Friday, 26 March 2010

Jangan Biarkan Amal Menjadi Buih

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan,…
QS. An Nisaa: 125)

Kisah yang sangat menarik tentang diri Khalid bin Walid selaku panglima yang sangat berjasa bagi kaum muslimin, di dalam puncak karirnya yang gemilang tiba-tiba diturunkan jabatannya menjadi prajurit biasa, oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Dan subhanallah., Khalid tidak marah ataupun kecewa karena jabatannya diturunkan, bahkan ia tetap turut berperang di bawah komando pimpinan yang baru. Ketika banyak orang mempertanyakan dan memprovokasi tentang hal itu, Khalid menjawab dengan tenangnya, “Aku berperang karena Allah, bukan karena Umar”.

Kita mesti banyak belajar tentang Keikhlasan dan sebaik baik contoh keikhlasan adalah meneladani Rasulullah saw. dan para sahabatnya. “Tentara Terdepanmu adalah Keikhlasan”, istilah ini sangat tepat karena memang keikhlasan adalah garda terdepan kita untuk menghadapi segala rintangan di jalan Allah. Keikhlasan membuat kita tak kenal lelah dan tak kenal henti dalam beramal mulia, karena tujuan kita hanya satu, yaitu Allah SWT.

Kita perhatikan kembali ‘catatan amal’ kita. Kita koreksi lintasan hati atau getaran hati yang dapat menggugurkan nilai amal kita. Mungkin kita pernah berfikir tentang kesuksesan, kemudian berucap “Itu karena kehebatan saya, apa jadinya tanpa diri saya?” bukankah yang demikian senada dengan Fira’un yang menjadikannya dirinya sombong sampai berani mengikrarkan dirinya sebagai Tuhan atau kisah Qorun yang ditenggelamkan Allah karena merasa kehebatan dirinya dalam mengumpulkan harta kekayaanya.

“Kecewa!”, iya kita sering kecewa jika tujuan kita menyimpang kepada yang sifatnya duniawi, maka saat tujuan itu tak tercapai, kita akan mudah kecewa dan berbalik ke belakang. Bila amal dibangun lantaran mengharapkan apa-apa yang ada pada manusia, berupa penghormatan, penghargaan, pengakuan eksistensi diri, popularitas, jabatan, pengikut dan pujian, maka hakekatnya kita telah berubah menjadi hamba manusia, bukan lagi hamba Allah SWT. Sekali lagi, kita terutama penulis harus banyak belajar dan berlatih tentang keikhlasan.

Selayaknya kita bangun prestasi amal kita karena Allah SWT semata, sebab amal yang dibangun selain karena-Nya hanya akan meninggalkan buih-buih amal yang membuat kita kecewa di kemudian hari. Wallahu’alam. (alimmahdi.com).::.

Related Posts:

  • Jangan Jadikan Air Itu BerhentiPerang Ahzab atau perang Khandaq adalah pertempuran yang sangat melelahkan. Memang pertempuran dalam arti saling membunuh dalam jarak dekat tidak banyak terjadi. Namun, sepuluh ribu pasukan multinasional yang mengepung Madin… Read More
  • Semangat ber-Zakat setelah RamadhanRamadhan memang bulan penuh berkah. Sungguh karena ratusan kali lipat ganjaran kebajikannya. Maka tiap muslim berlomba meningkatkan ibadah. Yang tadinya makan cuma paket hemat, untuk berbuka puasa menjadi paket istimewa. Lebi… Read More
  • Air Mata saya Menetes di Rumah DR.Hidayat NurwahidPenulis: Nabil AlmusawaEmail: nabielfuad@yahoo.comBismillahhir Rahmaanir Rahiim,Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk ikut dalam acara buka bersama dengan Ketua MPR-RI, DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah din… Read More
  • Kita sambut Ramadhan dengan Hati yang bersih & gembiraKHUTBAH RASULULLAH MENYAMBUT RAMADHAN Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling ut… Read More
  • Tanda-Tanda Malam Lailatul QadarDiantara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, di… Read More

5 komentar:

Alim Mahdi adalah Founder www.mastersop.com

Konsultan SOP dan Penggagas "GERAKAN PENGUSAHA SADAR SOP"