Setelah mobil berhenti, Dhira mencium tanganku dan berkata, ”Terima kasih Ayah” tak pernah kulihat pancaran mata sebahagia itu. Dhira berlari-lari kecil menghampiri bocah yang bernama Boby tadi. Sesaat kemudian baru kusadari bahwa kepala Boby juga gundul licin!

Aku terkesima dan keluar dari mobil, aku pun tak sadar kalau ada seorang ibu yang tiba-tiba telah berada di sampingku dan menyalamiku. ”Bapak ayahnya Dhira kan?” tanyanya sambil menyalamiku. Aku hanya mengangguk dengan penuh tanda tanya. ”Terima kasih pak, bapak pasti bangga pada Dhira…” ucap ibu itu. ”Oh…eh iya” jawabku terbata-bata.

”Boby itu anak saya, pak” kata ibu itu ”Ia menderita kanker dan kini rambutnya rontok habis karena kemoterapi yang dijalaninya sejak sebulan lalu” jelasnya.
”Jumat lalu Boby menolak untuk sekolah, karena banyak teman yang mengejek kepala gundulnya itu. Kemudian Dhira menelpon kami hari Sabtunya. Ia berusaha mengajak Boby masuk sekolah, Dhira sampai berjanji akan menggunduli rambutnya yang panjang itu agar Boby mau masuk sekolah dan tidak takut diejek oleh teman-temannya lagi. Dan hari ini, Dhira menepati janjinya. Sekali lagi terima kasih, pak” cerita ibu itu. Aku terpaku, hingga tak sadar air mataku menetes… Dalam benak aku bergumam,”Dhira, ayah bangga padamu”.

.::.
Sumber: Ummu Saif
.::.