Saturday 2 February 2008

Dari ZISWAF kita bangun Bali

Sebuah fakta terhampar di depan mata. Setiap jum'at berulang-ulang. Saya lebih sering menunaikan shalat jum'at di Masjid An Nur, salah satu masjid besar di Bali yang letaknya di bilangan jalan Diponegoro, dekat dengan kantor saya. Orang-orang berpakaian lusuh itu datang sebelum jamaah jum'at banyak berdatangan ke masjid. Duduk-duduk di trotoar yang menyatu dengan emperan masjid. Tangan mereka mengatung, memohon simpati, memelas. Mirisnya, saat adzan berkumandang dan sholat jum'at ditunaikan mereka tidak sholat. Aneh?Aneh? Benar. Karena ternyata mereka orang asli Bali yang kebetulan miskin!

Fenomena ini terang saja mengecohkan saya, mungkin juga Anda. Secara fisik, tak ada bedanya dengan mereka pendatang dari Jawa atau masyarakat Bali yang berasal dari Karangasem, Klungkung, Gianyar, atau Buleleng. Sebab pada prinsipnya mereka tampilannya sama, melas dan kumuh.
Saya mencoba mencari tahu tentang pengimis lokal ini. Mendatangi beberapa masjid dan tempat yang sering dijadikan pangkalan. Bahkan juga tanpa disengaja ketika saya makan Tahu Telor bersama istri di pedagang kaki lima di Sanglah, mereka sering mendatangi saya, lalu meminta belas kasihan. Pernah seorang anak kecil menghampiri saya, tanpa berucap lalu menarik-narik baju saya seraya menengadahkan tangan. Sebelum memberi beberapa recehan, saya tanya, ”Ibunya mana?” ”Sana..” (disana sambil menujuk tempat yang di maksud), jawabnya. ”Namanya siapa?” lanjut saya. ”Ayu.” ujarnya. ”Dari mana?” ”Bangli”. Selanjutnya saya tidak bertanya lagi. Cuma berpesan kepada Ayu, agar jangan mau disuruh ibunya begitu lagi.
Realistis, bahwa kemiskinan di Bali sampai saat ini belum banyak tertangani. Bukan yang berasal dari masyarakat pendatang, tapi justru dari masyarakat Bali sendiri. Selama para mereka itu masih berkeliaran di masjid-masjid, mendatangi orang per orang, maka penyakit sosial ini masih tetap ada dan harus diberantas.Disinilah urgensinya, kepedulian kita tertantang, berfikir bagaimana caranya kita bisa membangun Bali. Sekaligus menciptakan posisi tawar keberadaan umat Islam di Bali. Tidak lagi sekedar ngontrak rumah, lalu 'mengeksploitasi' sumber daya Bali, tapi terlibat aktif bersama, menjadi komponen masyarakat Bali membangun Bali: mengentaskan kemiskinan, membangun sarana atau fasilitas umum, menciptakan stabilitas keamanan, menciptakan iklim investasi yang kondusif, dan lain-lain. Kita punya potensi sumber dana yang besar dari dana ZISWAF. Jika kita bisa menunaikannya sebagaimana seharusnya, maka mudah bagi kita untuk membangun Bali, lewat program-program yang bernilai pemberdayaan dan penyejahteraan. Kontribusi umat Islam menjadi riil. Eksistensi diakui secara de facto dari sisi jumlah dan kontribusi. Kepercayaan orang Bali terhadap umat Islam meningkat. Sungguh luar biasa. Jadi, mari kita menjadi komponen Bali, membangun Bali. Menghilangkan atau paling tidak mengurangi kemiskinan masyarakat Bali. Wallahu'alam.
Kunjungi juga:
Oleh-oleh dari Silaknas Budugul - Bali
Sisi Lain Pulau Bali
Rp. 51 milyar, Potensi Zakat di Bali
Bali: Potret Kemiskinan dan Potensi Zakat
CSR: Peluang yang dianggap Beban
Catatan dari Silaknas DD di Bali
VISI ZAKAT: Merubah Mustahik menjadi Muzakki

1 komentar:

  1. jika zizwaf mampu dikelola dengan profesional dan mendapat 'tempat' di masyarakat, maka jangankan bali, nusantara pun mampu tersejahterakan. pertanyaannya masih banyak diantara kita yang belum sadar ato pura2 tidak sadar.
    jangan terkecoh. pengemis model spt itu (biasanya) sudah terorganisir dengan rapi. tapi jika ikhlas tetap pahala akan mengaliri pundi amal anda. insya allah.

    ReplyDelete

Alim Mahdi adalah Founder www.mastersop.com

Konsultan SOP dan Penggagas "GERAKAN PENGUSAHA SADAR SOP"