Paket SOP Toko Retail Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Toko Retail Modern.

Key Performance Indicator (KPI)

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : Key Performance Indicator (KPI).

Konsultan SOP Perusahaan

Master SOP adalah Konsultan SOP dan Sistem Bisnis untuk bisnis yang Autopilot.

Paket SOP Garmen / Konveksi

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Garmen / Konveksi.

Paket SOP Resto Modern

Refrensi dan Contoh Lengkap Penyusunan SOP dari Produk Paket Serial Contoh SOP Perusahaan : SOP Resto Modern.

Wednesday, 22 September 2010

Jangan Bertawakkal Pada Matamu,Tapi Pada Allah..

Di Mesir ada seorang pemuda bernama Abbas Assisi. Suatu hari ia bersilaturahim dengan Syaikh Hasan Al Banna pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin, keduanya kemudian bercakap-cakap dan Syaikh Al Banna menanyakan apa rencana Abbas Assisi selanjutnya. Asisi yang baru menyelesaikan pendidikan menengahnya menjelaskan apa yang menjadi rencananya.
Lalu Al Banna berkata: ”mengapa kamu tidak mencoba untuk masuk kemiliteran (menjadi tentara)?"

“Saya punya masalah dengan mata saya” jawab Asisi, ”saya takut tak bisa lulus dalam ujian menembak”

“Tak apa,bertawakallah pada Allah”kata Syaikh Al Banna.

“Bagaimana saya akan bertawakal kepada Allah, sementara saya mengetahui ada masalah dengan mata saya?

“Justru itu”jawab Al Banna” Bertawakkalah kepada Allah, kalau matamu sehat, boleh jadi kamu akan bertawakal kepada matamu”.

Abbas Asisi mengikuti saran Al Banna, ia masuk kemiliteran, saat mengikuti ujian menembak, hatinya kembali diliputi keraguan,tapi ia ingat pesan gurunya itu, maka ia berusaha maksimal dan menyerahkan kepada Allah saja, ternyata ia lulus sebagai peserta terbaik dalam ujian menembak itu.

Saudaraku... Ada pelajaran penting dari cerita ini, Syaikh Al Banna mengingatkan Abbas Asisi, Jika matanya sehat boleh jadi ia akan bertawakal pada matanya bukan kepada Allah.

Inilah yang sering terjadi pada kebanyakan manusia... Ketika ia dalam kondisi baik dan mampu,sering tanpa sadar merasa bahwa apa yang diperolehnya sekarang yang membuat dirinya berhasil,adalah berdasarkan buah dari kemampuan dirinya,

Ia menjadi sombong seperti Qarun yang mengklaim kekayaanya adalah hasil dari kepandaian dan kemampuannya sendiri tanpa ada campur tangan Allah.

Padahal mudah bagi Allah menghancurkan seseorang semudah Allah memuliakan Sesorang.

Dan ketika kita ditimpa kegagalan, kita menjadi mudah putus asa, kita mengeluh pada Allah, bahwa semuanya sudah kita penuhi, tapi mengapa juga masih mengalami kegagalan. Kita lupa bahwa Allahlah yang menentukan segala sesuatu,dan bisa jadi ketentuan Allah berbeda dengan keinginan kita, apa yang ditetapkan Allahlah yang bakal terjadi.

Nasihat Syaikh Al Banna,juga menyadarkan kita,bila kita mempunyai kemampuan terbatas atau tubuh yang tidak sempurna, tidak menjadi halangan buat kita untuk terus berusaha mencapai apa yang kita cita-citakan. Kita tetap terus berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.bertawakallah kepada Allah dalam beramal, maka jiwa kita akan tenang.

Bertawakallah kepada Allah, boleh jadi kita akan terkejut dan tersenyum melihat hasilnya, Kalau Allah berkehendak, apa yang kita rencanakan bisa saja berhasil,walaupun mungkin kelihatan mustahil.

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ ما بِقَومٍ حَتّىٰ يُغَيِّروا ما بِأَنفُسِهِم


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

.::.
Tulisan-tulisan Almarhum Syaikh Abbas Assisi (1339 - 1425 H) antara lain: tulisan-tulisannya, ath-Thariq ila al-Qulub (Jalan Menuju Hati), Da'wah ilallahi Hubb, al-Hubb fillah Risalah, adz-Dzauq Suluk ar-Ruh dan lain-lain.
.::.
Baca juga: Mengenang Kepergian Abbas Assisi
.::.
Refrensi: Sonny AbiFatih

Tuesday, 21 September 2010

Sepele: PLN Mengharamkan Rokok

Oleh: Dahlan Iskan*
Inilah CEO's note edisi ke-9 yang untuk menuliskannya tidak perlu mikir. Ini gara-gara e-mail curhat seorang karyawan yang dikirim ke beberapa rekannya pertengahan bulan Ramadan lalu. Salah satu alamat cc e-mail tersebut untuk saya sehingga saya ikut membacanya.
E-mail itulah yang kemudian mendapat reaksi luas, bersahut-sahutan, dari karyawan lainnya.

Saya terus mengikutinya dengan seksama. E-mail itu lantas saya teruskan ke semua direksi PLN. Mereka pun ikut menanggapi. Lalu lintas e-mail antar karyawan itulah yang menjadi bagian pertama CEO's note kali ini. Sedangkan tanggapan para direktur saya tempatkan di bagian berikutnya.

Inilah CEO's note dadakan karena sudah harus terbit pada akhir Ramadan. Agar berkahnya masih kuat. Setidaknya, agar momentumnya masih nyambung. Setidaknya lagi, agar begitu bulan puasa lewat, apa yang dimaksudkan dalam CEO's note ini langsung bisa dilaksanakan di semua kantor PLN di seluruh Indonesia.

Sebenarnya, sudah banyak pimpinan cabang PLN yang menerapkan peraturan ini lebih dulu dari pusatnya, tapi masih sporadis. Beberapa pimpinan cabang PLN memang ikut mengeluhkan pengapnya kantor pusat saat mereka datang ke Jakarta.

Saya sendiri, di tempat saya yang lama (Jawa Pos, Red), pernah mengeluarkan peraturan seperti ini. Jadi, bagi saya tidak ada masalah. Hasilnya juga sudah terbukti sangat baik. Karena itu, kalau sekarang saya dituntut karyawan PLN untuk mengeluarkan ketentuan yang sama, ibaratnya asu rindhik digitik. Seperti orang lapar tiba-tiba disuruh makan xia fei.

Bahkan, ketentuan yang pernah saya buat di tempat saya yang lama itu lebih keras. Larangan tersebut mula-mula hanya berlaku di ruang kerja. Lalu, berhasil diperluas ke seluruh gedung. Dua tahun berikutnya lebih keras lagi: Karyawan yang tidak memedulikan larangan itu tidak boleh memegang jabatan struktural.

Terakhir, larangan tersebut berbunyi: Barang siapa masih melakukannya, tunjangan kesehatannya (biaya pengobatannya) dihapuskan! Untuk apa memberikan tunjangan kesehatan kalau dia sendiri dengan sengaja mengorbankan kesehatannya!

Kebetulan, semua direksi saya waktu itu tidak ada yang begitu. Setidaknya, sudah tidak melakukannya lagi sebelum jadi direktur. Itu sebuah kebetulan yang hebat. Sekarang pun, tidak seorang pun direksi PLN yang melakukannya. Jadi, pasti, peraturan ini akan bisa ditegakkan dengan keras.

Saya perhatikan, di mana-mana, termasuk di anak-anak perusahaan tempat saya dulu bekerja, ketentuan seperti ini sulit dilaksanakan karena satu alasan: di antara pimpinannya sendiri ada yang melakukannya. Bahkan, sebagaimana bisa dibaca dalam kutipan e-mail di bawah nanti, ada salah seorang direksi PLN yang di tempat lamanya dulu, di sebuah unit PLN, kerasnya melebihi saya. Di samping ada juga yang lucunya sangat mengabunawas. Yakni, seorang direktur yang aslinya Surabaya dan memang alumnus ITS.

Maka, untuk meneruskan berkah Ramadan itu, ketentuan ini mulai berlaku di PLN sejak hari pertama masuk kerja pasca-Lebaran. SK direksinya sudah diterbitkan awal September lalu. Sebetulnya saya malu. Mengeluarkan ketentuan begini saja kok menghabiskan masa jabatan hampir delapan bulan. Kesannya seperti pimpinan yang tidak tegas.

Perusahaan-perusahaan maju di seluruh dunia sudah lama menerapkannya. Kalau tidak segera dibuat, kesannya, di bidang ini pun PLN ketinggalan jauh. Untung ada e-mail berikut ini. Bisa menjadi pemicu awal ketentuan baru ini:

.::..::.

Bulan Ramadhan memang bulan penuh rahmat. Hikmah Ramadhan kali ini tak hanya membekaskan hikmah-hikmah spiritual, tapi juga yang lain. Setelah beberapa hari memasuki Ramadhan aku merasakan kelapangan tersendiri memasuki ruang kerja.
Ya, dada ini begitu lapang, lega, dan nyamaaaannn.

Tidak seperti hari-hari sebelum Ramadhan.
Semenjak kepindahanku ke PLN Pusat ini lima bulan yg lalu, dada begitu sesaknya. Bahkan sudah semenjak pagi buta, saat baru keluar dari pintu lift sekali pun.
>Bahkan terkadang aku malu saat punya tamu, dan mereka melihat kantor PLN-ku yang megah dan ber-AC tapi penuh dengan asap rokok.


Ya, di hari kelimabelas Ramadhan hikmah besar ini aku rasakan. Hilanglah sudah bekas-bekas asap rokok. Rupanya perlu 15 hari tersendiri untuk menghilangkan sisa-sisa asap rokok itu.
Dada menjadi begitu lapaaaang. Beraktivitas pun menjadi lebih bersemangat. Terasa sebuah kebersamaan hakiki: bekerja sehat adalah milik bersama.


Alhamdulillah.
Lalu.Adakah ini bisa berlanjut sesudah Ramadhan? Selamanya? Adakah bekerja sehat ini akan berhasil kembali menjadi milik kita?
Aku enggak tahu, apakah hanya aku yang enggak tahan dengan asap itu?


Aku engga tahu, apakah aku yang terlalu menuntut hakku agar udara kamar kerjaku bersih? Aku enggak tahu, apakah merokok di ruang AC memang sudah dibenarkan? (sesuatu yg tidak aku dapati di unit-unit yang telah kulalui).

Aku juga enggak tahu, apakah 'hanya' untuk bekerja sehat diperlukan SK DIREKSI?

Hehehe.

(Supriyadi M.S., risk infrastructure, divisi manajemen risiko)

***

Kang Supri, banyak orang menonjolkan ego dan urat sarafnya, hanya karena sebatang rokok. Kalau diingatkan bahwa merokok itu mengganggu kesehatan... banyak yang menjawab yang tidak merokok pun banyak yang mati duluan. Astaghfirullah.

Kalau orang luar negeri datang ke kantor kita, mereka merokoknya keluar gedung. Atau ke ruang khusus tempat merokok. Yakni saat rapat break 10-15 menit... kemudian balik dan lanjut kerja. PLN sudah lama punya buku COC (code of conduct, Red) dan sudah naik cetak edisi yang baru. Tapi kayaknya hanya akan menjadi etalase berikutnya kalau tidak diimplementasikan.

Hanya waktu yang akan menjawab... apakah PLN bangkit... atau sebaliknya. Ini hampir terjadi di seluruh PLN. Lebih gawat lagi mereka juga masih merokok di kamar kecil alias WC. Maaf ini hanya mengungkapkan ketidakberdayaan saya melihat kondisi ini. Semoga masih ada waktu untuk menikmati hari-hari kerja TANPA ASAP ROKOK di luar bulan Ramadhan. (Tri Prantoro, perencanaan korporat PT PLN).

***

Kok sama ya. Ini juga kegelisahan saya. Saya pernah masuk ke salah satu ruang Kadiv (kepala divisi). Uh! Bau asap rokok. Yang juga berat adalah: banyaknya puntung rokok di sekitar kita. Saya sudah minta bagian umum untuk mengadakan pos penerimaan puntung rokok setelah Lebaran nanti. Dengan imbalan Rp 1.000/puntung.

Kalau memang aspirasi untuk sehat dari para karyawan sedemikian kuatnya, ok. Go! Kita tingkatkan upaya melarang merokok di ruang kerja ini. Yang masih melakukannya kita minta memilih: pilih tetap merokok di ruang kerja atau meninggalkan jabatannya! Setelah Lebaran mulai kita berlakukan.

(Dahlan Iskan).

***

Luar biasa... Dirut seperti ini yang kita harapkan... yang mampu menyehatkan karyawannya. Kegelisahan kawan-kawan semua ini sebenarnya juga dirasakan oleh sebagian besar kaum perempuan. Hanya, umumnya tidak mau protes. Tapi, dari beberapa kali saya komunikasi dengan pegawai/outsourcing wanita di PLN, sebenarnya mereka juga keberatan. Hanya tidak mau ribut saja. Pilih diam.

Sebenarnya sudah ada peraturan tentang hal ini yang bisa dijadikan pedoman termasuk sanksi-sanksinya. Hanya, masalahnya apakah pimpinan kita secara kolektif mau menjalankan apa tidak. Sudah terlalu banyak aturan di negeri ini... tapi yang kita harapkan sebenarnya pada tataran pelaksanaannya.

Kalau kita perhatikan Perda dan Pergub DKI, yang punya kewajiban menegakkannya bukan hanya perokok, tapi juga pimpinan perusahaan dan pegawai secara umum. Pasal-pasal dalam perda tersebut tidak dimuat di sini. Intinya, perokok di dalam ruangan kerja bisa dimasukkan penjara. (Endro Yulianto).

***

From: Manu Sukendro.
Jika seorang tukang ojek merokok sehari 1 bungkus, maka sebulan telah membakar tembakau Rp 300.000. Setahun Rp 3.600.000. Dalam 10 tahun Rp 36.000.000. Padahal, jika uang sebesar Rp 10.000 dishadaqahkan, Allah menggantinya sebesar 10x, atau sebesar 700x, atau tak terhingga tergantung keridhaan-Nya. Tergantung tingkat keimanan dan ketaqwaan seseorang.

Katakan balasan dari Allah sebesar 700x, seorang tukang ojek yang mau bershadaqah setiap hari (hadist shahih mengatakan bershadaqah wajib setiap hari), maka Allah akan memberikan ganjarannya per hari Rp 10.000 x 700 = Rp 7.000.000, sebulan Rp 210.000.000, setahun Rp 2.520.000.000, atau 10 tahun Rp 25.200.000.000.000.

Balasan rizki dari Allah bisa berupa harta yang mendatangkan keberkahan, istri, anak-anak yang saleh dan saleha, shadaqah dapat memadamkan panas kubur, shadaqah dapat menjadi naungan di Padang Mashar, dll. (Muh. Manu S.)


***

Terima kasih pencerahannya. Mari kita sama-sama menyesuaikan diri dengan aturan yang ada, dengan niat ibadah. (Iskandar, divisi perbendaharaan).

***

Aku pernah ikut seminar di Gedung Serbaguna di Pusdiklat PLN di Ragunan, a few years ago. Tiba-tiba Pak Nur Pamudji (sekarang menjabat direktur energi primer PLN) dengan gagahnya mengambil mic dan berkata: ''Karena ruangan seminar ini ber-AC, mohon peserta seminar yang merokok di ruangan ini diminta keluar oleh panitia'' (demikian kira2 kalimat yg saya ingat). Bahkan, ada yg cerita ke saya bahwa beliau mencabut rokok dari mulut seseorang yg sedang merokok di dalam ruangan Jawa Bali Control Center di Gandul. (Helmi Najamuddin).

***

Pak Eddy (direktur SDM), setelah saya mengamati aspirasi karyawan yang beredar di e-mail mereka, saya ikut menanggapi: Lain kali ruang Kadiv jangan diberi pintu, agar mereka jangan menutup pintu dengan alasan untuk merokok! Dalam e-mail itu saya kemukakan bahwa siapa yang merokok di ruang kerja akan kita suruh memilih: merokok atau berhenti dari jabatan/status karyawan. Mohon disiapkan SK, dengan sanksi yang benar-benar kita tegakkan (saya sendiri bersedia jadi polisi). (Dahlan Iskan).

***

Besok saya akan mulai menyiapkan aturan tersebut lengkap dengan sanksi disiplinnya, begitu pula prosedur pengendalian & penegakan GCG (termasuk pembuatan/pengelolaan situs whistle blower). (Eddy Erningpramaja, direktur SDM)

***

Aku sedih... manakala ingatanku kembali pada dua orang bulik/tanteku, orang2 yang aku dekat dengan mereka... Mereka sakit, mereka berbulan-bulan batuk, mereka sesak napas, menderita... Mereka terkena kanker paru2, dan akhirnya mereka tidak kuat...

Mereka bukan perokok, mereka setiap hari... dipaksa menghirup asap rokok. Orang bilang... mereka perokok pasif. Bulikku yang satu terpaksa kerja di satu ruangan... di kantornya... yang isinya orang-orang yang.... semuanya perokok.

Bulikku yang satunya lagi, suaminya perokok berat. Dia habiskan waktunya... bercengkerama, makan, tidur dengan suaminya yang tidak pernah lepas dari rokok... Aku pikir.... mereka ini, bulik-bulikku, sejatinya para korban orang-orang yang kurang peduli...

Duh Gusti... ampunilah dosa2 bulik-bulikku itu... Juga, limpahkan kasih-MU bagi yang lain, yang tidak berdaya, para korban perokok. Duh Gusti... berilah petunjuk kepada orang-orang yang kurang peduli itu...

Duh Gusti... terima kasih dan puji syukur... aku haturkan. Nyatanya... Engkau telah berikan kekuatan padaku dan kawan2ku untuk jadikan bilik, lorong, selasar, dan ruang-ruang majelis tempatku bekerja... terbebas dari kurang peduli. (Murtaqi Syamsuddin, direktur bisnis dan manajemen risiko)


***

Saya sudah merokok sejak kelas 5 SD. Maklum anak kolong. Puncaknya waktu tugas di Aceh Tengah selama 4 tahun, 96-99. Maklum udara sangat dingin dan tiap hari stres krn GAM. Bisa 3 bungkus sehari! Kretek lagi. Saya 3x usaha berhenti. Kali pertama dan kedua berhenti dgn niat krn batuk dan nggak enak badan... gagal total karena 6 bulan kemudian krn badan mantap terus merokok lagi.

Kali ketiga berhenti tahun 2005. Alasan? Nggak ada. Berhenti saja. Sukses sampai hari ini. Supaya terus sukses saya mendukung 100% larangan merokok. Nggak usah bikin ruangan khusus merokok atau apa pun. Nggak ada gunanya. Di bandara gagal! Nggak usah pake alasan kesehatan atau ditakut-takuti pake gambar tengkorak segala, percuma! Pokoknya tidak boleh saja. (Nasri Sebayang, direktur perencanaan dan teknologi)


***

Waktu saya Kabag Operasi di Control Center Gandul tahun 2000, saya berlakukan larangan merokok di Gedung Operasi Gandul. Alasannya: ''Bahaya Kebakaran'' (habis gimana, pangkat cuma kepala bagian, di atas masih ada kepala dinas dan kepala divisi di gedung yang sama, jadi musti cari alasan yang kuat).

Alasan yang sebenarnya adalah saya tidak mau jadi perokok pasif seperti buliknya Pak Murtaqi. Sebab, di Gandul, asap rokok beredar melalui saluran AC sentral. Larangan ini mendapat dukungan luas, sampai kepala divisi pun (Pak Gultom) yang berkantor di gedung itu nggak berani melanggar (Pak Gultom alumnus Inggris, jadi paham benar soal sopan santun merokok). Mereka yang melanggar, saya cabut rokoknya dari mulutnya, nggak peduli atasan atau bawahan (saya dulu dijuluki ''Madura'' karena galak banget soal rokok ini).

Tahun 2005, GM P3B JB (Muljo Adji) mengeluarkan larangan merokok di semua gedung P3B JB dan masih berlaku sampai sekarang. Kalau Dirut mengeluarkan larangan merokok itu, dukungan akan datang dari 99,999% pegawai PLN. Karena sesungguhnya yang merokok ini sedikit sekali, tapi mereka mendominasi, seolah-olah itu kebebasan mereka. Next turn, larangan merokok harus masuk surat pernyataan ketika rekruitmen dan perjanjian kerja bersama. Setuju dengan Pak Nasri, nggak usah dibuatkan tempat merokok. Pokoknya DILARANG. Titik. (Nur Pamudji)

***

Wah... aku setuju 1000%. Bagiku, mending bau kentut daripada bau rokok. Kentut gak jelas pelakunya dan gak bisa dilarang... Kalo perokok, pelakunya jelas... Larang aja! (Bagiyo, direktur pengadaan strategis).

***

Bismillah! Ramadan kali ini kita kenang sebagai bulan pemicu larangan merokok di ruang kerja di seluruh PLN!

Mohon maaf lahir batin. (*)

*Dahlan Iskan, CEO PLN (eks pimpinan Jawa Pos)

.::.
*diambil dari: jawapos.co.id (edisi Senin 20/09/10)
*judul asli: Dahlan Iskan: Soal Sepele dengan Pertaruhan Jabatan

.::.

Monday, 20 September 2010

Biarkan Sopir & Penumpang Ngebul, Trayek Angkot Terancam Dicabut

Jakarta - Pengelola angkutan umum yang tidak memperhatikan larangan merokok di angkutan umum akan dicabut izin trayeknya. Stiker berisi ancaman pencabutan trayek ini bakal ditempel di angkutan umum.

"Itu dilakukan untuk memberikan efek jera agar pengelola angkutan umum lebih memperhatikan masalah pelanggaran kawasan dilarang merokok (KDM) agar pelanggaran di angkutan umum baik oleh sopir maupun penumpang berkurang," kata Kepala Seksi Angkutan Orang dalam Trayek Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo.

Hal ini disampaikan Syafrin usai acara launching hasil survei penegakan kawasan dilarang merokok di angkutan umum di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (21/7/2010).

Menurut dia, sanksi ini diterapkan agar sopir tidak kebal-kebul sembarangan dan berani melarang penumpangnya untuk tidak merokok karena akan mengancam izin trayeknya.

Kepala Bidang Organisasi Organda, Gemilang Tarigan, menambahkan pihaknya akan membuat stiker yang ditempel di angkutan umum. Dalam stiker itu akan lebih ditonjolkan soal pencabutan izin trayek.

"Saya rasa itu akan efektif diterapkan," ujar Gemilang.(aan/nrl)| Detiknews

.::.

Sunday, 19 September 2010

Saling Mencintai

أنَّ اللهَ يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةَ أيْنَ الْمُتَحَابُّوْنَ بِجَلاَلِيْ الْيَوْمَ أظَلَّهُمْ فِيْ ظِلِّيْ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إلاَّ ظِلِّيْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)

Thursday, 16 September 2010

Agus Martowardojo Keberatan Zakat Jadi Pengurang Pajak

Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan keberatannya mengenai usulan zakat sebagai salah satu unsur pengurang perhitungan pendapatan kena pajak.

“Kalau yang sekarang ini dikaitkan dengan misalnya zakat dipakai sebagai dasar untuk pengurang pajak, itu kita berkeberatan untuk hal itu,” tegasnya saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (16/9/2010).

Agus Marto menyatakan pihaknya tetap akan memberikan insentif pajak untuk menarik minat pengusaha walaupun mengabaikan usulan tersebut.

“Bentuk-bentuk yang lainnya yaitu insentif agar masyarakat mempunyai minat yang tinggi dalam berusaha karena beberapa kegiatannya bisa dimasukkan sebagai faktor pengurang pajak, tentu kita akan kaji. Tapi kalau yang terkait dengan zakat itu kita rasa itu tidak tepat sebagai suatu dasar untuk pengurang pajak,” jelasnya.

Menanggapi permintaan pengusaha untuk kejelasan aturan tersebut, Agus Marto menyatakan hal ini masih bersifat kasus per kasus, belum secara keselurahan.

“Saya rasa sudah ada (aturan mengenai zakat), tapi sifatnya masih case by case. Kita belum buka tentang apakah kalau melakukan CSR atau amal sebagai faktor pengurang pajak. Itu masih dalam kajian, dan kita belum merespons soal itu. Tapi case by case kita bisa setujui karena sifatnya case by case,” jelasnya. (nia/dnl/detikfinance)
.::.

Thursday, 19 August 2010

Ramadhan Bulan Kemerdekaan

17 Agustus 1945 adalah merupakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang kita cintai. Dan pada hari ini bertepatan pada peringatan yang ke 65 tahun.
Tak terbantahkan dalam Sejarah bahwa Proklamasi yang dibacakan oleh Sukarno pada 17 Agustus tahun 45 itu, berbarengan di bulan Ramadhan di mana seluruh umat muslim sedang melaksanakan ibadah puasa.

Jumat tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah, Soekarno dan Hatta, memproklamasikan negara Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Pagi itu di Depan rumah Soekarno, di Jalan Pe-gangsaan Timur 56. Suasana cukup sibuk dan menegangkan, dibawah bayang bayang otoriter jepang saat itu. Rakyat bersama Para tokoh bangsa dan para pejuang yang tua maupun yang para pemuda telah berkumpul, hanya dengan tiang bambu dan bendera merah putih jahitan ibu Fatmawati yang tidak setandar ukurannya.

Dengan Rahmat Allah, akhirnya pernyataan kemerdekaan itu berhasil di-Proklamirkan oleh Soekarno – Hatta dengan diiringi rasa haru dan pekikan Merdeka dan kalimat TAKBIR: Allahu Akbar!!!. Sungguh Allah Maha Besar.

Pertanyaannya adalah? Kenapa bisa bertepatan di bulan Ramadhan? Tentu tidak ada yang kebetulan atas izin Allah SWT.
Kemerdekan bangsa kita yang direbut dan didukung penuh oleh mayoritas umat muslim dan ulama-ulama tentunya bukan hal yang kebetulan karena mereka memahami bahwa ramadhan bukanlah bulan yang biasa saja.
Mereka memahami bahwa ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat dan pengampunan dari Alloh SWT.
Dan mereka paham betul bahwa Ramadhan adalah “Syahrul Jihad” bulan perjuangan dan pengorbanan.
Perjuangan dan pengorbanan untuk agama, ketaatan dan pembebasan dari kekufuran dan kedholiman kaum penjajah.
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui”. (Q.S. At-Taubah: 41)

Firman Alloh tersebut termaktub dalam surat At-Taubah:41, dan mereka para mujahid dan perang kemerdekaan itu sangat memahaminya ayat tersebut.

Dan barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. *QS. Al Ankabut: 6)

Karena itu mereka tidak mau kemerdekaan hanya diberikan sebagai ‘hadiah’ sebagaimana yang dijanjikan oleh Jepang. Kemerdekaan harus diperjuangakan, harus direbut sampai titik darah penghabisan “Merdeka atau Mati”.

Bukankah islam menentang penjajahan, kezholiman, kekufuran, perbudakan dan penindasan.

Mereka tahu dan paham benar bahwa Ramadhan bukan tempat istirahat dan bersantai santai...
Ramadhan bukan waktu untuk bermalas-malasan… karena puasa mengajari kita ketaatan untuk jujur, lebih produktif, disiplin, dan meningkatkan amal ibadah kita.
Ramadhan tidak mengakomodasi sifat kemalasan… Karena selain Shiam kita diperintah oleh Allah untuk Qiyam, yaitu berdiri, bangun malam, sholat, beribadah dan menggenjot,,,, tancap gas! aktifitas amal sholihah kita.

Sekali kali bukanlah kebetulan di sisi Allah, dalam sirah nabi dan para sahabat banyak kisah-kisah heroik, kisah jihad dan perjuangan yang berlangsung di bulan Ramadhan.

Perang besar pertama yang dialami oleh Rasulullah adalah perang Badar…
Perang Badar jatuh pada 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah… dan ini adalah kemenangan besar dalam sejarah Rasulullah. 300 kaum muslim yang sedang berpuasa, dengan fasilitas terbatas hanya 2 ekor kuda melawan lebih dari 3 kali lipat jumlah kaum musyrikin quraish yang 1.000 orang.
Ketika itu Rasulullah berdo’a:
اللَّهُمَّ إِنَّ هَذِهِ قُرَيْشٌ قَدْ جَاءَتْ بِخَيْلِهَا وَخُيَلاَئِهَا تَرْجُوْ نَبِيَّكَ، اللَّهُمَّ أَنْجِزْ وَعْدَكَ فِي قُرَيْشٍ، اللَّهُمَّ إْنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ فَلَنْ تُعْبَدَ فِي اْلأَرْضِ أَبَدًا
Ya Allah, orang Quraisy telah datang dengan pasukan mereka dan juga dengan kesombongan mereka. Mereka berharap bisa menghabisi nabiMu, Ya Allah penuhilah janjiMu terhadap Quraisy. Ya Allah, jika kelompok ini kalah maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini selamanya

Dengan penuh mu’jizat Allah memenangkan kaum muslim di atas kaum kafir…

قَدْ كَانَ لَكُمْ آَيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
Sesungguhnya Telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang Telah bertemu (bertempur). segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran:13)

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)

Beberapa peristiwa besar di bulan Ramadhan yang lain adalah Fathul Makkah di Ramadhan 8H, Pembebasan Spanyol oleh Tariq bin Ziyad di Ramadhan 92H, Pembebasan Palestina oleh Salahuddin Al-Ayyubi di Ramadhan 584H, Dan banyak lagi kisah heroik, perjuangan dan kemenangan umat Islam di bulan Ramadhan.

Kemudian: Jihad apa yang kita lakukan saat ini?
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda;

أَمَّا رَأْسُ الأَمْرِ فَالإِسْلاَمُ فَمَنْ أَسْلَمَ سَلِمَ وَأَمَّا عَمُودُهُ فَالصَّلاَةُ وَأَمَّا ذُرْوَةُ سَنَامِهِ فَالْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ
Adapun Pokok persoalannya adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fi sabilllah (HR Ahmad)

Berbagai macam jihad, dari jihad nafs, jihad amar ma’ruf nahi munkar, hingga jihad kuffar dengan senjata semuanya telah disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di bulan Ramadlan ini. Dengan demikian, secara umum, bulan ini bisa dinamakan juga dengan bulan jihad, bulan pembebasan dan bulan KEMERDAKAAN.

(Oleh Alim Mahdi, Disampaikan pada Ceramah Ramadhan di Masjid Annur Denpasar, 7 Ramadhan 1431/17 Agustus 2010).

Wednesday, 30 June 2010

Suprio Guntoro: Dari Bali Memandirikan Petani

Kiat Guntoro Mandirikan Petani

Berawal dari tekad mencegah kepunahan kambing gembrong (termasuk ”Capra aegragrus”), Suprio Guntoro berhasil membuka cakrawala tentang metode peternakan dan pertanian yang lestari. Hasil penelitiannya tentang probiotik hewan ruminansia atau memamah biak telah memberdayakan sekaligus menjadi tumpuan ribuan peternak dan petani di Bali, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara.

Bali menyajikan fenomena subtil sekaligus ironis. Di satu sisi pariwisata diagungkan meski secara fisik mengorbankan sebagian alamnya. Lahan subur pertanian disesaki hotel dan vila. Kaum muda tenggelam dalam bisnis pariwisata, meninggalkan pertanian.

Di sisi lain muncul pribadi dan kelompok yang percaya pertanian lestari adalah sumber dan daya hidup yang sesungguhnya menunjang pariwisata, selain religi dan budayanya. Dalam kerangka itulah Guntoro, panggilannya, memberi warna.

Di Kecamatan Busung Biu, Buleleng, gerakan pertanian integratif atau organik menjadi penegas fenomena itu. Ribuan hektar kebun kopi tumbuh subur dengan hasil melimpah, bersamaan dengan hasil ternak berbagai jenis kambing dan turunannya, seperti susu, keripik susu, hingga produk wine salak bali. Sarjana atau warga setempat yang mengadu nasib ke Denpasar sebagai tukang kebun hotel mewah pun kembali ke kampung. Mereka ikut mengembangkan pertanian di desa.

”Waktu harga kopi jatuh, tanaman kopi sempat akan diganti tanaman semusim. Itu jelas berbahaya dari sisi lingkungan karena kecamatan itu di dataran tinggi yang rawan longsor. Kami lalu kenalkan mereka dengan peternakan kambing yang pakannya antara lain dari kebun kopi,” katanya.

Pengembangan pertanian integratif di Busung Biu bisa pesat karena sentuhan teknologi yang dimotori Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali lewat program Prima Tani. Di lembaga itulah Guntoro menjadi penelitinya.

Di Busung Biu, BPTP antara lain menciptakan mesin pengupas kulit kopi dan kacang, membantu proses pembuatan pupuk cair dari kencing sapi dan kambing, serta cairan probiotik yang dicampur pakan aneka hewan ruminansia sehingga bobot tubuh hewan naik optimal.

Ketika berhasil diterapkan, daerah binaan diperluas. Di Busung Biu, misalnya, ada lima desa dengan puluhan kelompok petani yang menerapkan pertanian integratif. BPTP Bali sekaligus memfasilitasi petani dan kelompok petani daerah lain di Indonesia untuk belajar sistem pertanian ini di Busung Biu.

Gerakan itu menyebar ke beberapa daerah lain di Bali, seperti Sukasada dan Gerokgak di Kabupaten Buleleng, Pupuan (Tabanan), Petang (Badung), Kintamani dan Susut (Bangli), serta Rendang (Karangasem), dengan cakupan areal ribuan hektar.

Ujung timur Bali

Penelitian Guntoro perihal probiotik ruminansia bermula dari pengalamannya di ujung timur Bali, Kabupaten Karangasem. Ia menyurvei desa-desa di Kabupaten Karangasem, habitat asli kambing gembrong, pada 1998. Hasilnya, kambing gembrong tinggal 64 ekor. Ini memprihatinkan. Kambing gembrong harus diselamatkan.

Dengan dana bantuan Yayasan Kehati, BPTP mengembangbiakkan 25 ekor di antaranya dengan sistem gaduh di kalangan petani- nelayan. ”Program itu kurang berhasil, terbentur kondisi perekonomian warga yang rata-rata petani-nelayan. Sejumlah kambing dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup warga,” ujarnya.

Guntoro melihat kambing itu cenderung kurus karena kurang pakan. Hampir tak mungkin memberi makan kambing dengan konsentrat yang dibeli di pasaran. Ia lalu berpikir untuk menghasilkan konsentrat buatan sendiri dengan probiotik hewan ruminansia.

Probiotik itu diisolasi dari rumen (lambung depan) sapi bali. Eksperimen dimulai tahun 2001 dan disempurnakan pada 2004. Selain menggunakan laboratorium di BPTP Bali, ia pun memakai Laboratorium Universitas Udayana sebagai tempat penelitian.

Salah satu hasil penelitian Guntoro yang sudah memperoleh hak paten Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, adalah proses pembuatan tepung sampah dan komposisi pakan untuk menggemukkan ternak ruminansia.

Bersama lima rekan di BPTP Bali, penelitian Guntoro perihal instalasi biogas, biourine, dan biokultur masuk dalam buku 100 Inovasi Badan Litbang Pertanian 2008. Penelitian itu menjelaskan proses pengolahan aneka limbah ternak, seperti urine ternak yang diolah untuk pupuk, gas untuk memasak dan penerangan, dan sludge (limbah biogas) berbentuk pasta menjadi biokultur.

Ia juga mengembangkan teknologi produksi trichoderma (sejenis jamur tanah) cair. Fermentasi trichoderma digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak, dan pengendalian penyakit (biopestisida), terutama pada tanaman perkebunan seperti mete dan kakao.

Hasil penelitian Guntoro lainnya, cairan probiotik Bio-CAS. Bio-CAS merupakan singkatan dari bio curcumae alicin scordinin. Probiotik itu mempercepat pertumbuhan, menjaga kesehatan, dan menghilangkan bau kotoran ternak. Cairan ini juga meningkatkan bobot lahir anak sapi pada sapi betina bunting.

Umumnya bobot sapi bali lahir sekitar 16 kilogram. Dengan konsumsi Bio-CAS, bobotnya naik menjadi 18-19 kg. Probiotik digunakan sedikitnya oleh 1.500 peternak sapi di Jember (Jawa Timur), Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

Bagi Guntoro, pengalaman dengan kambing gembrong itu amat membekas. Ia jadi tahu ternyata uang peternak habis untuk pakan. Maka pilihannya berujung pada dua cara: membuat pakan murah atau mengefisienkan penggunaan pakan. Di Bali, bahan pakan terbatas, demikian pula pabriknya. Maka, efisiensi pakan menjadi pilihan. Ia lalu mengoptimalisasi mikroba di pencernaan hewan ruminansia untuk membuat aneka asupan pakan ternak.

”Saya melakukan ini karena prihatin pada praktik kapitalisasi pertanian. Sebaiknya peneliti tak hanya kaya metodologi, tapi juga ideologi. Bagaimana kekuatan peneliti melawan kapitalisasi pertanian, demi rakyat kecil. Teknologi adalah alat tawar agar kita tidak terkapitalisasi. (Oleh Benny Dwi Koestanto)

Sumber: Kompas
.::.

Sunday, 27 June 2010

Otak-Otak Bandeng Plus Sambel Bajak

Sungguh menakjubkan memang hasil kerja team work kami bertiga (Ibu, istri dan saya sendiri). Dengan sentuhan chef istri tercinta (Novi Tri Rahmasari) dan Ibu (Kholifah) sekaligus pembuat formula resep asli perpaduan racikan bumbu Mojokerto dan Lamongan, saya bagian memisahkan durinya..he..he..he. Akhirnya otak-otak bandeng sukses dibuat dengan hasil menakjubkan, Nikmat dan Sehat.

Nikmat dengan rasa dan aroma daging bandeng dan rasa bumbu rempah-rempah yang sungguh menggoda. Dan sehat karena diolah dari bumbu-bumbu asli tradisional tanpa MSG/penyedap buatan dan bahan pengawet. Plus sambel bajak khas Mojokerto sebagai pelengkap hidangan otak-otak bandeng yang makyusss….

Tidak disangka banyak pesanan, antar-antar….. siapa pesan lagi!....

.::.
Ilustrasi gambar dari sini.
.::.

Saturday, 5 June 2010

KISAH: Kekayaan, Kesuksesan dan Cinta

KISAH TIGA ORANG BERJANGGUT

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata, "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut. Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang ? "Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar. "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini. Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam".

"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan. "Lho, kenapa ?" tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, "Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu?"

Wanita itu kembali masuk ke dalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminyapun merasa heran. "Ohho ... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan. "Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen kebun kita."

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam ? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta."Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita."

Wanita itu kembali keluar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Cinta ? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini. "Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho .. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan " Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?"

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemanapun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta."

"Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."**

.::dari banyak sumber::.

Thursday, 3 June 2010

Gaza Tidak Membutuhkan Aku

Ini tulisan dari mbak Santi Soekanto, wartawati senior, istri mas Dzikrullah. Wisnu Ramudya (wartawan juga) yang keduanya ikut dalam rombongan kapal Mavi Marvara. Tulisan ini dibuat hari Sabtu, 29 Mei 2010. Isinya sangat menggugah. Semoga bermanfaat!

GAZA TIDAK MEMBUTUHKANMU !
Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza. Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.

Activism
Ada begitu banyak activism, heroism…. Bahkan ada seorang peserta kafilah yang mengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala. Yang wartawan sering merasa hebat dan *powerful* karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza. Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.

Mengerem
Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka. Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

Gaza Tak Butuh Aku
Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku. Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagi-Nya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agama-Nya.

Menolong membebaskan Al-Quds. Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha…Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza! Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.

Cara Allah Mengingatkan
Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku. Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku. Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung- jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.

Masih ndableg… Kucoba lagi menyiram… Masih ndableg. Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…
Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush.Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet…Blus! Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj’alni minat tawwabiin…

Allahumaj’alni minal mutatahirin…

Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…
.::.
Sumber: al-ikhwan.net