Paket SOP Toko Retail Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Toko Retail Modern.

Key Performance Indicator (KPI)

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : Key Performance Indicator (KPI).

Konsultan SOP Perusahaan

Master SOP adalah Konsultan SOP dan Sistem Bisnis untuk bisnis yang Autopilot.

Paket SOP Garmen / Konveksi

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Garmen / Konveksi.

Paket SOP Resto Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Resto Modern.

Monday, 11 August 2008

Siapakah yang Gila

PEMILIHAN kepala daerah kini tidak melulu menghasilkan kemenangan dan kekalahan bagi para calon. Tetapi juga melahirkan orang sakit jiwa.
Yang terjadi pada Yuli Nursanto alias Yuli Goong merupakan bukti empiris.

Yuli adalah calon Bupati Ponorogo periode 2005-2010. Berpasangan dengan Achmad Soenarno yang didukung Partai Persatuan Pemban

Tidak sekadar kalah, Yuli juga terbelit utang. Sebelum pencalonan bupati, Yuli meminjam uang hingga hampir mencapai Rp3 miliar. Inilah modal memuluskan jalan menjadi orang nomor satu di Ponorogo. Maksud hati memeluk gunung, apa daya dia kalah telak.

Tagihan pinjaman pun datang bertubi-tubi. Ia tak bisa membayarnya. Tangan hukum pun berbicara. Ia menjadi pesakitan di pengadilan.

Ditambah deraan berbagai soal lain yang terus menekan, daya tahan fisik, mental, dan sosial Yuli jebol. Tingkah lakunya mulai aneh-aneh. Tak jarang ia mulai cengar-cengir sendirian tanpa alasan. Ia kemudian berteriak-teriak histeris. Bahkan, mulai kerap turun ke jalan raya mengenang saat-saat kampanye pilkada dengan penampilan lebih mencolok hanya mengenakan celana dalam. Itu pun sesekali ia perosotkan di depan khalayak. Ia tentu bebas melakukannya karena sudah gila.

Fenomena Yuli selain menggelikan sangat memprihatinkan. Secara leksikal ia telah menjelajahi spektrum gila dari yang konotatif hingga yang denotatif. Artinya dari gila jabatan, gila kekuasaan, gila hormat, hingga menjadi gila beneran. Gila secara psikiatris.

Kita khawatir yang terjadi pada Yuli berpotensi pula terjadi pada banyak orang yang maju dalam pemilihan umum untuk menjadi kepala daerah hingga presiden. Kita juga khawatir fenomena yang sama menimpa mereka yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, dari pusat hingga daerah.

Sejarah sebaiknya mencatat Yuli, sebagai calon bupati pertama yang menjadi gila beneran setelah mengikuti pilkada langsung di sebuah negeri yang tergolong negara demokrasi terbesar di dunia. Pertanyaannya adalah mengapa hanya Yuli sendiri yang pada akhirnya menjadi gila secara denotatif, secara psikiatris?

Padahal meminjam uang miliaran rupiah, hipotetis juga dilakukan orang lain yang maju dalam pilkada, baik yang kemudian menang maupun kalah.

Mungkin Yuli tidak belajar dari yang sukses maupun yang gagal. Yaitu, sanggup melupakan janji. Yang gagal melupakan janji membayar utang, bahkan mungkin membuat janji baru sampai berhasil dalam pilkada berikutnya. Bukankah kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda? Dengan sikap ini, sekalipun kalah dan tertimbun utang, tak sampai gila betulan.

Sebaliknya, yang menang melupakan janji kampanye. Sebab, janji itu terlalu banyak, terlalu berat, terlalu muluk untuk dilaksanakan sehingga bisa membuat mereka gila sungguhan seperti Yuli.

Yuli, jangan-jangan adalah orang yang teguh memegang janji dan karena itu membuatnya gila. Sedangkan lainnya ingkar janji dan itu justru membuatnya tetap normal. Jadi, siapa yang sesungguhnya gila secara hakiki? Ini pertanyaan yang sangat mengerikan untuk bangsa ini.

(Sumber: Editorial Media Indonesia)

Sunday, 10 August 2008

MUI Bali melantik Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Bali

Ruang VIP Wong Solo Renon, menjadi saksi atas pelantikan pengurus Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Provinsi Bali pada hari minggu, 9 Agustus 2008 jam 10 wita. FUI Bali yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali ini di ketuai oleh H. Hasan Basri, SE, MBA yang beranggotakan berbagai unsur umat Islam. Setelah pelantikan ini rencananya ke depan akan dibentuk Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) di seluruh tingkat kota dan kabupaten di Bali.

Dalam sambutannya ketua MUI Bali, A. Hasan Ali mengingatkan bahwa banyaknya kelompok muslim di Bali termasuk berbagai macam organisasi keislaman bukanlah merupakan bentuk perpecahan tetapi harus saling menguatkan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. Bahwa antara muslim yang satu dengan muslim yang lainnya itu sebagaimana bangunan yang satu, mereka saling menguatkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Ditambahkan beliau bahwa ibarat bangunan rumah, disitu ada lantai, ada tembok, ada tiang, dan atapnya, yang masing-masing punya peran yang sesuai dengan fungsinya. Begitu juga dengan adanya berbagai Ormas, mereka semua sudah semestinya dirangkul untuk memperkuat Ukhuwah Islamiyah sesuai perannya masing-masing. Antar Ormas akan saling menguatkan dan mengisi ibarat bangunan tadi ada yang berfungsi sebagai lantai, tembok, atap dan sebagainya.

Pelantikan yang diadakan di Renon Denpasar tersebut dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai elemen Islam di Bali. Dengan terbentuknya FUI ini diharapkan dapat mewadahi berbagai komponen muslim yang ada di Bali. Amin... Selamat berjuang!. Wallahu’alam.

Thursday, 7 August 2008

Sebanyak 93,08 Persen Lulusan SMP Tidak Bisa Melanjutkan Sekolah

Hanya Tujuh Persen Lulusan SMP Lanjutkan Studi

Kondisi Pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan. Pasalnya, hanya tujuh persen siswa lulusan SMP yang bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tingkat atas, yakni Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sisanya sebanyak 93,08 persen tidak dapat melanjutnya ke jenjang tersebut.

"Penyebab mereka tidak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya dikarenakan kondisi sosial ekonomi yang memang kurang menguntungkan," Ujar Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo, dalam pembukaan Lomba Motivasi Belajar Mandiri (LOMOJARI), Senin malam (4/8/08).

Menurut Mendiknas, untuk mengatasi persoalan tersebut, Depdiknas mengantisipasinya dengan mendirikan SMP terbuka. Di SMP ini siswa akan mendapat bantuan pendidikan ketrampilan pravokasional yang dipilih dengan cara melaksanakannya di sekolah masing-masing. "Ini tidak terikat waktu dan jam pelajaran," jelasnya.

Pemberian kebijakan ini, kata Mendiknas, untuk kemandirian SMP dan Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MBS). "Selain itu juga untuk pemenuhan hak dan kewajiban wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun," tegasnya.

Summber: Berita lengkap bisa dibaca di harian republika, Kamis, 7 Agustus 2008

Tuesday, 5 August 2008

Orang Miskin, Bukan Sekadar Angka

Orang Miskin, Bukan Sekadar Angka
Wahyu Susilo

Hari ini, 17 Oktober 2007, diperingati sebagai Hari Penanggulangan Kemiskinan Sedunia. Dalam dua tahun terakhir, kita selalu disuguhi sengketa statistik tentang turun-naiknya angka kemiskinan.
Dari otoritas negara, seperti lazimnya rezim yang berkuasa, tentu mengklaim telah terjadi penurunan angka kemiskinan. Di sisi lain, di kalangan ekonom non-mainstream, meragukan klaim itu bahkan mengemukakan fakta sebaliknya, jumlah orang miskin Indonesia cenderung meningkat.

Sengketa angka kemiskinan
Meski kedua pihak bersengketa soal angka kemiskinan, namun keduanya meletakkan analisisnya pada ukuran yang sama, yaitu analisis statistik kuantitatif. Perkembangan ilmu ekonomi memang makin eskalatif meninggalkan cabang ilmu sosial lainnya, saat analisis matematik (ekonometri) menjadi tulang punggung ilmu ekonomi. Namun, ilmu ekonomi juga makin meninggalkan "kemanusiaan"-nya saat kebutuhan dasar hidup matinya manusia hanya diwujudkan dalam "angka-angka".

Agak disesalkan ketika Millennium Development Goals (MDGs), yang menjadi komitmen global penanggulangan kemiskinan pada awal abad milenium 2000, lebih banyak menggunakan indikator-indikator kuantitatif dalam elaborasi tujuan dan targetnya.

Ini menjadi salah satu kelemahan MDGs saat menjadi tools advokasi menagih janji dan komitmen negara penanda tangan pakta global ini. Dalam dua kali penyajian progress report MDGs di Indonesia tahun 2004 dan 2005, progress report itu juga penuh angka statistik yang dingin dan kaku, tanpa penjelasan kualitatif yang mampu berbicara.
Dalam situasi seperti itu, para pegiat organisasi nonpemerintah mengembangkan analisis sosial untuk mengidentifikasi pokok soal kemiskinan melalui metode participatory poverty assesment (PPA).

Metode ini hendak mengembalikan "fitrah" analisis kemiskinan yang seharusnya berdasarkan kebutuhan kaum miskin secara riil. Dengan demikian keluaran dari analisis ini adalah narasi-narasi kualitatif yang tak lazim dipakai kaum tekno-ekonom kita yang mendominasi perencanaan kebijakan makro-ekonomi.

Narasi-narasi kualitatif itu bisa menjadi pedoman perumusan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Satu-satunya kebijakan penanggulangan kemiskinan yang pernah disusun melalui metode ini adalah Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan yang diadopsi menjadi Bab 16 dari Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009.

Sayang, dokumen itu tak dijadikan road map penanggulangan kemiskinan. Dokumen ini menjadi tak ada artinya saat negara (dalam hal ini konspirasi eksekutif-legislatif) memproduksi legislasi kebijakan makro-ekonomi yang berkiblat pada pasar dan investasi, sesuai dengan petuah lembaga multilateral dan donor multilateral yang menjadi sumber utang pendanaan pembangunan.

Kebijakan tanpa perasaan
Jika kemiskinan hanya diperdebatkan dalam angka, tabel, atau grafik statistik, tak akan ada penghayatan atas kemiskinan yang benar-benar dirasakan rakyat Indonesia.
Dan perdebatan itu pun hanya menghasilkan kebijakan tanpa perasaan karena disusun tanpa penghayatan dan pelibatan langsung pada realitas kemiskinan. Perda Ketertiban Umum yang berlaku di DKI Jakarta merupakan contoh nyata kebijakan yang dibuat tanpa perasaan dan penghayatan.

Hampir selalu ada penyangkalan dari otoritas kekuasaan saat media atau organisasi nonpemerintah melansir realitas kemiskinan (misalnya kematian akibat kelaparan/gizi buruk) yang dialami komunitas miskin di suatu wilayah.

Penyangkalannya bisa berupa penciutan/pengurangan data, dengan menyatakan, jumlah yang mati/lapar/mengalami gizi buruk masih kecil persentasenya.
Bentuk penyangkalan lain adalah pengabaian data itu, bahkan sering berkilah, yang mengalami kematian/gizi buruk/kelaparan bukan orang yang ber-KTP wilayah itu (kaum pendatang).

Berbagai penyangkalan tersebut mengisyaratkan, memang ada pemakluman bahwa orang miskin perlu ada sebagai tumbal bagi mereka yang kaya.

Orang miskin sebagai "kriminal"
Selain hanya ditulis sebagai "angka", orang miskin kerap pula dianggap dan diperlakukan sebagai "criminal”.

Masih dalam suasana Idul Fitri, saat seharusnya semua orang (termasuk pejabat) membuka lebar-lebar mata hatinya, sudah menebar teror dan ancaman untuk orang miskin yang mencoba mengadu nasib di Ibu Kota.

Petinggi Ibu Kota menyatakan akan menangkap dan memulangkan ratusan ribu pendatang baru (mayoritas orang miskin) yang selalu datang ke Jakarta pada masa arus balik Lebaran. Apakah Ibu Kota ini hanya milik orang berpunya?

Jika ancaman itu benar-benar dilakukan dan Pemprov DKI menggerakkan Satpol PP untuk Operasi Yustisi, apa yang dilakukan Pemprov DKI persis yang dilakukan Pemerintah Malaysia menggerakkan Rela "memangsa" orang Indonesia di Malaysia.
Menegaskan komitmen

Soal komitmen penanggulangan kemiskinan, Indonesia tak hanya menjadi bagian dari pakta global MDGs, tetapi juga telah menjadi negara peratifikasi Kovenan PBB untuk Hak-hak Ekonomi Sosial Budaya (melalui UU No 11/2005). Kovenan itu bahkan lebih operasional dan mengikat secara yuridis karena mengamanatkan adanya harmonisasi perundang-undangan di tingkat nasional.

Meski demikian, hingga kini belum terlihat gelagat politik dari pemerintah untuk mengharmoniskan UU bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Masih konservatifnya politik anggaran yang tercermin dalam APBN menjadi bukti pengabaian implementasi ratifikasi kovenan pokok ini.

Hingga kini APBN kita hanya menjadi pelestari birokrasi biaya tinggi, membuka peluang korupsi, tetapi masih terlalu jauh untuk memfasilitasi upaya mencerdaskan dan menyehatkan warga negara, apalagi membebaskannya dari belenggu kemiskinan.

Wahyu Susilo Bekerja di International NGO Forum on Indonesian Development (INFID); Campaigner Global Call to Action Against Poverty (GCAP).

Friday, 1 August 2008

Free Animasi Flash: Banner Request



Bagi yang ingin dihilangkan URL Link-nya atau ingin dipasang Link Blognya sendiri. Atau ingin mendapatkan file "SWF"-nya. Silakan hubungi: Alim Mahdi, E-mail/YM: alimmahdi@yahoo.com
_________________________________________________________

FOTO: Keluarga Syam di Malaysia (SWF)




Copy code di bawah ini:


Wednesday, 30 July 2008

Sang Murabbi: Mencari Spirit Yang Hilang

Ribuan langkah kautapaki, pelosok negeri kausambangi, tanpa kenal lelah dan jemu, sampaikan firman Tuhan-Mu. Begitulah sosok perjalanan dakwah ustadz Rahmat Abdullah yang diangkat dalam film Majelis Budaya Rakyat (MBR) bertajuk Sang Murabbi.

Film Sang Murabbi, yang hanya dipasarkan kepada masyarakat dalam bentuk kepingan VCD/DVD, antara lain, digarap oleh sutradara Zul Ardhia, Muhammad Yunus (penulis skenario), Embi C Noer (penata musik), dan dibintangi pemeran utama Irwan Rinaldi (Ustadz Rahmat Abdullah), Astri Ivo (umi Fida, istri Ustadz Rahmat), Neno Warisman, serta David Chalik.

Film ini berkisah tentang perjalanan dakwah Ustadz Rahmat Abdullah. Berawal dari persepsi positif Ustadz Rahmat muda tentang profesi guru, yang merupakan rekfleksi cita-citanya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap kali ditanya orang, apa cita-citanya, ia akan menjawab dengan mantap: menjadi guru!

Persepsi itu kemudian menjadi sangat vital dan menggerakkan seluruh energi hidup Ustadz Rahmat, ketika ia menimba ilmu di pesantren Asy Syafiiyah di bawah asuhan K.H. Abdullah Syafii. Bakat besar dan pemikirannya yang brilian, menjadikan Ustadz Rahmat dikagumi oleh setiap orang, terutama gurunya, K.H. Abdullah Syafii, yang menjadikan Ustad Rahmat muda sebagai murid kesayangannya.

Ustadz Rahmat muda mulai merintis kariernya sebagai guru selulus dari Asy Syafiiyah. Selain di almamaternya, ia juga mengajar di sekolah dasar Islam lainnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Perjalanan karier yang dipilihnya itu kemudian mempertemukannya dengan guru keduanya, Ustadz Bakir Said Abduh yang mengelola Rumah Pendidikan Islam (RPI). Melalui ustadz lulusan perguruan tinggi di Mesir itu, Ustadz Rahmat banyak membaca buku-buku karya ulama Ikhwanul Muslimin, salah satunya adalah buku Da’watuna (Hasan Al-Bana) yang kemudian ia terjemahankan menjadi Dakwah Kami Kemarin dan Hari Ini (Pustaka Amanah).

Situasi ini, membuat potensi bakat Ustadz Rahmat Abdullah melejit dengan banyaknya referensi bacaan yang ia konsumsi, mulai dari kitab Arab klasik yang sudah sulit dicari, sampai buku-buku sastra dan budaya. Ia pun dikenal sebagai dai yang lengkap, karena tidak cuma menguasai ilmu-ilmu Islam yang “standard” tetapi juga persoalan-persoalan kontemporer.

Potret paripurna keda’ian Ustadz Rahmat terlihat ketika ia membina para pemuda di lingkungan rumahnya di kawasan Kuningan. Ustadz Rahmat menggunakan pendekatan yang masih sangat langka di kalangan da’i, yaitu dengan grup teater yang didirikannya. Para pemuda itu diasuhnya dalam organisasi bernama Pemuda Raudhatul Falah (PARAF) yang menghidupkan masjid Raudhatul Falah di bilangan Kuningan dengan kegiatan-kegiatan keislaman.

Pementasan grup teater binaan Ustadz Rahmat muda itu mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Salah satunya adalah pementasan berjudul Perang Yarmuk. Pada pementasan inilah, Ustadz Rahmat dan para pemuda PARAF harus berhadapan dengan aparat yang mencoba membubarkan pementasan.

Akibat pementasan itu, Ustadz Rahmat dikenai wajib lapor. Tapi, hingga hari ini, Ustadz Rahmat tidak pernah mau meladeni aturan yang menindas kebebasan itu.

“Saya tidak akan pernah datang ke kantor kalian,” kata Ustadz Rahmat kepada Suryo, seorang aparat yang bertugas menyatroninya. “Kalau ibu saya yang memanggil, baru saya mau datang.”

Keteguhan pada prinsip dan ketegasan sikapnya itulah yang membuat Suryo ngeper. Hingga bertahun kemudian keteguhan dan ketegasan itu tetap terpelihara dengan baik, meski Almarhum harus terlibat dalam wasilah (sarana) dakwah bernama partai. Ia tetap dikenal sebagai guru ngaji, inspirator kaum muda yang progresif dan berpikiran jauh ke depan. Undangan daurah satu ke daurah yang lain tetap disambanginya. Tak ada yang berubah, termasuk ciri khas yang menjadi warisan dari kedua orang tuanya yang mulia: kesederhanaan.

Ustadz Rahmat memang berada di jenjang tertinggi partai, serta terpilih pula sebagai wakil rakyat di DPR pusat. Namun, ia kerap dipergoki sedang menyetop bus kota untuk mendatangi sebuah undangan. Ia kerap terlihat jalan kaki untuk jarak yang cukup jauh. Tak ada yang berubah, karena ia sadar betul bahwa langkah itulah yang dimulainya dulu sebagai permulaan di jalan dakwah.

Hingga akhirnya, di sebuah hari yang sibuk dan berat, Ustadz Rahmat merasakah tanda-tanda kesehatannya terganggu. Namun, rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap amanah dakwah, membuat ia tak begitu mempedulikan tanda-tanda itu.

Ia masih terlibat dalam sebuah syuro penting. Lalu, saat adzan berkumandang dan ia beranjak untuk memenuhi panggilan suci itu, ia berjalan ke tempat wudhu. Saat berwudhu, tanda-tanda itu makin kuat, menelikung pembuluh darah di bagian lehernya. Ia coba untuk menyempurnakan wudhunya, tapi rasa sakit yang merejam-rejam kepalanya membuatnya limbung.

Disaksikan oleh Ustadz Mahfudzi, salah seorang muridnya, Ustadz Rahmat nyaris terjatuh. Ustadz Mahfudzi cepat memapahnya, lalu mencoba menyelamatkan situasi. Tetapi Alloh lebih sayang kepada Ustadz Rahmat Abdullah. Innalillahi wa innailaihi raaji’uun… Syaikhut Tarbiyah itu meninggalkan kita dengan senyum yang amat tulus… hujan air mata dari seluruh pelosok tempat mengiringi kepulangan beliau.

Hadir dalam acara peluncuran film ini (27/7/08), yakni Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan Presiden PKS Tifatul Sembiring. "Film ini diharapkan dapat menggugah iman kehambaan, menggugah takwa keteladanan, menggugah ruh dalam jiwa, membakar ghiroh berjuang dalam dakwah. Semoga film ini dapat membina umat dan bermanfaat bagi umat menjadi Sang Murabbi," harap Ridwan, Produser MBR.

Kunjungi situs resmi Sang Murabbi
Lihat trailer film Sang Murabbi

Download MP3 Nasyid Izzis, Sang Murabbi

Nasyid: Sang Murabbi

Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi

Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu

Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu

Raga kan terluka
Tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu

Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berarti
Surga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami
Kau semai nilai nan suci
Tegak panji Illahi
Bangkit generasi Robbani..

Saturday, 26 July 2008

Generator Flash Animation

Posting ini tentang Eksperimen saya dalam membuat "Generator Flash Animation" istilah yang baru saya dapat. Yaitu untuk istilah animasi flash yang tulisannya dapat diisi sendiri oleh user dan user tinggal copy paste code generatornya untuk dipasang di blog/site sendiri.




Bagaimana menurut Anda? Jika ingin pasang Animasi tersebut di blog Anda, silakan isi Nama dan Pesan Anda kemudian copy paste pada codenya dan taruh di blog Anda, gratis kok!...

Terima kasih banyak atas saran dan masukannya selama ini. Selamat berkarya dan tetap semangat!!!


.::.Alim Mahdi.::.

Friday, 25 July 2008

Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

Alangkah seringnya mentergesai kenikmatan tanpa ikatan membuat detik-detik di depan terasa hambar. Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya. Saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Inilah puasa panjang syahwatku, kekuatan ada pada menahan dan rasa nikmat itu terasa, di waktu yang penuh kejutan. Coba saja kalau Allah yang menghalalkan, setitis cicipan surga kan menjadi shadaqoh berpahala.

Buku ini dipersembahkan untuk mereka yang lagi jatuh hati atau sedang pacaran bersama doi yang dipenuhi hasrat nikah tapi belum bernyali yang sedang menjalani proses penuh liku dan yang ingin melanggengkan masa-masa indah pernikahannya.

Buku ini mengingatkan pengalaman pribadi bersama istri tercinta. Karena kami baru pacaran setelah menikah. Dan di situlah letak nikmatnya.

Buku yang diterbitkan Pro-U Media ini ditulis oleh Salim A. Fillah memang cocok bagi Anda yang berniat segera menjalin rumah tagga islami yang diridhoi oleh Allah Swt.

Our Wedding In Heaven

Pernikahan Kami Di Surga

Novel setebal 335 halaman ini adalah terjemahan dari ‘Azzam Hadban. Novel ini banyak menceritakan kejadian perang saudara di Libanon yang justru awal mulainya kisah kisah lucu, keras tapi kok membumbung tinggi.

Justru aku lihat, benar benar kondisi para ‘cowok’ mirip dengan apa yang dirasakan, apa yang di anut “Usamah” (bintang novel-red). Aku ingin seperti mereka, aku ingin mencari mereka, aku ingin menjadi mereka, aku ingin segala galanya, aku ingin itu ini — seorang Usamah, yang benar benar keras pendirianya —
Tapi tatkala bertemu “Abir” , gadis berjilbab ( 15 thn), busetttt… aku pikir kalah akan parasnya .. tapi yang namanya cowok keras .. tetap idealis dengan apa yang di inginkan. tapi penyesalan ini akan di bayar mahal , bahkan amat sangat MAHAL ..

Banyak… hal hal yang aku duga dari alur cerita seperti novel islami ( mirip alurnya), tapi novel ini beda aku membaca sempat terjebak dengan pola pikir dari penulis, banyak kejadian yang justru membuat aku pingin tahu sebenarnya .. apa ending dari ceritanya ….

Sungguh, demi baca ini … lembur, lembur .. ( 01.45 malam-red).. selesai, dan akhirnya tahu apa yang di sampaikan oleh penulis. Terkejut, ini membuat aku pingin tahu adakah cowok “usamah” yang begitu kerasnya , yang begitu “dingin” dengan yang namanya ‘wanita’, tapi akhirnya sadar bahwasanya ‘wanita’ tidak yang dia pikirkan.

Ingin tahu.. kelanjutan ceritanya. silahkan rekan rekan . beli .. cuma 45 rb tok….

“Usamah, mungkin ini sesuatu yang aneh bagi wanita, apalagi bagi wanita yang tahu agama sepertiku,” kata Abir sembari mendekat. “Tapi… aku harus mengatakanya. Maukah kamu menjadi suamiku?”

Usamah tampak kaget dengan permohonan yang begitu tiba tiba ini. Namun ia segera menimpali, “Abir…. kamu tahu itulah yang selama ini aku impikan sejak pertama kali melihatmu. Tapi…. sekarang? Aku sudah tidak punya sisa umur lagi.”

Dikutip dari blog Elin Kuswoyo dengan izin.

Thursday, 24 July 2008

Awas: “Yahoo Warning!!! SPAM Berbahaya"

Ketika saya membuka Inbox Yahoo Mail terdapat kiriman tertanggal 15 Juli 2008 yang bertitelkan “Yahoo Warning!!! (Verify Your Account Now To Avoid Service Suspension)”.

Dengan rasa khawatir saya baca email tersebut yang intinya adalah pihak Yahoo! Account Services meminta kita untuk ‘me-verify’, mengkonfirmasi ulang account email kita dengan meminta Username, Password, Tanggal Lahir, Negara asal untuk diisi dan dikirimkan paling lambat 24 jam, jika tidak Yahoo Account kita akan di hapus.

Isi aslinya (dengan banner yang meyakinkan) sebagai berikut:

Yahoo Warning!!! (Verify Your Account Now To Avoid Service Suspension)

From: "Yahoo! Account Services"

Let your email come to you.
With Yahoo! Mail Alerts, you'll know
the instant you get one
Account Alert
Dear Valued Member,
Due to the congestion in all Yahoo users and removal of all unused Yahoo Accounts,Yahoo would be shutting down all unused accounts,You will have to confirm your E-mail by filling out your Login Info below after clicking the reply botton, or your account will be suspended within 24 hours for security reasons.

UserName: ...................................
Password:......................................
Date Of Birth: .................................
Country Or Territory:.....................

After Following the instructions in the sheet,your account will not be interrupted and will continue as normal.Thanks for your attention to this request.We apologize for any inconvinience.


Mulanya email ini saya abaikan kemudian karena saya masih penasaran hari ini juga saya mencari tahu tentang kebenaran isi email tersebut. Setelah melakukan beberapa kali searching baru saya tahu bahwa email persis seperti ini banyak menimpah banyak orang bahkan bisa membobol account kita, terutama bila account tersebut digunakan dalam web, blog atau e-bisnis kita.

Hasilnya Email tersebut ternyata SPAM dan TIPUAN yang berbahaya. Maka kita harus lebih berhati-hati dalam merespon email semacam itu.
Semoga info ini bermanfaat. Selamat bekerja dan tetap semangat!

Received this before and I had checked with Yahoo about this.
DO NOT reply. This is a phishing scam attempting to get you to give them all your personal info. It's not from Yahoo, just delete it and ignore it. Good luck and be careful.