Monday 2 March 2009

Jangan Jadikan Air Itu Berhenti

Perang Ahzab atau perang Khandaq adalah pertempuran yang sangat melelahkan. Memang pertempuran dalam arti saling membunuh dalam jarak dekat tidak banyak terjadi. Namun, sepuluh ribu pasukan multinasional yang mengepung Madinah telah membuat kaum Muslimin tidak sempat melakukan shalat Zhuhur, Ashar, dan Maghrib. Bahkan hanya sekedar kencing pun tidak sempat.

Selesai perang yang sangat melelahkan secara fisik dan psikis itu, Rasulullah saw. Hendak beristirahat barang sejanak. Karenanya, beliau sarungkan dan gantungkan pedang dan senjata beliau.

Namun, Allah Swt. tidak menginginkan beliau dan kaum Muslimin beristirahat. Karenanya, Allah mengutus malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. sambil tetap berada di atas bighal, malaikat Jibril berkata, “Sepertinya engkau sudah meletakkan senjatamu, wahai Rasulullah saw? Sesungguhnya para malaikat belum meletakkan senjata mereka…” (Tahdzrib Sirah Ibnu Hiysam)

Riwayat ini menggambarkan kepada kita agar tidak berhenti dari berjihad.
Pada suatu hari, beberapa orang Anshar sedang berkumpul kumpul. Mereka saling berkata di antara mereka,”Sekarang Islam telah jaya, telah eksis, dan telah kokoh. Sebaiknya kita kembali ke ladang-ladang kita dan kebun-kebun kita. Kita urus kembali harta kekayaan kita yang selama ini terbengkalai. Kita garap lagi lahan-lahan itu dengan serius. Lahan yang selama ini telah kita tinggalkan dalam rangka berjihad fi sabilillah, dan hasilnya kita infaqkan fi sabilillah juga. Sementara jihad di medan laga biar ditangani oleh saudara-saudara kita lainnya.”

Allah SWT berfirman:
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al Baqarah: 195)

Riwayat yang satu ini menggambarkan kepada kita bahwa kehancuran, kebinasaanm, atau istilah dalam Al Qurannya Tahlukah adalah pada saat meninggalkan jihad. Jika dua riwayat ini kita hubungkan dengan sirah Rasulullah Sawl. Lainnya, kita akan menemukan angka-angka berikut:

1. Peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah saw. secara langsung (ghazwah) jumlahnya 26.
2. Peperangan yang tidak dipimpin oleh Rasulullah saw. Secara langsung (sariyyah) jumlahnya 38.

Maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa manuver Rasulullah saw dan para sahabatnya itu tiada henti dan tanpa putus. Bagaimana tidak, waktu yang kurang lebih sepuluh tahun itu terisi 64 kali peperangan. Sungguh, sebuah manuver yang menggambarkan betapa Rasulullah saw dan para sahabatnya senantiasa menumpahkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya secara maksimal dan tiada henti. Sehingga, tidak ada waktu untuk beristirahat dan mengandai-andaikan hal-hal yang sifatnya duniawi.

Kalau hal itu kita ibaratkan sebagai air yang mempunyai potensi besar untuk menerjang apa saja, maka aliran air itu tiada pernah berhenti. Jika Al Aquran surat Al Baqarah 195 itu kita hubungkan dengan pengibaratan air ini. Kita bisa katakan bahwa, jika air itu berhenti dan tidak lagi mengalir, maka air itu akan rusak, kotor, menjadi sarang nyamuk, bau, dan berubah warnanya.

Begitu pun dengan potensi jihad yang ada pada diri kita. Bila potensi jihad itu kita berhentikan, baik jihad da’awi, jihad ta’limi, jihad irsyadi, jihad tarbawi, jihad bina’i, jihad qitali dan jihad-jihad lainnya, maka potensi itu pun akan bernasib sama dengan air itu. Oleh karena itu wajar jika Allah Swt memperingatkan para sahabat akan datangnya tahlukah kepada mereka, bila mereka meninggalkan jihad, menyibukkkan diri dengan urusan pertanian dan perkebunan.

Sayyid Qutub dalam bukunya, Hadzad-diin, Kerusakan akan terjadi pada diri dan jiwa manusia (nafsul insan) karena rukud (diam, tidak bergerak, atau istilahnya tidak berharakah, tidak mengalir). Akibat rukud adalah:

- Ruhnya membusuk akibat stagnasi.
- Himmah-nya (semangatnya) istirkha’ (mengendor, lembek, loyo, tidak kenceng).
- Nafs (jiwanya) rusak dikarenakan rakha’ (bergelimang harta dunia) dan tharawah (tidak teruji dan terlatihnya jiwa itu dengan hal-hal yang berat).
- Pada akhirnya, seluruh kehidupan menjadi rusak gara-gara rukud, atau hanya bergerak pada bidang syahwat saja, sebagaimana yang terjadi pada bangsa-bangsa yang mendapat cobaan dalam bentuk kemewahan hidup.

(Dikutip dari Buku Musyafa Abdurrahim, Membina Ruh Baru, Hal 89-93)


.::.Alim Mahdi.::.

0 komentar:

Post a Comment

Alim Mahdi adalah Founder www.mastersop.com

Konsultan SOP dan Penggagas "GERAKAN PENGUSAHA SADAR SOP"