Paket SOP Toko Retail Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Toko Retail Modern.

Key Performance Indicator (KPI)

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : Key Performance Indicator (KPI).

Konsultan SOP Perusahaan

Master SOP adalah Konsultan SOP dan Sistem Bisnis untuk bisnis yang Autopilot.

Paket SOP Garmen / Konveksi

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Garmen / Konveksi.

Paket SOP Resto Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Resto Modern.

Wednesday, 15 October 2008

Pengentasan Kemiskinan di Bali: Menakar Potensi Dana Ziswaf

Bali dan Kemiskinan
Bali lebih dikenal oleh wisatawan mancanegara daripada nama Indonesia. Menyaksikan Bali dari kemasyuran tempat wisatanya seperti Kuta, Sanur, Nusadua, Tanah lot adalah gambaran kemakmuran, eksotis, serba mentereng, megah, mewah, dan bahkan glamor. Potret wisata Bali terutama di daerah Badung dan sebagian Kota Denpasar, seakan mengisahkan Bali bebas dari kontaminasi virus kemiskinan. Sungguh, Bali dari tampilan wajah pariwisatanya, seakan meyakinkan pengunjung bahwa provinsi ini tidak lagi tersentuh kemiskinan. Benarkah sebuah kesimpulan yang hanya berdasarkan kesaksian empiris seperti itu?

Kemiskinan merupakan suatu keadaan, sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan kekurangan di berbagai keadaan hidup yang menggambarkan kekurangan materi, biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, pelayanan kesehatan, dan kesempatan pendidikan. Menurut Bank Dunia orang dikatakan miskin apabila pendapatannya tidak lebih dari US $2 atau standar kemiskinan oleh BPS adalah ukuran pendapatan US $1 per hari.

Mari kita tengok hasil survey DSM Bali pada tahun 2006. Survei dilakukan selama 3 bulan di 67 kampung/desa di Bali yang meliputi wilayah Karangasem, Klungkung, Gianyar, Bangli, Buleleng, Tabanan, Jembrana, Badung dan Denpasar. Desa/kampung tersebut diambil sebagai lokasi survei berdasarkan banyaknya penduduk muslim yang bertempat tinggal di desa/kampung tersebut dan juga bedasarkan rekomendasi dari tokoh-tokoh muslim di Bali.

Dari hasil survei yang dilakukan, dapat diketahui bahwa dari 413 responden yang meliputi 67 desa/kampung di seluruh Bali, diketahui bahwa sebagian besar bermatapencaharian sebagai buruh/tukang (29,5%), pedagang (21,1%), dan petani (16,5%) dengan penghasilan rata-rata kurang dari 200 ribu/bulan (52,5%) dan sebagian besar memiliki hutang (77,5%). Dilihat dari latar belakang pendidikan, sebagian besar responden telah tamat SD (33,7%) dan tidak tamat SD (27%).

Data BPS 2006 tentang angka kemiskinan di Bali menunjukkan masih cukup tinggi jumlah keluarga miskin di Bali yaitu 147.044 KK. Jumlah terbesar berada di Buleleng, yaitu 47.908 KK. Berikutnya di Karangasem (41.826 KK), Bangli (13.191 KK), Tabanan (11.672 KK), Klungkung (8.460 KK), Gianyar (7.629 KK), Jembrana (6.998 KK), Badung (5.201 KK), dan Denpasar sebanyak 4.159 KK.

Menarik apa yang diungkapkan oleh Ketua DPD Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Bali A.A. Ngurah Gede Widiada. Bahwa, ketergantungan Bali terhadap industri pariwisata sangat jelas dirasakan pada saat Bali mengalami krisis kunjungan wisatawan pascaserangan teroris yang meledakkan bom di Bali. Kenyataannya mayoritas masyarakat miskin Indonesia bekerja di sektor pertanian dan mayoritas masyarakat Bali adalah petani. Sedangkan proyek pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah diprediksi tak akan menyentuh akar permasalahan. Anggaran yang dialokasikan untuk meningkatkan taraf hidup rumah tangga miskin (RTM) masih dikelola dengan pendekatan politik bahkan masih menjadi media propaganda politik dan pencitraan. Menurutnya, sering gagalnya penanganan kemiskinan akibat strategi yang dilakukan beredar di permukaan bukan melakukan bedah langsung terhadap indikator-indikator kemiskinan. ''Saya melihat penanganan kemiskinan masih menjadi proyek politik bukan keikhlasan membantu RTM keluar dari beban kehidupan. Strateginya pun masih menjauh dari upaya-upaya meningkatkan taraf hidup RTM,'' ujarnya.


Peran LAZ dan Jargon Universal
Dompet Sosial Madani Bali didirikan tahun 2001. Berkhitmat sebagai lembaga nirlaba yang mengelola zakat, infak, sedekah dan wakaf berdasarkan prinsip-prinsip amanah, mandiri, dan profesional guna meningkatkan manfaat nyata bagi kesejahteraan umat. DSM Bali mengambil peran strategis dalam 3 sektor, yaitu pemberdayaan, pengembangan dakwah dan pendidikan dan bantuan kemanusiaan, kesehatan dan emergency. Karena itu core programme DSM Bali adalah Pemberdayaan, Pendidikan dan Kemanusiaan.

Coba kita renungkan kalimat yang berbeda namun bermakna agak mirip “Karena masyarakat bodoh, makanya masyarakat menjadi miskin“, atau kalimat yang ini “Karena masyarakat miskin makanya mereka tidak bisa sekolah dan akhirnya mereka tetap bodoh“ dan yang ini “Karena masyarakat tidak sekolah makanya mereka tetap bodoh dan akhirnya mereka menjadi miskin“.
Kalimat tersebut mengandung makna bahwa persoalan kemiskinan, pendidikan, dan kebodohan adalah satu paket persoalan yang harus dituntaskan bersamaan.

Program unggulan yang DSM Bali tawarkan kepada masyarakat dalam rangka membantu persoalan pendidikan adalah Rumah Asuh Madani, yaitu program pendidikan plus gratis berasrama bagi anak-anak tidak mampu. Beasiswa SIGMA, yaitu beasiswa dan orang tua asuh bagi siswa yang tidak mampu dan bantuan untuk guru pedalaman.

Layanan Kesehatan Madani, Klinik kesehatan yang melayani pengobatan dan pemeriksaan kesehatan cuma-cuma bagi pasien tidak mampu, yaitu yang terdiri dari pemeriksaan umum, ibu hamil, gigi dan tibun nabawi (pengobatan cara nabi). Dan program lainnya seperti Bengkel Kemandirian, Kemanusiaan, Bencana dan emergency.

Tema yang diusung dalam rangka mengusung program yang digulirkan oleh DSM Bali adalah “ZAKAT FOR HUMANITY”. Muslim di Bali minoritas, tetapi kemiskinan tidak memandang siapapun mereka. Karena kemiskinan bisa melanda siapapun, dimanapun dalam kondisi apapun. Perbedaan latar belakang tidak menghambat penyaluran zakat, zakat ditujukan untuk golongan mustahik. Siapapun yang masuk dalam golongan itu, berhak atas dana zakat. Di sinilah adalah kasih sayang, dan kemuliaan Islam yang memberi rahmat untuk seluruh alam.


Positioning DSM Bali
Mengentaskan kemiskinan di Bali bukanlah perkara mudah. Tak cukuh hanya dengan bekerja sendirian atau merasa paling bisa dan besar. Maka perlu ada proses sinergi antara DSM Bali dengan pemerintah daerah. DSM Bali dengan lembaga pengelola zakat yang lain baik yang berbasis masyarakat maupun pemerintah (BAZ) sebagaimana pentingnya sinergi dengan lembaga keumatan seperti MUI dan ormas Islam juga organisasi sosial kemasyarakan yang lain. Sinergi inilah yang akan mengakselerasi proses pengentasan kemiskinan. Bentuknya bisa dalam lingkup pemberdayaan mustahik dan kampung miskin. Bisa juga pemetaan penanganan daerah kemiskinan. Departemen agama tentu mempunyai peran strategis disini. Sebagai sebuah institusi pemerintah yang lebih dulu ada sebelum era bertumbuhnya LAZ, dan juga memiliki organisasi pengelola zakat (BAZ), Depag sudah selayaknya memainkan peran sebagai motivator, regulator, fasilitator yang lebih profesional.

DSM Bali yang telah mempunyai lima puluh lebih mitra merchant dan telah dipercaya lebih dari 3 ribu donatur tetap dengan jumlah donasi rata-rata 200 juta per bulan merupakan modal untuk menjaga eksistensi lembaga yang visioner, yaitu perpaduan antara kreatifitas dan inovatif akan semakin memantapkan DSM Bali menjadi lembaga yang profesional, kredibel dan accountable.

Saat ini DSM Bali tidak hanya menggarap zakat dan ke depan DSM akan menggulirkan program fundraising dana selain zakat, seperti infaq sedekah, wakaf, hibah dana CSR (Corporate Social Responsibilty) dan dana sumbangan lainnya yang nominalnya jauh lebih besar daripada dana Zakat. Tahun 2007 DSM telah menerima asset wakaf dan non wakaf seluas 48 are untuk dikelola di wilayah Denpasar dan Negara.


Potensi yang Menggiurkan
Menurut data Kanwil Depag Provinsi Bali jumlah penduduk muslim Bali sekitar 558 ribu jiwa. Jika bedasar data tersebut, maka potensi zakat di Bali mencapai 51 milyar rupiah per tahun. (Lihat Tabel Asumsi Zakat). Hal tersebut diakumulasi dari zakat penghasilan dan zakat fitrah. Potensi Dana Umat ini belum termasuk infaq shadaqah, wakaf, hibah dan lain-lain.

Total pengumpulan ZISWAF oleh DSM Bali pada tahun 2007 sebesar Rp. 2.3 milyar (Pengumpulan ZISWAF terbesar di Bali). Dari angka-angka tersebut bisa disimpulkan bahwa masih banyak potensi Dana Zakat di Bali yang belum terhimpun dengan baik. Dengan dana umat tidak kurang sebesar tiga milyar tiap bulan, maka betapa banyak aset yang bisa dimiliki oleh umat dan berapa banyak program yang bisa digulirkan untuk menyejahterakan masyarakat. Sekarang umat di Bali masih bermimpi untuk mempunyai rumah sakit bebas biaya, sekolah unggulan gratis, mempunyai radio bahkan mempunyai station TV sendiri. Padahal dana ada di depan mata.


Menangkap Potensi, Mengentas Kemiskinan
Mari kita tangkap potensi yang telah terbuka lebar. Angka 51 milyar, belum termasuk beberapa jenis zakat dan juga infak sedekah serta wakaf, adalah jumlah yang luar biasa dan bisa dibayangkan pembangunan fisiknya. Hitung-hitungan sederhananya, jika kita ingin separuh dari dana itu kita ingin gunakan untuk membangun sebuah atau beberapa gedung sekolah gratis untuk anak-anak miskin, maka sudah pasti tahun ini akan terwujud. Sekaligus juga membagunkan asrama untuk anak-anak yang berasal dari berbagai daerah. Setelah usai menempuh pendidikan, mereka dapat kembali ke daerah asal. Tentu dengan kemampuan yang berbeda. Mereka dapat membangun keluarga dan kampung mereka dari hasil pendidikan mereka selama ini. Karena mereka telah dididik untuk kaya. Sisa dari dana 51 milyar bisa kita gunakan untuk pemberdayaan ekonomi para orang tua dhuafa. Memberikan permodalan usaha, sekaligus mengusahakan terpenuhinya tenaga pendidik dan pendamping hingga keluarga itu benar-benar bisa mandiri.


POTENSI ZAKAT DI BALI
Jumlah muslim Bali 500 ribu orang (*) :

Zakat Fitrah:
Asumsi hanya 80% yang membayar zakat yaitu 400 ribu Orang
Apabila zakat fitrah 2,5kg dikonversikan menjadi Rp. 15 ribu/jiwa
Maka total 400.000 x Rp. 15.000 = Rp. 6 Milyar


Zakat Maal:
Asumsi hanya 10% yang membayar zakat yaitu 50 ribu Orang
Apabila tiap wajib zakat rata-rata mengeluarkan zakat Rp. 75 ribu/bulan
Maka total 5000 x Rp.50.ooo = Rp. 3,75 milyar/bulan
Dalam Zakat Setahun 12 x 3,75 M = Rp. 45 Milyar

Maka Total Zakat dalam Setahun Rp. 6 M + 45 M = Rp. 51 Milyar

(*) data DEPAG Propinsi Bali = 558 ribu


Tahun pertama, tahap awal pemberdayaan dan optimasi dana ZISWAF telah terpenuhi. Kita tinggal mengulang kesuksesan di tahun kedua. Dengan potensi dana sama besar, atau bisa jadi lebih besar dari 51 milyar. Sebab kita sudah merasakan hasilnya. Penggunaanya pun kita bisa sesuaikan dengan skala prioritas pembangunan, mungkin saja kita ingin membangun rumah sakit terbesar di Bali, gratis khusus dhuafa. Atau membangun sebuah pabrik yang melibatkan tenaga kerja banyak, yang kesemuanya melibatkan tenaga kerja masyarakat miskin. Semuanya mungkin saja terjadi, tinggal butuh konsep perencanaan yang mapan dan disokong oleh SDM yang serius, serta sinergi berbagai steakholder.

Namun sebenarnya ada sedikit persoalan yang cukup menjadi batu sandungan terhadap proses penghimpunan dana ZISWAF di Bali. Semangat pertumbuhan Lembaga Pengelola ZISWAF dalam menghimpun dana dan juga penyalurannya, kurang mendapat tanggapan serius dari pemerintah daerah. Seperti SK pengukuhan LAZ belum ada satupun LAZ di Bali yang mendapat SK dari Pemerintah Daerah. Bisa jadi karena minoritas, sehingga tidak memiliki bargaining power terhadap penguasa daerah. Karenanya, banyak Lembaga Pengelola ZISWAF bergerak berdasar asumsi dan analisa masing-masing.

Jika saja pemerintah daerah memberikan legalitas dan dukungan yang kuat terhadap lembaga-lembaga tersebut, sudah pasti hal ini akan menjadi sinergi yang luar biasa. Lembaga pengelola zakat akan mudah melakukan sosialisasi dan penghimpunan karena pemerintah daerah membuka peluang partisipasi terhadap penyelesaian kemiskinan di Bali. Sebab pada prinsipnya, potensi dana ZISWAF yang begitu besar, merupakan amunisi efektif untuk memberantas kemiskinan dan penyakit sosial lainnya jika terjadi sinergi yang tepat antara Lembaga Pengelola Zakat dan Pemerintah daerah. Tentu diikuti pula oleh sinergi-sinergi dari para penentu keberhasilan lainnya.***

Oleh Akh. Alim Mahdi, Direktur DSM Bali
(Ditulis dalam Buku Gerakan Zakat untuk Indonesia, 2008. Hal: 75 - 82)

Sunday, 12 October 2008

Kontak Saya

Bagi para sahabat jika ingin sharing dengan saya tentang blog atau mencari informasi yang berkaitan dengan artikel-artikel yang saya tulis.

Dan juga berkaitan dengan Seputar Bali. Politik & Pariwisata Bali, Tempat Penginapan atau hotel di Bali, Kos-kosan di Bali, Tempat Belanja Murah di Bali, Makanan Halal di Bali. Atau butuh informasi murah di mana akan nginep, transportasi dan lain-lain di Bali.

Anda bisa titip pesan di Shoutbox/pesan singkat di blog saya atau tingalkan pesan/komentar pada tulisan blog saya.

Jika kurang mantap bisa juga di sini:

1. Yahoo! Messenget (YM): alimmahdi

Jika off (tapi tetep Mode OL), biasanya saya pake mode SMS (i'm on SMS), artinya Anda dapat kirim dan tinggalkan pesan yang akan diteruskan via SMS ke HP saya. Saya akan balas jika Ada pulsa... hehehe... :).

2. PIN BB: 2A58EDB0

3. Email: admin@alimmahdi.com


4. SMS via Handphone: +6281 24683055


5. Facebook: alimmahdi@yahoo.com


6. atau datang langsung ke rumah saya: di Denpasar - Bali.



Semoga komunikasi dan bersahabatan ini bisa menjadi jalan kebaikan kepada kita.Amin




Selamat menikmati artikel di blog saya, jika ada yang tertarik untuk berkontribusi tulisan untuk dimuat di blog saya, silahkan kirim via email to: alimmahdi@yahoo.com dengan mencantumkan subjek emailnya "Kontributor". Semua tulisan yang masuk akan saya seleksi dan edit seperlunya jika ada. Dan "Hak Muat" ada di saya.

Terima kasih. Keep blogwalking...





Saturday, 11 October 2008

Saatnya Indonesia Nyalip di Tikungan

Tepat sekali langkah pemerintah Indonesia menghentikan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kemarin. Terlambat sedikit, kita bisa lebih kacau. Inilah saatnya kita mendahulukan nasib bangsa sendiri.

Kita tahu, perusahaan asing lagi perlu uang untuk menutup lubang mereka yang dalam di negeri masing-masing. Karena itu, mereka perlu uang cepat. Salah satu caranya adalah menjual apa saja yang dimiliki, termasuk yang di Indonesia.
Dan, yang paling cepat bisa dijual adalah saham di bursa. Saking banyaknya pihak yang mau menjual saham itulah yang mengakibatkan harga saham jatuh 10 persen kemarin. Mereka berani menjual murah, menjual rugi, asal bisa segera mendapat uang cash. Sebenarnya sekaranglah saatnya membeli kembali saham Indosat, Telkomsel, atau apa pun, tapi kita belum cukup kaya untuk melakukan itu.

Penutupan sementara bursa itu juga penting untuk mengamankan perusahaan-perusahaan nasional kita. Yakni, perusahaan yang terlibat utang besar di luar negeri yang jaminannya berupa saham. Misalnya, Bumi Resources dan enam perusahaan milik Bakrie Group lainnya. Termasuk kebun sawitnya yang besar. Kalau harga sahamnya terus merosot, nilai jaminan utangnya langsung tidak cukup. Dalam keadaan seperti ini sangat mungkin terjadi hostile take over! Sangat bisa terjadi, tiba-tiba saja tambang batu baranya yang begitu besar disita dan menjadi milik asing. Demikian juga perkebunan sawitnya.

Karena itu, bursa tidak perlu cepat-cepat dibuka kembali. Apalagi, kalau itu hanya karena tekanan asing. Harus dihitung benar untung ruginya bagi kepentingan nasional. Memang Bumi Resources adalah milik Bakrie, tapi batu baranya dari bumi Indonesia (Kaltim). Kita juga berkepentingan mengusahakan Bakrie agar tetap jaya -antara lain agar bisa menuntaskan kasus Lapindo di Sidoarjo. Apalagi, Bakrie pernah jadi contoh perusahaan yang hancur oleh banyaknya utang saat krisis moneter 1997 yang tiba-tiba mampu bangkit menjadi orang terkaya di Indonesia. Jangan sampai kini menjadi korban hostile take over asing akibat tidak mampu membayar utang! Nilai saham Bakrie kini memang tinggal 20 persennya. Sangat mudah bagi asing untuk mengambil secara hostile!
Kini negara yang paling mempertuhankan pasar bebas pun hanya berpikir menyelamatkan negara masing-masing. Apalagi, negara yang masih miskin seperti kita. Saya cukup bangga atas ketegasan dan kecepatan pemerintah mengambil langkah ini. Penduduk kita cukup besar untuk bisa menjadi pasar kita sendiri. Kita masih bisa menanam jagung!

Sampai kemarin memang baru Rusia dan Indonesia yang mengambil langkah menghentikan perdagangan saham. Islandia (Iceland) sudah lebih dulu membuat keputusan mem-peg mata uangnya ke dolar karena terjun bebas. Kemarin sore WIB, Inggris membuat keputusan yang lebih konsepsional daripada Amerika. Delapan bank raksasa direkapitalisasi Rp 700 triliun dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya, harus menjaga kelangsungan fungsi utama bank, termasuk memberi pinjaman kepada pengusaha yang bergerak di sektor riil. Di dalamnya termasuk bank-bank kelas dunia, seperti HSBC, RBS, dan Standard Chartered. Inggris yang dulu pelopor swastanisasi, kini di arah sebaliknya.

"Ini jalan keluar yang tujuannya memulihkan kepercayaan, sekaligus memperkukuh sistem perbankan," ujar Perdana Menteri Gordon Brown.

Menurut Brown, dalam mengatasi kesulitan yang begitu serius, jalan keluarnya memang harus komprehensif. Juga harus kreatif dan tidak sekadar dogmatis. Menaikkan suku bunga seperti yang dilakukan Bank Indonesia, menurut saya, termasuk yang hanya dogmatis dan kurang kreatif. Yakni, satu dogma bahwa untuk menahan orang agar tidak ramai-ramai menukarkan uang ke dolar haruslah memberi rangsangan kepada pemegang rupiah. Ya, menaikkan suku bunga tadi. Tapi, dampak yang lain sangat berat. Untung naiknya hanya kecil (25 basis poin).

Kita punya batu bara bermiliar ton dan hasil bumi lain. Ini yang harus diamankan lewat kebijaksanaan nasional. Mestinya, masih lebih baik nasib kita yang memiliki hasil bumi tersebut daripada negara yang hanya punya kertas saham atau commercial paper dengan nilai yang hancur saat ini.

Kita memang tidak punya cadangan saham di mana-mana. Karena itu, jangan pula yang masih kita punya itu hilang. Saatnya nasionalisme dipertahankan. Sambil lihat-lihat perkembangan dunia. Kalau kita pintar, kita bisa menyalip di tikungan!(*)

Oleh Dahlan Iskan

Wednesday, 8 October 2008

'Arus Banjir Lebaran' di Denpasar

Selepas maghrib saya terima SMS dari pak Saifuzzuhri yang diforward dari SMS sahabat (saudara) lama, isinya sebagai berikut: “Banjir bandang di padang asri. Saat ini trbesar sepanjang sejarah. SAR dan Relawan PKS on the way, ibu, nana, via dll aman di lantai 2. Ruang tamu n lantai 1 terendam. Warung jd posko. Heru” SMS itu saya terima jam 18.54 Wita (Selasa, 7 Oktober 2008).

Saat itu saya bersama keluarga (saya, istri dan anak-anak) masih di Mojosari, Mojokerto, menunggu rombongan dari Madiun yang akan balik ke Bali bersama. Cuaca di jawa saat itu sangat panas khususnya di Mojokerto, jangankan hujan, awanpun gak ada. Pokoknya panas.. nas..nas… Makanya ketika dapat kabar tersebut sempat terkejut juga.

Malam hari ketika kami dalam perjalanan ke Bali tepatnya sekitar Probolinggo, kami mendengar kembali tentang banjir di Bali tersebut via Radio Elsinta dengan jaringan nasionalnya, yang kebetulan sepanjang perjalanan Radio yang ada di Mobil kami hidupkan terus untuk mendengar informasi arus mudik lebaran. Dari informasi tersebut ternyata banjir tidak hanya terjadi di daerah Padang Asri (sebuah perumahan di daerah Padang Sambian, Denpasar) saja. Tetapi terjadi juga di kawasan Pura Demak, Jl.Teuku Umar Barat, Gatot Subroto, Kawasan Monang-maning, Gianyar bahkan tiga kendaraan roda empat terseret arus saat sedang melintas di Jalan Siulan hingga terjerembab ke Sungai Tohpati. Tak luput lantai satu Rumah Asuh Madani di Jalan Gunung Talang pun ikut terendam, pun karpet tempat anak-anak belajar dan sholat bersama ikut menjadi korban padahal bangunan lantai empat itu pondasinya paling tinggi dibanding rumah sekitar sehingga penghuninyapun tidak menyangka jika air bisa masuk.

Masih teringat di benak saya, dulu pernah terjadi banjir di Denpasar yang memakan korban tewas di seret arus Tukad Badung yang naik sejajar mencapai jembatan diatasnya. Selasa lalu sebagian wilayah Denpasar kembali di landa banjir setelah didera hujan seharian dan Kawasan Pura Demak (JL. Teuku Umar Barat) yang memang menjadi daerah rawan banjir karena berada di sejajar dengan bibir sungai Tukad Mati, kembali terendam air mencapi tinggi 2,5 meter.

Banjir di kota tercinta ini mulai mengkhawatirkan, terutama karena sedikitnya perhatian aparat berwenang mengantisipasi permasalahan dan ketidakpedulian masyarakat menjaga kebersihan sungai. Tanggul jebol di daerah Pura Demak ini bukan pertama kali terjadi, Maret 2007 lalu kawasan Pura Demak ini juga dilanda banjir akibat tanggul yang jebol, dan sekarang terulang kembali. uh..terlalu..! Semoga tidak semakin parah seperti di Jakarta.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa topology kota Denpasar yang landai ini memiliki system drainase yang lemah, sehingga Denpasar menjadi daerah rawan banjir dari tahun ke tahun. Disadari atau tidak, kebiasaan masyarakat melakukan pembetonan terhadap halaman dan pemapingan yang tidak tepat telah menghilangkan fungsi resapan air ke tanah dan air mengalir ke daerah yang lebih landai dan diperparah oleh ketiadaan system drainase yang memadai.

Informasi lain menyatakan bahwa banjir, Selasa (7/10) malam itu, menyeret tiga mobil milik warga yang tengah melintas di Jalan Siulan, Toh Pati, hingga masuk ke dalam sungai. Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Banjir yang menerjang kawasan Toh Pati berasal dari luapan Bendungan Wongan lantaran sudah melebihi kapasitas daya tampung setelah hujan deras mengguyur seharian. Banjir juga menyebabkan belasan rumah warga rusak parah.

Banjir juga menerjang Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar, yang berjarak 30 kilometer dari Kota Denpasar. Satu rumah yang berada di tepi sungai bahkan amblas karena tanahnya longsor. Nyoman Ginarti, sang pemilik rumah, mengaku masih trauma dan berencana pindah ke tempat lain.

Meski air telah surut, warga yang tinggal di tepi sungai masih khawatir banjir susulan akan datang. Saat ini yang dilakukan warga sebatas membersihkan rumah tapi belum berani menempatinya. Banjir yang terjadi di Denpasar dan Gianyar sejauh ini tak mengganggu aktivitas para wisatawan karena jauh dari lokasi wisata.

Wednesday, 1 October 2008

Met Idul Fitri 1429 H.

Monday, 29 September 2008

Mudik Tidak Kembali Lagi?

Denpasar Hari Ini
Hari ini Senin, 29 September 2008. Kota Denpasar nampak lengang. Jama’ah di masjid dan mushollah mulai berkurang. Jika minggu pertama, masjid-masjid sesak dipenuhi jamaah sholat tarawih maka di penghujung bulan Ramadhan ini hanya tersisa sekitar satu shaf atau kurang dari itu.

Tidak terkecuali di masjid An-Nuur Denpasar. Mulai hari Sabtu kemarin jama’ah sholat dhuhur sudah banyak berkurang, saat ‘iqomat’ sholat dhuhurpun jamaahnya kurang dari satu shaf. Maklum memang hari sabtu itu sebagian besar para pegawai mulai libur dan cuti kerja, dan sangat baik dimanfaatkan untuk mudik ke kampung halaman.

Tradisi mudik di Indonesia adalah urusan yang sangat besar dan sangat menyibukkan. Tidak tanggung-tanggung pemerintah harus menyiapkan dan menjamin kelancaran arus mudik lebaran, dari tentang armada atau angkutan lebaran sampai ke urusan stabilitas sembako. Begitupun para media televisi tidak ketinggalan tiap waktu menyiarkan arus mudik ini.

Tradisi mudik dalam arti silaturahim sangat positif. Karena di sinilah kita bisa berkunjung dan menyambung silaturrahim dengan orangtua, sanak saudara, kerabat dan handai taulan di kampung halaman. Mereka saling mengunjungi dan bermaaf-maafan. Bisa kita bayangkan apabila tidak ada lebaran dan tradisi mudik, berapa banyak orang yang kehilangan sanak keluarga karena tidak pernah bertemu dan saling silaturrahim.

Mudik dan silaturrahim bersama keluarga, orangtua dan handaitaulan adalah kebutuhan yang manusiawi. Silaturahim dan menyambung hubungan persaudaraan adalah perintah agama. Walaupun silaturrahim dan saling memaafkan tidak harus dilakukan di Hari Raya saja, tapi di hari-hari lainpun bisa dilakukan.

Yang perlu diingata ketika ktia mudik adalah persiapan bekal. Supaya lancar sampai tujuan maka bekal tersebut perlu disiapkan sebaik - baiknya.


Mudik Tidak Kembali
Berbicara tentang mudik, maka kita teringat dengan peristiwa mudik yang akan dialami oleh setiap orang. Setiap orang pasti akan mengalami mudik yang seperti ini bahkan banyak dari kita telah mudik mendahului kita. Mudik yang harus kita lakukan. Tidak peduli kita kaya atau miskin, baik terpaksa mauapun tidak, punya bekal ataupun tidak, hanya menunggu waktu saja.

Yaitu Mudik ke kampung halaman yang abadi. Mudik yang tidak pernah kembali karena disanalah tempat abadi kita. Mudik Ke kampung halaman yang abadi yaitu Kampung Akhirat. Ya, karena kematian akan menjemput kita, pasti menjemput kita. Itulah mudik yang sebenarnya.

“Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang ghaib serta yang nyata.” (QS. Jum'ah:8).

Rasulullah telah memberitahu kita “Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan yaitu kematian”. Jika mudik di dunia saja perlu mempersiapkan bekal apalagi mudik ke kampung akhirat yang jauh sekali.

Rasulullah Saw bersabda : “Tidak akan bergerak telapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang LIMA perkara; UMURNYA untuk apa dihabiskannya, MASA MUDANYA kemana dipergunakannya, HARTANYA DARIMANA ia memperolehnya dan ke MANA dibelanjakannya, dan ILMUNYA sejauh mana pengamalannya” (HR. Turmudzi).

Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk hari akhirat kita? Tentu berbeda, bekal untuk persiapan HARI TUA dengan bekal untuk persiapan di HARI AKHIRAT. Ternyata memang benar bahwa: “MEMPERSIAPKAN BEKAL KEMATIAN LEBIH PENTING DARIPADA MEMPERSIAPKAN HARI TUA” yang belum tentu kita akan sampai pada usia hari tua itu.

Sudah Siapkah Kita?
Allah banyak sekali mengingatkan kita tentang orang yang menyesal karena saat kematian tiba bekal yang dibawanya merasa tidak cukup dan merengek kepada Allah supaya jangan dulu dimatikan atau dikembalikan lagi ke dunia.

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (QS.: Al-Munafiqun [63] ayat 10).

Pesan Rasulullah: ”Cukuplah kematian itu sebagai penasehat”. Karena itu orang yang cerdas menurut ibnu mas’ud adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan orang yang paling bagus menyiapkan bekal untuk menghadapi kematian. Wallau’alam.

Thursday, 25 September 2008

Gerakan Zakat Untuk Indonesia - Batam

Pemenang Masjid Award DSM Bali

Pelatihan Social Intelegence di Hotel Kuta Paradiso

LIVE di BATAMTV : Dari Zakat Untuk Indonesia